Pemberontakan Identitas Partai Arab Indonesia

Semarang, 1934. Suasana dalam ruang sempit itu tengah tegang. Peluh terlihat membasahi pipi dan leher mereka. Beberapa pemuda berhidung mancung secara bergantian menandatangani pakta berisi kesukarelaan mengakui Indonesia sebagai Tanah Air mereka, sedang lainnya berdiri di belakang dengan suasana sunyi dan hati cemas. Setelah semuanya selesai, ucapan Hamdalah disertai riuh tepuk tangan memenuhi ruangan. Salah seorang kemudian membacakan semua butir dari pakta tersebut:

  1. Tanah Air Peranakan Arab adalah Indonesia.
  2. Peranakan Arab harus meninggalkan kehidupan menyendiri (mengisolasi diri).
  3. Peranakan Arab memenuhi kewajibannya terhadap tanah air dan bangsa Indonesia.

Inilah sedikit drama suasana Sumpah Pemuda Keturunan Arab pada 4-5 Oktober 1934 bentukan beberapa pemuda peranakan Arab yang berasal dari berbagai kota dan latar belakang organisasi, namun disatukan revolusi pikiran mengenai tanah air dimana mereka lahir dan berkembang.

Dalam momen yang sama, mereka meresmikan Persatuan Arab Indonesia (PAI) dan akhirnya berubah menjadi Partai Arab Nasional pada tahun 1940 dengan susunan pengurusnya: Ketua – AR Baswedan (Al-Irsyad), Penulis I – Nuh Alkaf (Ar-Rabitah), Penulis II – Salim Maskatie (Al-Irsyad), Bendahara – Sagaf Assegaf (Ar-Rabitah), dan Komisaris – Abdurrahim Argubi (Al-Irsyad).

Dengan segera peristiwa ini membawa kegemparan dalam skala nasional, tak hanya bagi pemerintah kolonial yang melihat PAI sebagai bentuk perlawanan dari masyarakat asing meski kala itu Belanda tengah gencar melakukan penangkapan dan pengasingan terhadap para pembuat pergerakan resistensi, namun juga bagi kalangan Arab sendiri yang selama ini terpecah dalam kubu Al-Irsyad dan Ar-Rabitah akibat strategi devide et empera kolonial Belanda.

Lahirnya PAI telah berhasil melumerkan dinding perbedaan tersebut, dan tak lama kemudian para pemuda peranakan Arab dari berbagai kota berbondong bergabung, bersatu dalam pencarian identitas nasional. Bahkan surat kabar nasional menyebut PAI sebagai gerakan progresif “kaum asing” bagi Indonesia, dan mendapat dukungan penuh dari partai-partai politik.

Presiden Soekarno dalam salah satu amanatnya menulis tentang perjuangan oleh peranakan Arab ini:

Saudara-saudara bangsa Indonesia toeroenan Arab!

Saja mengarti djiwa saudara-saudara, dan mengetahoei oesaha saudara-saudara sebagai poetera-poetera Indonesia.

Saudara-saudara mentjintai saja sebagai bapak. Saja poen mentjintai saudara-saudara sebagai anak-anakkoe, sebagaimana saja djoega mentjintai tiap-tiap poetera dan poeteri Indonesia.

Landjoetkanlah oesahamoe dengan seichlas-ichlasnja dan sedjoedjoer-djoedjoernja. Dan dengan djalan mendidik diri sendiri serta mendidik kalangan Arab seoemoemnja, soepaja dapat menjamboet masa perdjoangan baroe ini dengan sebaik-baiknja.

Dengan demikian, ajah-ajahmoe kelak nistjaja akan lebih mengarti akan djiwamoe, sehingga kamoe dan mereka sekalian akan dapat memberikan soembangan yang semoelia-moelianja oentoek Tanah Air, Bangsa dan Negara kita.

Saja membenarkan apa jang soedah dinjatakan oleh saudara A.R. Baswedan tempo hari, bahwa kamoelah sendiri jang haroes menentoekan pandangan hidoepmoe. Boekan orang dari loear! Salah benar, kalau nasibmoe kamoe pergantoengkan kepada toentoetan orang loear. Karena, kamoe sendirilah jang dapat mengarti perasaanmoe, djiwamoe, keboetoehanmoe, hari kemoedianmoe, dan hari kemoedian anak-tjoetjoemoe.

