Kopi: Khusuknya Kaum Sufi Hingga Romantisme Eropa

Maka dalam tiap Qahwah (kopi), termakna Qaf adalah quut (makanan), Ha adalah hudaa (petunjuk), Wawu adalah wud (cinta), dan ha adalah hiyam (pengusir kantuk).

 

Syair di atas adalah sebaris gubahan salah seorang tokoh Sufi Yaman bernama Abdurrachman bin Muhammad Al-Hadhrami dari marga Al-Aydrus. Sang tokoh ini menceritakan bagaimana tiap tegukan kopi yang diminumnya mampu menjadi petunjuk sehingga meningkatkan kecintaannya pada Sang Rabb, sebagaimana kemudian kopi menjadi instrumen penting dalam ritual kaum Syadiliyah (aliran sufi yang didirikan oleh Abu Hasan asy-Syadzili, wafat pada 828 Hijriah). Begitu dekatnya tradisi sufistik dengan kopi, hingga terkenal tokoh sufi Yaman lainnya bernama Ibnu Abdul Ghaffar yang merapal bacaan “ya Qawi” (wahai kopi) sebanyak 116 kali setiap menggelar ratib (kumpulan doa rutin). Mereka biasanya meramu kopi dengan tambahan rempah-rempah seperti kayu manis, jahe, dan kapulaga sehingga menghasilkan kopi dengan aroma yang khas.

Kopi dalam sejarah awalnya lahir dari rahim kebiasaan di kalangan sufi Yaman, setelah Ali bin Umar asy-Syadzili menemukan efek dari kopi sebagai pengusir kantuk di kala beribadah malam. Konon hingga saat ini orang-orang Yaman masih menyebut nama sang tokoh sebelum meminum kopi. Di Hadhramaut sendiri, kopi diminum di antara dua waktu makan (siang dan malam), khususnya ketika ada tamu. Diadatkan ketika para tamu berkunjung, mereka membawa biji kopi sendiri yang kemudian dikumpulkan oleh sang tuan rumah untuk diolah menjadi minuman.

Kopi kemudian menjadi komoditas perdagangan terutama di Al-Mukha, kota pelabuhan di Yaman yang menguasai perdagangan terutama di Semenanjung Arab dari abad 15 hingga awal 18. Biji kopi ini memiliki karakter yang lebih kecil dan bulat dibandingkan jenis kopi Arab lainnya, awalnya diberi nama Sananin karena berasal dari perkebunan di Sana’a, namun kemudian kopi jenis ini dikenal dengan nama kopi Moka (Mocca Coffee).

Sedang budaya kedai kopi lahir pada kekhalifahan Utsmani (Ottoman) oleh sebuah kedai pertama bernama Kiva Han pada tahun 1475 di Konstantinopel (Istanbul). Dengan cepat tren ini menyebar terutama ketika penyebaran dan perluasan wilayah Utsmani. Itulah mengapa Paus Clement VIII yang melihat kopi sebagai simbol penjajahan Utsmani akhirnya melarang bukanya kedai kopi dan minum kopi di tempat umum di wilayah mereka, meski di sisi lain kopi diperbolehkan untuk dinikmati di ranah personal karena sang Paus sendiri dikenal sebagai penggila kopi. Kedai kopi pernah pula menjadi senjata politik, sebagaimana dalam sejarah Mesir di abad ke-16, tersebutlah gubernur Utsmani di Mesir bernama Hain Ahmed Pasha yang menggunakan kedai kopi sebagai alat untuk membangun dukungan. Ketika popularitas kopi mencapai puncaknya karena mampu mewakili semangat spiritual dan sosial, kedai-kedai kopi dianggap saingan baru fungsi masjid sehingga diharamkan, berujung terjadinya penghancuran besar-besaran kedai kopi pada 1539 oleh Sultan Murat IV. Pertikaian ini akhirnya dimenangkan para penikmat kopi yang berlatar belakang akademisi, reliji, dan politik.

Barulah pada 1645, Venisia menjadi gerbang masuknya kedai kopi di Eropa karena setelahnya kedai kopi seakan menjamur di seluruh Eropa, dimana kemudian kopi dan kedainya menjadi bentuk romantisme kala itu, sebagaimana seorang penggubah kenamaan asal Jerman, Johan Sebastian Bach, membuat karyanya yang berjudul Coffee Cantata pada 1732:

Ei! wie schmeckt der Coffee süße,
Lieblicher als tausend Küsse,
Milder als Muskatenwein.
Coffee, Coffee muss ich haben,
Und wenn jemand mich will laben,
Ach, so schenkt mir Coffee ein!

(Oh! Betapa manisnya rasa kopi
Lebih nikmat dari ribuan kecupan
Lebih lembut dari anggur Muskat
Kopi, kopi, aku harus memilikinya
Dan jika seseorang ingin membangkitkan gairahku,
Ah, beri saja kopi padaku!)

Sedang masuknya kopi ke Asia, diceritakan seorang sufi asal India bernama Baba Budan yang bepergian ke Mekkah untuk berhaji, dimana pertamakalinya ia bertemu dengan kopi. Kala itu perdagangan kopi masih terbatas hanya untuk lokal dan ekspor berbentuk bubuk, sehingga ia menyelundupkan tujuh biji kopi Moka di sabuknya, membawanya kembali ke India dan menanamnya di bukit Chikmagalur pada 1670. Sejak saat itu perkebunannya berkembang hingga ke Selatan, tepatnya di daerah Kodagu, dimana jenis biji kopinya dikenal dengan nama Budan Beans.

Setelah masa itu, penyebaran kopi banyak dibawa oleh Barat yang memasuki Timur, termasuk juga Indonesia dimana seorang Belanda bernama Zwaardecroon yang mulai menanam kopi di Sukabumi dan Bogor dan menjadikannya sebagai aset penting perdagangan di Hindia-Belanda, terutama selama era tanam paksa (Cultuurstelsel) 1830 – 1870. Selain Bogor, kolonial Belanda juga memiliki ladang kopi di Sumatera dan sebagian Indonesia Timur. Kemudian pada awal abad 20, hampir seluruh perkebunan kopi yang ada di Jawa mati oleh serangan hama sehingga penanaman atas jenis kopi yang lebih kuat dilakukan, terutama jenis Liberika dan Ekselsa. Di Masa ini, perdagangan kopi Indonesia mencapai puncaknya hingga menjadi komoditas ekspor. Setelah masa kemerdekaan, perkebunan kopi dimiliki dan dikelola oleh petani lokal dan pemerintah.

Hari ini pun, kopi masih seringkali dikaitkan dengan Arab dan budayanya yang masih dapat ditemui di wilayah-wilayah dengan komunitas peranakan Arab, terutama kopi dengan ramuan rempahnya sebagai daya tarik wilayah.

Adil Albatati

Adil Albatati

A writing and music enthusiast, Adil has deep concern in picturing Arab descent's daily life as Indonesian human beside just their political or religious role in the nation. Adil involved in some projects along with international researchers, artists, and also government.