Salim Ali Maskati, Perintis Kemerdekaan Yang Terlupakan

“Siapa lagi kalau bukan kita sendiri.
Dengan demikian sejarah akan mencatat nama kita,
sehingga akan menjadi suri teladan bagi generasi berikutnya”
(Salim Ali Maskati)

Berbicara mengenai kesadaran berbangsa Indonesia pada golongan Keturunan Arab di Indonesia, maka mau tidak mau kita akan menemukan perjuangan Partai Arab Indonesia (PAI), dengan Sumpah Pemuda Keturunan Arab pada tanggal 4 Oktober 1934, di Semarang dimana mereka secara sadar mengakui bahwa Indonesia-lah tanah air mereka. Dan berbicara mengenai PAI, kita sering mendengar nama AR Baswedan sebagai tokoh pendiri PAI, sudah banyak tulisan dan buku yang menulis mengenai sosok AR Baswedan ini dan sepak terjangnya.

Tetapi sebenarnya PAI bukanlah hanya AR Baswedan sendiri. PAI bukan milik AR Baswedan sendiri. Pejuang dan Perintis Kemerdekaan dari golongan Arab bukan hanya Baswedan seorang. Masih banyak sosok lain yang sebenarnya memiliki andil yang cukup besar di dalamnya. Salah satunya adalah Salim Ali Maskati (SAM). Sayangnya masih sangat terbatas referensi yang bisa kita gali mengenai almarhum. Tulisan ini merupakan salah satu ikhtiar awal untuk mengumpulan “memori sejarah” yang terserak dan terlupakan selama ini.

Sangat sedikit informasi yang kita ketahui mengenai sosok Salim Maskati ini, selain beliau merupakan salah seorang dari Perintis Kemerdekaan RI dan merupakan wartawan Indonesia keturunan Arab yang pertamakali, seperti disebutkan oleh AR Baswedan bahwa Almarhum Salim Maskati ini merupakan salah satu dari pribadi yang memiliki “peran” didalam perjalanan lahirnya sosok AR Baswedan sebagai salah satu seorang terdekat didalam perjalanan hidup dan karir AR Baswedan.

Salim Maskati ini aktif di dalam mendirikan PAI bersama dengan AR Baswedan dan didalam perjuangan PAI ia tercatat sebagai Penulis II, secara lengkap kepengurusan PAI awal tahun 1934 adalah sebagai berikut :

Ketua                    :  AR Baswedan
Penulis I               : Nuh Alkaf
Penulis II             : Salim Maskati
Bendahara           : Segaf Assegaf
Komisaris            : Abdurrahim Argubi

Tokoh PAI lainnya adalah Hamid Algadri, Ahmad Bahaswan, HMA Alatas, HA Jailani, Hasan Argubi, Hasan Bahmid, A. Bayasut, Syechan Shahab, Husin Bafagih, Ali Assegaf, Ali Basyaib, dll.

Tetapi siapakah sebenarnya almarhum ini ?

Salim Maskati ini lahir di Surabaya pada tahun 1907 dan menurut penuturan AR Baswedan sendiri dalam rekaman kaset wawancara dengan Chaidir Anwar Makarim. Walaupun lahir di Surabaya tetapi almarhum berasal dari daerah Palembang.

Dalam usia yang masih sangat muda yaitu 18 tahun (tahun 1925) ia aktif dalam pergerakan politik bersama PSII (Partai Sarekat Islam Indonesia). Pada waktu itu ia diserahi Wondoamiseno (lahir di Pasuruan, Jawa Timur, 1891 – meninggal pada tahun 11 Desember 1952, seorang tokoh PSII dan juga mantan Menteri Dalam Negeri Indonesia pada Kabinet Amir Syarifudin I – red.) untuk menerbitkan sebuah surat kabar “Perdamaian” sebagai sebuah media yang membawakan suara PSII. Harian tersebut dicetak di rumah kediaman Wondoamiseno sendiri. Dan dari sinilah, perkenalan awal dengan sebuah dunia jurnalistik telah meninggalkan kesan mendalam di dalam kehidupannya sehingga Salim Maskati memiliki cita-cita untuk memiliki sebuah percetakan sendiri. Dan pada tahun 1927 dari hasil penjualan rumah warisan orang tuanya, Maskati membeli sebuah percetakan yang kemudian digunakan untuk menerbitkan sebuah surat kabar “Lembaga Baroe”. Surat kabar yang diterbitkan secara perorangan, sebagaimana “Perdamaian” yang diterbitkan sebagai usaha untuk meningkatkan kecerdasan dan pengetahuan masyarakat.

Hal tersebut merupakan sebuah langkah “idealis” yang progresif, sekaligus berani dan nekat karena pada masa masanya, ketika seseorang memutuskan untuk menghabiskan hartanya untuk membeli sebuah percetakan dan ikut di dalam usaha menyebarkan ide ide perjuangan, daripada pilihan untuk berdagang dan mengejar keuntungan finansial semata selayaknya golongan keturunan Arab pada masa itu.

Dimana kemudian AR Baswedan bersama saudaranya, Ahmad Baswedan membeli percetakan milik Maskati tersebut (Percetakan Al-Hambra) dan kemudian pada waktu itu diserahkan kepada MBA Alamudi sebagai tokoh IAV (Indo-arabische Verbond) untuk mencetak dan menerbitkan jurnal Al Jaum sebagai media.