Dengan pertjaja pada dirimoe sendiri Insja Allah Toehan akan memberkati perdjoeanganmoe.

Djokjakarta, 29-3-1947

Dukungan yang sama juga disampaikan Wakil Presiden Mohammad Hatta:

Dengan sumpah (Sumpah Pemuda Keturunan Arab 1934) ini, yang ditepati pula sejak itu dalam perjuangan nasional Indonesia menentang penjajahan sambil ikut dalam organisasi GAPI, dan kemudian lagi ikut dalam peperangan Kemerdekaan Indonesia dengan laskarnya dengan memberikan kurban yang tidak sedikit, ternyata bahwa Pemuda Indonesia Keturunan Arab, benar-benar berjuang untuk kemerdekaan Bangsa dan Tanah Airnya yang baru.

Sebab itu tidak benar apabila warga negara keturunan Arab disejajarkan dengan W.N.I. keturunan Cina. Dalam praktik hidup kita alami juga banyak sekali W.N.I. turunan Cina yang pergi dan memihak kepada bangsa aslinya: RRC. Warga negara keturunan Arab boleh dikatakan tidak ada yang semacam itu. Indonesia sudah benar-benar menjadi Tanah Airnya.

Sebab itulah salah besar, apabila kedua macam WNI itu disejajarkan dalam istilah “non-pribumi”.

Jakarta, 24 November 1975.

Kondisi tengah gawat, namun para pemuda Arab ini malah bangkit di tengah dilema mereka: Dilema karena disebut “asing” oleh kalangan bumiputera, disebut Timur Asing dalam kelas bentukan Belanda, namun mereka bersikukuh menjadi kelas pribumi.

Dengan cepat, kepopuleran PAI berujung pada dukungan mereka terhadap Petisi Sutardjo (petisi yang diajukan oleh Soetardjo Kartohadikoesoemo pada 15 Juli 1936 kepada Ratu Wilhelmina serta Staten Generaal (parlemen) di negeri Belanda karena makin meningkatnya perasaan tidak puas di kalangan masyarakat terhadap kebijaksanaan politik yang dijalankan Gubernur Jenderal de Jonge), dan bahkan terlibat dalam Gabungan Politik Indonesia (GAPI), sebentuk pembuktian bahwa peranakan Arab diterima dalam dunia politik Indonesia bersama dengan anak bangsa lainnya. Keterlibatan mereka juga semakin jauh terlihat ketika mereka memimpin konferensi-konferensi GAPI di beberapa daerah. PAI pun diterima menjadi anggota Majelis Syura Islam Indonesia (MIAI), federasi semua partai dan perkumpulan berasas Islam.

Ketika Republik Indonesia akhirnya diproklamirkan, beberapa nama Arab juga turut menjadi penyusun naskah proklamasi, sedang sebagian menjadi utusan kemerdekaan di seluruh kota di Indonesia. Sebut saja Mustafa Baisa dan Ali Bahfen yang ditugaskan Komite Nasional KNIP sebagai pembawa pesan di Sumatera, bahkan mereka turut bertempur melawan Jepang di sana.

Sejarah perjuangan ini meski tidak dipaparkan dalam buku sejarah modern namun secara apik terlampir dalam beberapa penulisan oleh beberapa penulis asing, seperti Dr. J.M. Pluvier dalam sebuah disertasinya pada 1953 di Amsterdam, banyak mengungkap bagaimana kiprah PAI dalam pergerakan nasional Indonesia. Dr. Pluvier bahkan lebih jauh menyebut PAI sebagai de strijdbare PAI (PAI yang selalu siap berjuang).

Namun agaknya kebangkitan ini malah membawa keresahan tersendiri bagi golongan tua kelompok Arab karena dikhawatirkan adanya desakan lebih keras dari Kolonial Belanda terhadap mereka. Mereka juga mengkhawatirkan rasa nasionalisme itu akan mengikis kecintaan mereka terhadap tanah leluhurnya di Hadhramaut (Yaman Selatan).

Selain bergerak dari koridor negosiasi, strategi unik yang digencarkan oleh PAI adalah melalui kesenian sebagai bentuk sentilan terhadap isu penjajahan, atau bahkan sebagai self-critics terhadap masyarakat Arab dan segala atribut budayanya. Salah satu yag cukup dikenal yakni agresifitas mereka dalam mengisi kolom-kolom surat kabar bertajuk Aliran Baroe, dan juga melalui seni teater (tonil) dalam beberapa judul seperti Fatimah dan Korban Adat yang cukup kontroversi terutama dalam masyarakat pendatang dan keturunan Arab di Indonesia.

