Sebaris Syair Untuk Perjalanan Negeri

“Kebijakan dapat ditemukan dalam tiga hal:
Otak orang Perancis, tangan orang Cina, dan lidah orang Arab.”
– Peribahasa kuno

Selama berabad lamanya, orang Arab dikenal dengan kekuatan dalam melantunkan syair dengan indahnya, menceritakan tentang latar belakang sejarah mereka, kesultanan, percintaan, pujian, dan sholawat kepada sang baginda Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi Wassalam sebagai warisan nenek moyang mereka. K. Hitti dalam bukunya History of Arab, mengatakan bahwa tidak ada bahasa yang mampu menggerakkan pendengarnya dengan tingkat keindahan dan kompleksitas layaknya bahasa Arab. Di Jazirah Arab sendiri syair masih terus mendayu dan menggema dimana-mana bagaikan burung yang sedang berkicau.

Pembacaan syair biasanya disampaikan dalam acara-acara tertentu seperti pernikahan, musim panen, acara kesultanan hingga penyemangat sebelum peperangan, dengan diiringi alat musik suling dan rabana / gendang, dan dilakukan sembari duduk bersila di kemah-kemah suku. Dalam masa modern pun, beberapa kerajaan negara Arab memiliki penyair pribadi, seperti Al-Amir Khalid bin Suud dari kerajaan Arab Saudi.

Dalam salah satu tulisannya yang menyoal tentang syair berjudul Menghilangnya Tradisi Bersyair pada Masyarakat Keturunan Arab di Pesisir Utara Jawa, Zeffry Alkatiry mengatakan bahwa penyair merupakan profesi istimewa secara turun menurun dalam masyarakat karena para penyair ini adalah penjaga tradisi lisan, orang-orang terpilih dengan kemampuan menghafal dan bertutur yang sangat kuat, itulah sebabnya mereka dipertahakan dan dilestarikan. Hari inipun, jiwa bersyair diekspresikan dengan cantik oleh golongan peranakan (muwallad) yang kini sudah menciptakan ratusan syair untuk penggiat musik Gambus dan Melayu.

Beberapa nama pendatang Arab seperti Muhammad al-Obetsani di Tegal dan Ahmad Ali Baktir di Surabaya dikenal masih sangat kuat dalam bersyair. Juga penyair bernama Muhammad al-Ganis bin Ajjaj an-Nahdi yang lahir pada 1860an di Cirebon, seringkali diundang dalam perhelatan masyarakat Arab yang umumnya digelar setelah sholat Isya’ dalam sebuah majlas atau pertemuan.

Majlas umumnya dilakukan secara bergantian di sebuah rumah sebagai bentuk dari komunikasi dan interaksi antar pendatang Arab, dengan perbincangan yang cukup kaya, mulai urusan dagang hingga perjodohan. Dalam sebuah sesi istirahat dalam majlas ini biasanya akan diisi dengan syair spontan secara bergantian.

Tokoh besar kemerdekaan dan pendiri organisasi Al-Irsyad, Syekh Ahmad as-Surkati juga dikenal sangat menyukai menumpahkan ide-ide pembaharuannya dalam bentuk syair, tertuang dalam salah satu kitabnya yang berjudul Al-Khawatirul Hisaan yang dicetak pada 1941 di Cirebon.

Memasuki abad ke-20 setelah meninggalnya tokoh-tokoh pembaca syair, maka golongan peranakan Arab di Indonesia telah terpotong budaya bersyairnya dalam bahasa Arab, berubah menjadi syair berbahasa Melayu dan India (Urdu) dengan dipadu kelompok orkes Gambus seperti yang dipopulerkan Orkes Melayu Sinar Kemala dari Surabaya. Syair yang awalnya dilakukan secara oral sebagai folklore akhirnya banyak ditumpahkan dalam bentuk cetakan dan bahkan berkembang menjadi lirik lagu dimana para penyair ini biasanya berkolaborasi dengan pemain musik Gambus yang mencapai masa kejayaannya pada tahun 1940an, melahirkan penyanyi seperti Umi Khultsum dari Mesir dan Abu Bakar Salim Balfagih asal Hadhramaut. Abu Bakar Balfagih memiliki kakek berasal dari Pekalongan yang kemudian pindah ke Yaman.