Maskati ini disebut sebut sebagai wartawan Indonesia pertama dari golongan keturunan Arab, ia bahkan diakui sebagai merupakan mentor awal dari AR Baswedan dalam bidang tulis menulis atau jurnalistik, diceritakan oleh Hoesin Bafagih didalam sebuah pengantar untuk profil AR Baswedan selaku ketua PAI didalam majalah Aliran Baroe No. 6 Januari 1939 Th II: Ketika pada masa tahun 1920, dimana generasi muda keturunan Arab, baik dari golongan Al-Irsyad dan Ar-Rabithah, keduanya mulai timbul semangat pemberontakan terhadap kelompok tua atau golongan Totok (Wulaiti) yang menurut mereka dipandang sebagai halangan bagi arah kemajuan di dalam mengikuti perobahan zaman, dan lahirlah majalah “Zaman Baroe” dimana Hoesin Bafagih dan Salim Maskati merupakan pemimpin redaksinya. Dan pada waktu itu Baswedan sangat bersemangat untuk ikut menulis di dalam penerbitan tersebut tetapi belum bisa diterima oleh kedua pemimpin redaksi itu.

Surat Kabar Zaman Baroe tersebut diteruskan sendiri oleh Maskati yang menjadi media penyiaran dari Al-Irsyad dan kemudian setelah penerbitan tersebut mati, dilanjutkan denganLembaga Baroe, dimana Baswedan mulai ikut aktif membantu Salim Maskati dan ikut mengisi menulis dengan nama alias Bin Auff al Asrie. Mulai saat itulah kepiawaiannya menulis dan mengarang berita tersalurkan dan semakin berkembang ke arah jurnalisme professional.

Maskati yang pada awalnya merupakan mentor Baswedan akhirnya menjadi sahabat dekat dari AR Baswedan dan bahkan Maskati menulis sebuah tulisan mengenai sosok AR Baswedan yaitu AR Baswedan Boeah Pikiran dan Andjoerannja (Soerabaja 1939).

Setelah PAI dibubarkan dan anggotanya dibebaskan untuk meleburkan diri di dalam partai-partai nasional yang ada, Salim Maskati masuk dalam keanggotaan PNI (Partai Nasional Indonesia) di Malang dan kemudian menjadi Ketua II Dewan Daerah Jamiatul Muslimin Jawa Tengah.

Penghargaan sebagai Perintis Kemerdekaan

Pada tahun 1981, Salim Maskati mendapatkan penghargaan sebagai salah seorang Perintis Kemerdekaan tepat pada usianya yang ke 74. Perintis Kemerdekaan merupakan sebuah penghargaan oleh Pemerintah RI, ditujukan bagi mereka yang telah berjuang mengantarkan bangsa Indonesia kedepan pintu gerbang kemerdekaan, diakui dan disahkan sebagai Perintis Kemerdekaan dengan Surat Keputusan Menteri Sosial Republik Indonesia. Salah satu kriterianya adalah mereka yang telah  menjadi pemimpin pergerakan yang membangkitkan kesadaran kebangsaan /  kemerdekaan. Dan Salim Maskati merupakan salah satu dari golongan tersebut.

Pada awalnya bukanlah niat almarhum untuk “meminta” penghargaan tersebut kepada pemerintah atas segala jasa perjuangan dan pengorbanannya, hanya saja waktu itu ia mendapatkan dorongan dari kedua sahabatnya yaitu AR Baswedan dan Doel Arnowo. Didalam acara tasyakuran atas penghargaannya tersebut di Ketapang Besar 28 Surabaya, almarhum mengatakan:

“Sesungguhnya tidak terlintas dalam hati saya bahwa saya telah menerima suatu hadiah yang begitu tinggi nilainya. Padahal saya hanyalah seorang petugas lapangan di tengah gemuruh perjuangan menuju kemerdekaan. Apa yang saya lakukan adalah tugas yang wajar sebagai seorang warga negara yang bertanggung jawab”.

Menurut Penuturan Ustadz Helmi Gana (tokoh Keturunan Arab Surabaya yang sering berdiskusi dengan almarhum selama hidupnya); karena jasa dan pengabdiannya sebagai Perintis Kemerdekaan, setiap tanggal 17 Agustus, Walikota Surabaya selalu menyempatkan untuk mengunjungi kediamannya di Surabaya, bahkan setelah wafatnya. Sebagai bukti penghargaan dan apresiasi pemerintah terhadap jasa-jasanya.

Salim Maskati sempat tinggal di jalan Nyamplungan Gang II No 39 dan pada akhir hidupnya almarhum hidup dengan sangat sederhana, ia hidup dari penghasilan pensiunan sebagai Perintis Kemerdekaan sebesar Rp. 62 ribu dan dibantu dengan penghasilan istrinya sebagai seorang penjahit.

Salim Maskati ini merupakan seorang jurnalis dan penulis aktif, namun sayang banyak hasil karyanya yang sampai sekarang belum ditemukan. Beberapa dari tulisannya yang ada antara lain :

  1. Indonesia Tumpah Darahku, Naskah Biografi yang diketik di Surabaya 1982
  2. AR Baswedan Boeah Pikiran dan Andjoerannja, Soerabaja 1939

Nabiel A. Karim Hayaze'

Nabiel A. Karim Hayaze'

Nabiel has a big passion and interest in writing about history of Arab descents in Indonesia, he wrote : Revolusi Batin Sang Perintis AR Baswedan, and Al Khowatirul Hisan Kumpulan Syair karya Syaikh Ahmad Surkati (Poems Collection) . He is currently doing research on Hadrami Arabs Language and completing his third book on : Hikayat of Kapitein Arab in Indonesia.