Pekojan, Krukut, dan Jejak Uang Alkatiri

Dalam buku Van den Berg berjudul Orang Arab di Nusantara, dirilis hasil survey mengenai jumlah pendatang Arab (Hadharim) di Batavia (Jakarta) pada tahun 1885, yakni sekitar 1.448 jiwa, dimana sebagian dari mereka akhirnya menyebar ke seluruh Pulau Jawa, sedang sisanya menetap di sebelah Barat, yakni wilayah Pekojan yang ditetapkan oleh pemerintahan Kolonial Belanda sebagai wilayah terkonsentrasi dan ketat perizinan seperti halnya yang dapat ditemui di Kampung Arab Surabaya serta kota lainnya.

Lokasi Pekojan di Jakarta Barat yang berdekatan dengan Pelabuhan Sunda Kelapa menjadikannya rujukan transit, itulah kenapa dahulu banyak pendatang Arab kaya mendirikan rumah besar untuk menampung “saudara” mereka yang berlabuh sebelum kemudian melanjutkan perjalanan. Pekojan juga berdekatan dengan Pecinan di Glodok hingga memudahkan kedua kelompok ini menjalin hubungan dagang.

Sesungguhnya wilayah Pekojan ini berawal dari pemukiman India Muslim Khwaja, merujuk pada orang-orang Hindu India yang masuk Islam dan melakukan penyebaran agama ke seluruh dunia. Disini terdapat Gang Koja sebagai titik konsentrasi pendatang India dimana berdiri Masjid tertua bernama Al-Anshor yang didirikan pada tahun 1648, menjadi tonggak sejarah perkembangan pendatang India Muslim. Kini gang tersebut berubah nama menjadi Jl. Pengukiran II. Tahun 1973, Masjid ini direnovasi untuk mengganti bagian-bagian yang rusak dan ditambahkan serambi di bagian depan Masjid.

Antara tahun 1748 – 1817, didirikan masjid kedua di wilayah ini bernama Masjid Jami Kampung Baru Inpak atau masjid Bandengan dikarenakan lokasinya berada di Jalan Bandengan Selatan no. 34. Uniknya arsitektur Masjid ini bernuansa tradisional Jawa: dasarnya berbentuk segiempat dengan empat buah soko guru (tiang pondasi) dan beratap tumpang limasan. Di kalangan Kolonial, Masjid ini disebut Moorsche Tempel karena didirikan orang-orang Moor (Spanyol). Masjid ini kemudian meluaskan wilayahnya namun tanpa menghancurkan bangunan aslinya sehingga nampak seperti Masjid di dalam Masjid.

Baru pada tahun 1840an, kelompok Hadharim mulai menetap di wilayah ini ketika melakukan perdagangan kain katun, batu mulia, minyak wangi, hingga bisnis properti. Terdapat sebuah Masjid lama bernama Langgar Tinggi milik seorang Kapten Arab yang cukup kaya dan disegani, Syeikh Said Naum. Juga tercatat beberapa nama pemimpin kelompok Hadharim lainnya di wilayah ini, yakni Umar bin Hassan bin Ahmad Aidit, Umar bin Yusuf Manggus, dan Hasan bin Saleh Argubi.

Salah seorang Sultan Hadhramaut bernama Mansyur bin Ja’far Al Katiri pada akhir 1800an mendatangi Pekojan dan terkejut melihat jumlah masyarakat Arab di Pekojan begitu besarnya, dimana sebuah rumah hingga menampung 20 anggota keluarga.

Sang sultan kemudian berinisiatif untuk membuka wilayah baru untuk masyarakat Arab ini, hingga menjadikan wilayah Wijk Krukut Onderdistrict Penjaringan (kini Krukut) sebagai pemukiman Arab berikutnya. Di wilayah antara Pekojan dan Krukut yang kala itu masih berupa rawa, Sultan Mansyur secara bertahap membuka jalan dan membayar berupa uang real kepada Belanda hingga wilayah ini dikenal dengan nama Tanah Sereal. Di sini juga diketahui terdapat Jembatan Lima yang masih dikenal hingga saat ini.

Di dekat Masjid Langgar Tinggi, terdapat sebuah jembatan bernama Jembatan Kambing yang membelah Sungai Angke. Disebutnya demikian karena jembatan ini memiliki sejarah panjang perihal perdagangan kambing sebagai salah satu kegemaran masyarakat Hadharim secara turun menurun. Kambing-kambing disini diyakini banyak didatangkan dari Tegal dan dikirim ke penjagalan di salah satu kampung di Pekojan yang hingga saat ini masih bernama Kampung Pejagalan.

Masjid unik lainnya bernama Ar-Raudhah Shahbuddin yang didirikan oleh Bin Shahbuddin. Dikatakan unik karena Masjid ini awalnya khusus diperuntukkan untuk kalangan wanita. Keunikan lainnya yang dapat ditemui di Masjid ini yakni adanya mata air yang tak pernah kering meski musim kemarau. Masjid ini nampak biasa saja, tanpa kubah dan membaur dengan rumah warga sekitar, namun Masjid ini memiliki nilai sejarah tinggi karena disinilah para pendiri organisasi Jamiatul Kheir berkumpul dan berdiskusi.

Jamiatul Kheir awalnya muncul sebagai gerakan bawah tanah pada tahun 1901, menitikberatkan bidang pendidikan yang ditujukan bagi keturunan Arab, didirikan oleh bersaudara Ali dan Idrus Shahab, di samping Muhammad Al Masyhur dan Syaikh Basandid. Organisasi tersebut memberikan pengaruh yang besar bagi sejarah Nasional, baik di masa lalu hingga saat ini. Beberapa tokoh nasional juga diketahui sebagai lahir dari organisasi ini, termasuk KH Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah, HOS Tjokroaminoto pendiri Syarikat Islam, dan Samanhudi pendiri Sarekat Dagang Islam.

Menurut tokoh antropolog Betawi, Yasmin Zaki Shahab, para pendatang Hadharim di Batavia juga memberikan pengaruh budaya terutama terhadap Betawi yang memang banyak mengadaptasi budaya Arab dan Tionghoa. Sebut saja tarian Zapin. Pengaruh lainnya dapat ditemui dalam pakaian adat Betawi dimana lelaki menggunakan sarung yang dikalungkan.

Perkembangan berikutnya, wilayah Pekojan sering dilanda banjir hingga setelah dihapusnya sistem pemukiman pada 1919, banyak pendatang Arab keluar dan menyebar ke Krukut, Sawah Besar, Tanah Abang, hingga Kwitang. Saat ini wilayah Pekojan tak lagi didiami pendatang Hadharim yang hanya tersisa sekitar 25 persen dari keseluruhan populasi. Wilayah ini bahkan didominasi keturunan Tionghoa, meski masih banyak meninggalkan bukti sejarah perkembangan masyarakat India, Moor, dan Arab.

Tahun-tahun berikutnya masyarakat Arab mulai menyebar lebih jauh hingga ke Bogor, dimana terdapat Kampung Arab Pekojan, kemungkinan adalah lokasi menetapnya orang-orang Arab dari Pekojan Jakarta. Nama kampung yang sama juga bisa ditemui di Banten dan Semarang.

Abdullah Elly

Abdullah Elly

Born in Jakarta, Abdullah Elly was an active member of Asy-Syabab Muslimin around 2008, before he established Pemuda Islam Sosial (PIS) in 2013. Now he is serving as deputy secretary-general at Al-Irsyad.