Berikut adalah anggaran dasar dari Partai Arab Indonesia:

ASAS

Asasnya ialah Islam, dengan mengakui Indonesia tempat peranakan Arab lahir adalah tanah airnya, yang kepadanya mereka mempunyai kewajiban-kewajiban. Bahwa kepentingan mereka dan rakyat Indonesia, dimana mereka termasuk di dalamnya, wajib diutamakan.

TUJUAN DAN USAHA

  1. Mendidik peranakan Arab supaya menjadi putera puteri yang berbakti kepada tanah air dan masyarakatnya.
  2. Bekerja dan membantu dengan segala daya upaya dalam lapangan politik, ekonomi, dan sosial yang menuju keselamatan rakyat dan tanah air Indonesia.

PROGRAM

  1. Bagian Politik
  2. Mencapai satu masa dari peranakan Arab seperti yang dicita-citakan oleh PAI.
  3. Menuntut perubahan politik yang mewujudkan bangsa Indonesia yang satu. Oleh karenanya maka
  4. Menuntut hapusnya penggolongan menurut ras yang jadi dasar dalam membagi rakyat Indonesia dalam beberapa golongan.
  5. Menuntut hak pengadilan yang sama bagi seluruh rakyat Indonesia.
  6. Menuntut adanya satu parlemen Indonesia yang dipilih oleh dan untuk rakyat serta tempat pemerintah menyampaikan tanggungjawabnya.
  7. Menuntut adanya pemerintah yang berasaskan kerakyatan (demokrasi).
  8. Menuntut hak memilih bagi umum dengan cara yang langsung.
  9. Menuntut Indonesia dari jabatan negeri.

Menuntut:

  1. Luasnya hak berkumpul dan bersidang.
  2. Hak berbicara dan kemerdekaan menyatakan bersidang.
  3. Menuntut penghapusan rupa-rupa beban adat seperti rodi dan lain-lainnya.
  4. Bagian Agama
  5. Menuntut hapusnya Art. 178 I.S. dan Guru Ordonasi.
  6. Menuntut kembalinya hak mengurus waris pada umat Islam pada Pengadilan Agama.
  7. Menuntut hak pemakaian Masjid dan kas Masjid kembali pada umat Islam.
  8. Menuntut hapusnya subsidi pada segala agama.

BENDERA

Merah: Kesungguh-sungguhan, keberanian, siap, dan hidup.

Putih: Suci dan damai.

Hijau: Harapan, jadi.

Ketika Jepang berkuasa di Indonesia, PAI bersama dengan anggota GAPI lainnya dibubarkan dan tidak lagi dibangkitkan. Hal tersebut bertujuan agar para anggota PAI membaur dengan partai nasional lainnya. Ketika pemilihan umum, banyak anggota berdarah Arab yang terpilih sebagai anggota parlemen ataupun konstituante, tidak melalui penunjukan oleh pemerintah seperti yang dialami kelompok minoritas lainnya.

Dampaknya adalah kepercayaan masyarakat Indonesia terhadap peranakan Arab kala itu sangat tinggi. Beberapa mantan anggota PAI bahkan menjabat dalam DPRD seperti Ali Gathmier di Palembang, Saleh Sungkar di Lombok, Abdullah Salim sebagai Ketua DPRD Jakarta Raya yang pada tahun 1939 menjabat sebagai ketua PAI Jakarta. Tercatat pula nama Abdullah Hassan sebagai wakil pemuda Keresidenan Solo, Hamid Al-Gadrie menjadi anggota BP-KNIP (Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat). PAI bahkan memiliki cabang yang berisi istri-istri para anggota PAI, bernama PAI Isteri, dan golongan pemuda dengan nama Lasykar yang kala itu memiliki visi sejalan dengan Gerindo, Parindra, PSII, dan Muhammadiyah (Hizbul Waton).

Adil Albatati

Adil Albatati

A writing and music enthusiast, Adil has deep concern in picturing Arab descent's daily life as Indonesian human beside just their political or religious role in the nation. Adil involved in some projects along with international researchers, artists, and also government.