Balada Bapak Bungkusan

Tangannya memegang erat tongkat yang ditimpakan di pundaknya. Di ujungnya, beragam barang dimasukkan dalam satu bungkusan, mulai perkakas rumah tangga hingga gulungan kain sarung. Dia menyusuri gelapnya jalanan desa dan lorong-lorong sempit perkotaan. Orang-orang mengenalnya sebagai Aba Al Banakis atau Bapak Bungkusan, pencoba keberuntungan di tiap ketukan pintu.

Metode penjualan door to door telah dikenal para pedagang Arab, ketika pedagang Cina lebih mengutamakan toko kelontong mereka, meski keduanya tetap menjadi “tangan kedua” dalam perdagangan, artinya mereka membeli barang dalam jumlah besar dan menjualnya secara mengecer. Biasanya pedagang-pedagang ini juga memberikan kredit dengan tempo waktu tertentu bagi pelanggan yang membutuhkan barang namun tak memiliki cukup uang.

Ketika pundi-pundi kekayaan mereka mulai terkumpul, biasanya mereka menjadikannya modal untuk berinvestasi dalam bentuk tanah dan bangunan, sedang sebagian lebih suka untuk meminjamkannya sebagai modal untuk perdagangan Cina dan pribumi. Yang pasti, mereka menolak untuk bermain saham.

Dapat dikatakan bahwa komunitas ini merupakan pesaing kuat golongan Cina dalam menguasai pasar apapun, meski pada awal kedatangannya mereka lebih banyak berdagang rempah dan persewaan properti, namun seiring waktu banyak pula orang-orang Arab yang menekuni bidang-bidang lainnya, terutama garmen dan meubel.

Awal abad ke-19 merupakan puncak perdagangan masyarakat Hadhrami di Nusantara, dimana mereka memiliki hubungan dagang dengan Maskat dan Mekkah. Di Pekalongan dan Palembang, mereka menyuplai untuk kelompok pedagang Cina. Di Padang dan Surabaya, masyarakat Eropa lebih memilih untuk berdagang dengan pedagang Arab karena biasanya tidak menyertakan bunga dalam kredit mereka.

Tak hanya menguasai pasar-pasar besar, wilayah perdagangan mereka bahkan menembus desa-desa hingga pernah mendapatkan larangan dari Pemerintah Kolonial bagi orang Arab untuk berdagang di pedesaan. Dikatakan bahwa nilai gedung milik orang Arab di wilayah jajahan Belanda pernah mencapai 11 juta Gulden. Dan beberapa orang Arab yang cukup kaya biasanya juga berinvestasi dalam bentuk kapal-kapal besar untuk disewakan.

Komoditi utama dalam perdagangan Arab selanjutnya adalah cita katun dan katun India yang diimpor dari Eropa. Komoditi lainnya yakni berlian dan batu permata lainnya. Komunitas ini pernah juga tercatat mencapai masa kejayaannya dalam roda perdagangan emas, perak, arloji, hingga cerutu. Meski demikian mereka menolak untuk berjualan anggur dan minuman beralkohol yang memang dilarang dalam Islam.

Kendati dikenal dengan semangat kerja keras dan kecerdasannya di lapangan, komunitas Hadhrami di masa lalu kurang mementingkan pendidikan formal bagi anak-anak mereka, sebagaimana dikatakan Natalie Mobini Kesheh, pengarang buku “Hadhrami Awakening”, pada awal kedatangan orang-orang Hadhrami ini kurang memaksa anak-anaknya bersekolah, tapi lebih menekankan pembelajaran mengenai bahasa Arab sebagai bahasa nenek moyang dengan tujuan agar kelak mereka tetap dapat bersilaturahmi dengan keluarga anggota mereka yang masih berada di Yaman.

Lemahnya budaya akademis tersebut akhirnya menciptakan problem kultural, dimana mereka menjadi lebih mudah menghakimi suatu masalah atau pola pikir tanpa mengerti persoalan tersebut dengan baik.

Beberapa generasi terakhir kondisi tersebut membaik. Telah banyak ditemui keturunan Arab yang cukup mengenyam jenjang pendidikan, bahkan bagi golongan perempuan yang sebelumnya sulit mendapatkan kucuran ilmu di sekolah. Kini telah banyak ditemui tokoh akademis dan intelektual yang berasal dari komunitas Arab di Nusantara.

Dalam budaya Arab, kekayaan dan harta dianggap tidaklah memberikan prestise apapun, demikian pula dengan pangkat dan gelar kehormatan, selama atribut-atribut tersebut tidaklah mampu memakmurkan masyarakat sekitar. Itulah mengapa jarang dijumpai orang-orang Arab, entah kaya atau miskin yang membelanjakan seluruh hartanya tanpa menabung, salah satu tradisi yang membuat orang-orang Arab pernah mengalami masa kejayaan properti.

Jarang pula ditemui para pendatang Arab asli melupakan sanak keluarga di tanah airnya ketika mereka mencapai kemakmuran di tanah perantauan. Apabila mereka tidak mampu mengirimkan sebagian hartanya, biasanya mereka tetap memberikan sesuatu untuk sarana publik seperti masjid atau sekolah. Bahkan beberapa orang mengirimkan bantuan dana untuk kelompok cendekiawan ataupun pengajar agama. Gagasan bahwa harta kekayaan sudah seharusnya dinikmati bersama dan memberikan manfaat kepada masyarakat telah mendarahdaging.

Menurut buku Orang Arab di Nusantara oleh LWC Van Den Berg, dulunya orang-orang Arab di Nusantara melakukan pengiriman uang ke sanak saudaranya di Hadhramaut sebesar 15.000 gulden dengan memanfaatkan kerabat atau teman yang melakukan perjalanan balik kesana meski kala itu badan pengiriman atau rumah dagang Eropa telah tersedia.

Disebutkan bahwa pemerintah kolonial akhirnya membatasi pergerakan dagang masyarakat Arab ke desa-desa karena perdagangan yang sukses juga digunakan untuk membangun desa tersebut, memberikan kekhawatiran bagi kolonial bahwa masyarakat disana akan lebih mudah digerakkan untuk gerakan perlawanan terhadap kolonial.

Pemenuhan prinsip akan zakat juga merupakan bukti lain bahwa pengelolaan harta orang-orang Arab bertujuan untuk kemakmuran bersama, terutama untuk pengembangan masyarakat. Dalam beberapa kasus, pemberian dana kepada masyarakat juga dilakukan untuk perdamaian, seperti urusan pertikaian atau pengadilan. Meski demikian, mereka biasanya menolak untuk membayar pajak yang diberlakukan pemerintah kolonial.

Ketika mereka menjadi kaya sekalipun, sedikit yang menampakkan diri sebagai si kaya, termasuk dalam hal berdandan atau membangun rumah. Juga mereka menolak untuk membuka buku soal sumbangan yang mereka lakukan, membuat mereka terkenal dengan citra pelit dan perhitungan.

Adil Albatati

Adil Albatati

A writing and music enthusiast, Adil has deep concern in picturing Arab descent's daily life as Indonesian human beside just their political or religious role in the nation. Adil involved in some projects along with international researchers, artists, and also government.