Barus, Rumah Pertama Hadharim Nusantara

Namanya Barus, mungkin lebih lazim terdengar seperti nama kapur ketimbang nama kota. Namun benar jika dikatakan bahwa dari sinilah Kapur Barus berasal.

Terletak di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatra Utara, Kota Barus adalah kota tertua di Nusantara dengan beragam pengaruh luar yang melebur. Pedagang India atau yang disebut Chettiar juga memasuki kawasan ini sebagaimana ditemukannya bukti prasasti berbahasa Tamil pada tahun 1088 Masehi berisi catatan mengenai perkumpulan Ayyavole (pedagang asal India Selatan) yang tinggal di Barus selama zaman Lobu Tua. Setelah masuknya kelompok Arab Muslim, para pedagang India ini akhirnya mengungsi ke pedalaman Alas dan Gayo (Kabupaten Aceh Tenggara), dan mendirikan Kampung Renun. Pada abad ke-12, secara aneh wilayah Lobu Tua ditinggalkan oleh penghuninya setelah adanya serangan dari kelompok Gergasi, yang hingga saat ini belum bisa diidentifikasi.

Penemuan-penemuan keramik berbahan batuan dan porselen juga menunjukkan bahwa kota ini dimasuki oleh pedagang Tionghoa, kemungkinan berasal dari abad ke-9 atau 10 Masehi. Dalam banyak catatan Tiongkok, ditemukan adanya nama Binsu yang diyakini sebagai Barus. Gubernur Yunani di Alexandria Mesir bernama Claudius Ptolomeus, pada abad ke-2 membuat peta perdagangan Barus dan menyebutnya dengan nama Barousai.

Namun pedagang Arab pra-Islam adalah yang pertamakali diketahui menjamah dan mendirikan pemukiman Arab di Barus sekitar tahun 627-643 M untuk berdagang kapur Barus yang kala itu dikatakan setara dengan emas. Kapur barus adalah salah satu bahan utama dalam pembuatan balsem mumi di Mesir pada masa Firaun Ramses II, atau 5000 SM. Seorang penyair Arab pra-Islam bernama Amru Al Qais bahkan sangat memuji keharuman “kafur” asal Barus dalam syair-syairnya. Dalam peradaban Arab, Barus dikenal dengan nama Fansur, merujuk pada nama Pancuran (sekarang Deli Serdang) sebagai lokasi pertama pendatang Arab menetap.

Bukti ini dikuatkan adanya tulisan Tiongkok yang menyatakan bahwa telah terdapat perkampungan Arab Islam di pesisir Sumatera, sekitar 9 tahun sejak Nabi Muhammad SAW berdakwah Islam secara terbuka. Hsin-Tang-shu (Catatan Dinasti Tang, 618 – 907) dan Chu-fan-Chi (Catatan Negeri-negeri Asing) karya Chau Ju-kua pada tahun 1225 banyak berkisah mengenai Ta-shi (orang Arab dalam istilah Tiongkok) yang memiliki nabi bernama Ma-ha-mat dan bersembahyang lima kali sehari dan berpuasa. Dinasti Ta-shi dikatakan terbagi dua, yakni Pon-ni-mo-huan, diartikan sebagai Arab Berbaju Putih (Bani Marwan atau Bani Umayyah) dan A-po-lo-pa atau Arab Berbaju Hitam (Abul-Abbas). Pada tahun 651 Masehi, seorang utusan bernama Ha-mi-mo-mi-ni, yang diyakini sebagai Amirul Mu’minin, dikirimkan ke istana Cina.

Uniknya, nama Barus juga muncul dalam kitab 1001 Malam yang dibuat pada abad ke-11, yakni dalam cerita pelaut Sinbad yang tiba di Barus dan menceritakan tempat tersebut dengan cukup baik:

