Madu Dalam Konstelasi Peradaban

Madu dalam sejarah manusia pertama kali memang bukan diketahui dalam peradaban masyarakat Arab, bahkan jauh sebelum itu. Tapi madu memiliki peran dan posisi tersendiri dalam kebudayaan masyarakat Arab, dari sebelum masuknya Islam hingga yang saat ini berada di Indonesia.

Ritual Mesir dikenal menggunakan madu sebagai campuran balsam mumi. Babilonia dan Sumeria dalam naskah-naskah kuno mereka menyebutkan madu sebagai salah satu unsur penting keagamaan. Selain sebagai pengobatan, di beberapa kebudayaan lama madu bahkan menjadi media pemanggilan arwah atau kegiatan spiritual lainnya. Dalam perjanjian lama (Kitab Torah), madu juga kerap muncul sebagai simbolisasi hal baik yang dijanjikan alam.

Erasthotenes, tokoh sains asal Romawi, menyebutkan madu asal Yaman merupakan madu terbaik karena Yaman memiliki wilayah yang subur dan sangat bagus bagi pembentukan madu terutama karena adanya pohon Sidr dan Sumur yang menjadi sarang lebah. Itulah kenapa madu Yaman juga dikenal dengan nama Madu Sidr dengan harga yang termahal dibanding madu lainnya. Pohon Sidr menghasilkan buah yang dalam sejarahnya adalah buah pertama yang dimakan ketika Nabi Adam turun ke bumi. Pohon Sidr juga digunakan Nabi Sulaiman dan Firaun sebagai bahan utama pembangunan kerajaan dan kuil-kuil.

Berbeda dengan daerah lainnya, para peternak lebah di Yaman menggunakan tikar anyaman berisi rotan berbentuk sarang lebah yang dibungkus tanah liat. Teknik ini sejak lama dikenal sebagaimana di kawasan timur Yaman terdapat lukisan-lukisan di bebatuan, sekumpulan lebah tengah berterbangan. Bukti ini menunjukkan bahwa masyarakat Arab Yaman telah mengenal teknik peternakan lebah dan manfaat madu bahkan sebelum Islam masuk.

Seorang sejarawan Mesir bernama Al-Maqrizi mengatakan sejatinya seluruh daratan Yaman merupakan bumi lebah dimana lebah-lebah ini dikenal dengan nama latin Apis Mellifera Yementica yang berbadan lebih kecil dan tidak agresif dibanding lebah di daratan bumi lain, dengan kelebihannya sangat kuat terhadap penyakit. Selain sebagai pekerjaan, hasil madu yang bagus akan meningkatkan status sosial dalam masyarakat Yaman. Madu juga menjadi kebanggaan tuan rumah yang menyajikannya kepada tamu yang berkunjung.

Madu Yaman memiliki kepekatan dan warna yang berbeda, lebih pekat karena kadar air rendah dengan penamaan yang berbeda tergantung pada karakteristiknya. Al-Asl sebagai madu murni berkualitas tinggi, diambil langsung dari tubuh lebah. Asy-Syahdu untuk madu yang masih melekat di lilinnya dan belum disaring, sedang Adz-Dzub sebagai madu bersih dari berbagai kotoran.

Madu Yaman juga diketahui mengandung zat Phytochemicals yang paling tinggi, yakni zat utama dalam membunuh kuman yang membuat madu memiliki fungsi sebagai penyembuh.

Dalam peradaban Islam, madu juga memiliki posisinya dan bahkan diabadikan menjadi salah satu nama surat Al-Qur’an, An-Nahl (Lebah). Juga Nabi Muhammad SAW dalam hadist-hadistnya banyak menyatakan keunggulan madu, baik sebagai pengobatan, kesehatan, makanan, bahkan penangkal ilmu hitam.

Dari Abu Sa’id ra: Ada seorang laki-laki datang kepada Rasullulah saw dan berkata: “Saudara saya sakit perut”. Rasul menjawab: “Beri ia madu!”. Hal ini dilakukan orang itu sampai tiga kali bolak balik menanyakan kepada Rasul saw, jawabannyapun tetap madu dan madu.

(HR Bukhari Muslim)

Ketika para pendatang Arab tiba di Indonesia, salah satu komoditas yang dibawa yakni madu meski di Indonesia juga terdapat beberapa wilayah penghasil madu, terutama Banten. Hanya saja madu Indonesia memiliki kadar air yang tinggi karena pengaruh daerah tropis. Madu yang dibawa pendatang Arab juga memasuki kehidupan pesantren dan bahkan berperan penting membangun peradaban dalam pesantren seperti yang disebutkan dalam kitab Ta’lim Muta’alim (Kode Etik Santri) dimana dikatakan bahwa santri yang rajin meminum madu akan lebih mudah dalam menghafal serta meningkatkan kekebalan tubuh. Agaknya hal tersebut merupakan resep yang juga diterapkan sahabat-sahabat Rasulullah dalam menghafal Al-Qur’an, mengingat orang-orang Arab tidak terlalu menyukai teknik penulisan.

Adil Albatati

Adil Albatati

A writing and music enthusiast, Adil has deep concern in picturing Arab descent's daily life as Indonesian human beside just their political or religious role in the nation. Adil involved in some projects along with international researchers, artists, and also government.