Sedang mengenai asal mula masuknya tradisi dan instrumen musik Gambus ke Indonesia, salah satu teori mengatakan bahwa pengaruh Islam di Indonesia memberikan warna musik bernafaskan Islam lengkap dengan syair berbahasa Arab. Kuatnya pengaruh ini hingga kita bisa menemukan orkes kecil dengan karakter Gambus di daerah pelosok di beberapa wilayah di Indonesia.

Adalah seorang pendatang asal Arab (walayti) bernama Saleh bin Awad bin Thalib yang konon membawa musik Gambus ke Indonesia untuk pertamakali namun tidak diterima oleh penduduk asli. Kemudian ia mengkombinasikan musik bawaannya dengan musik setempat hingga muncullah Zafin Melayu yang hingga kini masih dikenal. Generasi berikutnya, lahirnya musik Gambus Melayu dikembangkan oleh Syech Albar, salah seorang murid Saleh bin Awad bin Thalib. Bersama dengan Segaf Assegaf, mereka merintis musik Gambus modern karena tidak hanya menggunakan instrumen tradisional.

Abdullah Batarfie, pemerhati sejarah Arab di Indonesia yang juga penikmat musik Melayu, mengatakan bahwa cikal bakal musik Melayu lahir dari Qasidah. Secara harfiah, Qasidah mengandung arti syair kesustraan yang disampaikan sambil dilagukan. Sang penyair membacanya dengan irama, berisi pujian-pujian kepada Allah dan Rasulnya. Tradisi Qasidah dikatakan diadaptasi dari Persia sehingga kemudian Qasidah biasanya juga digunakan untuk mengiringi tarian sebagai salah satu unsur penting dalam ritual Sufisme. Pengaruh ini juga bercampur dengan musik tradisional dengan syair Gurindam dan alat musik tradisional lokal seperti gong, serunai, dan kecapi.

Kemudian sekitar tahun 1940an, lahirlah Musik Melayu Deli, dan tentu saja gaya permainan musik ini tidak hanya menyanyikan syair gurindam tetapi sudah jauh berkembang sebagai musik hiburan dan pengiring tarian khas orang Melayu pesisir timur Sumatera dan Semenanjung Malaysia. Dengan perkembangan teknologi elektronik sekitar setelah tahun 1950, maka mulai diperkenalkan pengeras suara, gitar elektronik dan keyboard. Dan tak kalah penting adalah perkembangan industri rekaman sejak tahun 1950, karena dari era inilah kemudian musik Gambus dipengaruhi lagu-lagu India yang saat itu merajai industri film di Asia.

Penikmat syair pasti akan terbawa akan lantunan yang dibawakan oleh penyair, hanyut terbuai oleh irama musik dan syairnya. Penikmat bisa menangis merintih dan senang tak terhingga dengan penuh penghayatan. Tersebut beberapa nama seniman dan musisi Melayu ternama Indonesia yang terkenal seperti: M Mashabi, A Kadir, Husin Bawafi, Hadi Mahdami , Munif Bahaswan dan masih banyak lagi.

Di Jakarta, tiap tahunnya diselenggarakan sebuah event musik Melayu bernama Jakarta Melayu Festival oleh Geisz Chalifah, lengkap dengan mars ciptaannya:

Dari sudut negri kami khabarkan.
Tentang cinta yang melekat di sanubari
Dari pesisir pantai anak negri melambai menarikan tarian cinta…. Tari melayu..
Di tengah gelombang, kami berkhitmad.
Menjaga marwah budaya.. merawat tradisi.
Mengalunkan syair lagu Melayu.
Tepak rebana petikan gitar..  mengiring langkah zafin saling bertaut..
Elok di mata di jiwa… memandang negri berlimpah rahmat..
Salam.. salam anak negeri.. salam.. salam.. salam.. dari negri Melayu..

Abdullah Elly

Abdullah Elly

Born in Jakarta, Abdullah Elly was an active member of Asy-Syabab Muslimin around 2008, before he established Pemuda Islam Sosial (PIS) in 2013. Now he is serving as deputy secretary-general at Al-Irsyad.