Maka mereka (saudagar- saudagar)  bermalam di sebuah tempat yang indah- indah dan selamat, dan aku pun bermalam bersama mereka, dan hatiku terlalu senang sebab aku terbebas dari lembah ular lalu sampai di negeri (yang dihuni) manusia. Dan waktu hari sudah siang kami bangun dan berjalan di gunung yang besar itu dan melihat ular yang banyak. Dan kami berjalan sehingga sampai di sebuah taman dipulau yang besar dan indah, maka di taman itu tumbuh pohon-pohon kapur barus, dan setiap satu daripadanya dapat memberi tempat berteduh kepada seratus orang. Maka jika ada orang yang mau mendapat kapur barus, ia pun mengorek lubang di pucuk sebatang pohon dengan sebuah alat yang panjang, lalu mengumpulkan apa (butir-butir kristal) yang menetes dari lubang itu, lantas melelehlah air kapur barus dan mengental bagaikan perekat – beginilah air pohon kapur – dan kemudian pohon itu kering saja dan dipakai sebagai kayu api.

Meski tidak terlalu terpengaruh budaya Islam, namun jelas terlihat pengaruh budaya Arab di Barus, seperti cincin stempel (sigil) yang lazim ditemukan di dunia Arab atau Persia. Dalam ekskavasi di Lobu Tua, ditemukan ribuan pecahan tembikar khas Timur Tengah, lengkap dengan ukiran dan teknik penggambaran pola figuratif atau tulisan. Dalam penelitian lebih lanjut, diketahui bahwa masuknya pedagang Arab Muslim ke Barus secara massal terjadi dalam 2 periode: Pertengahan abad ke-9 dan awal abad 11 Masehi, terutama untuk tujuan penyebaran Islam. Seorang utusan Khulafaur Rasyidin bernama Syekh Ismail yang tengah menuju Samudra Pasai, singgah ke Barus.

Para pedagang dan tokoh agama ini kemungkinan berasal dari Fars di dekat Siraf atau Oman, atau juga Mesopotamia (Irak). Mereka juga diketahui berasal dari Mesir, sebagaimana ditemukan dalam arsip Geniza Mesir yang menyatakan bahwa seorang pedagang Yahudi asal Mesir memasuki wilayah Barus pada abad ke-13, dimana dia akhirnya meninggal. Meski berasal dari negara yang berbeda, namun kerajaan Batak tetap menyebutnya sebagai “Arab”, karena mereka terlihat memiliki postur dan kebudayaan yang mirip. Sedang seorang penjelajah Muslim asal Rumania bernama Syeikh Abu Salih al-Armini pernah mencatat mengenai masuknya Kristen pertamakali di Barus, yakni aliran Nestorian pada tahun 645 Masehi.

Jatuhnya Baghdad di tangan Mongol juga berdampak pada perubahan Kota Barus, karena di masa itu banyak para ahli sufi yang lari ke Barus dan mendirikan sekolah-sekolah tarekat (kebatinan) dan sastra, hingga melahirkan tokoh seperti Hamzah Fansuri beserta para muridnya.

Pada tahun 1978, sejumlah arkeolog dibawah pimpinan Prof. Dr. Hasan Muarif Ambary melakukan penelitian tehadap 44 batu nisan kuno bertuliskan aksara Arab – Persia, dimana ditemukan nisan milik Syekh Mahmud yang berasal dai Hadhramaut (Yaman Selatan) di Papan Tinggi. Sebuah batu nisan lainnya adalah milik Syekh Rukunuddin yang wafat pada tahun 672 Masehi atau 48 Hijriah.

Abad ke-17 adalah merosotnya pamor Barus sebagai kota dagang dikarenakan perebutan wilayah dan pecahnya perang di Sumatera membuat para pedagang mengalihkan aktivitas mereka ke Surabaya atau Sunda Kelapa (Batavia). Meski pernah menjadi primadona perdagangan berabad lalu, saat ini Kota Barus hanyalah kota tua yang ditinggalkan. Sesekali pengunjung dan peziarah berlalulalang untuk menapaki jejak sejarah dan makam-makam orang ternama di kota Bandar ini. Hal serupa juga tercermin dari desa-desa di sini yang kosong dan sepi, yang berharap suatu saat nanti Barus kembali menjadi wajah yang disaksikan dunia dengan kagum.

Adil Albatati

Adil Albatati

A writing and music enthusiast, Adil has deep concern in picturing Arab descent's daily life as Indonesian human beside just their political or religious role in the nation. Adil involved in some projects along with international researchers, artists, and also government.