Batik Arab Dan Ritual Nyadran Pekalongan

Pekalongan dikenal sebagai salah satu kota kecil di Provinsi Jawa Tengah, namun memiliki dinamika dan perkembangan terutama peranannya sebagai kota komersil dan lokasinya yang berbatasan dengan Laut Jawa di sebelah Utara menjadikannya pelabuhan utama selain Cirebon, jalan masuk bagi para pedagang Arab, Cina, serta India.

Orang Hadharim (Arab asal Yaman Selatan) pertamakali memasuki Pekalongan pada abad ke-16 dengan banyak yang kemudian menikah dengan putri pembesar Pekalongan, termasuk Raden Saleh, seorang pelukis internasional yang bernama asli Saleh bin Husain bin Yahya.

Kakeknya yang bernama Awadh bin Yahya merupakan orang Hadramaut asli yang menikah dengan putri Kyai Bastam, Regen (Wedana) Lasem, melahirkan Husain bin Awadh yang kemudian menikahi puteri Regen Wiradesa. Dari pernikahan tersebut lahir Raden Saleh dan seorang putri yang menikah dengan Patih Galuh dari Majalengka.

Anggota keluarga bin Yahya lainnya yakni Thaher bin Yahya tiba di Pulau Pinang pada abad ke-19, kemudian menikahi seorang putri Sultan Yogyakarta yang dibuang ke Pulau Pinang tahun 1812 – 1816. Mereka kemudian tinggal di Semarang. Putra mereka yang ketiga, Ahmad Raden Sumodirjo yang kemudian tinggal di Pekalongan memiliki seorang putra bernama Saleh yang kemudian mendapat gelar Raden Sumo Diputro.

Hadharim lainnya bernama Ahmad bin Muhsin Ba’abud tinggal di Pekalongan pada awal abad ke-19, menikahi seorang putri Regen Wiradesa, melahirkan seorang putra yang bergelar Raden Suroatmojo dan saudaranya yang bergelar Raden Suro Diputro.

Meski telah memasuki Pekalongan sejak abad ke-16, namun penunjukan Kapten Arab baru dilakukan pada akhir 1800an setelah pemetaan kampung Arab Pekalongan oleh Belanda, sebagaimana dapat dilihat dalam daftar berikut

No. Nama Pangkat Masa jabatan
1.

2.

3.

4.

5.

Mukhsin bin Abdullah bin Yahya

Zein bin M. bin Ibrahim bin Yahya

Muhammad bin Salim Al Atas

Abdul Kadir bin Ali bin Yahya

Ali bin Awab bin Sungkar Al Urmei

Leuitenant

Leuitenant

Leuitenant

Leuitenant

Leuitenant

6 Maret 1883

3 Juni 1907

21 Juli 1922

26 Februari 1937

6 Mei 1940

 

Berbicara soal kampung Arab Pekalongan, maka sejarah merujuk pada tokoh penyebar Islam pertama di sini bernama Husein bin Salim Alatas yang pada tahun 1834 memasuki Pekalongan bersama dua sepupunya, Abdullah dan Ahmad bin Mukhsin Alatas melalui Nagpur, India untuk berdagang gula. Seperti kebiasaan pendatang Hadharim di masa itu, beliau pertamakali mendirikan Masjid pada 1852, dikenal sebagai Masjid Wakaf. Karena masjid ini menjadi rujukan bagi pendatang Arab lainnya akhirnya tumbuh pemukiman yang bernama Sugihwaras.

Setelah Masjid ini cukup ramai, Ahmad bin bin Mukhsin Alatas yang juga mendirikan Masjid Raudhah. Kedua Masjid ini punya pengaruh terhadap perkembangan Islam di Pekalongan, karena selain menjadi tempat ibadah, Masjid ini juga menjadi rujukan pengajian, dengan metode pengajaran yang digunakan di Masjid Raudhah lebih modern.

Juga dikenal kampung Arab lain di Timur kota, yakni Kelurahan Klego, dimana terdapat sekitar 1.400 warga keturunan Arab dan telah memasuki generasi ke-4 sebagai penghuni wilayah ini. Klego dikenal akan kejayaan ekonominya karena memiliki banyak rumah dengan penampilan modern di masanya, biasanya mengadaptasi gaya arsitektural Eropa. Sedang kampung Pecinan dapat ditemui di seberang Kampung Arab.

Namun Kampung Noyontaan diklaim sebagai Kampung Arab pertama di Pekalongan, didirikan oleh Ki Ageng Noyontoko ketika beliau melakukan babat alas sekitar abad ke 18. Ki Ageng Noyontoko adalah tokoh Hadharim penyebar agama Islam di wilayah ini, mendapat gelar Noyontoko yang diadaptasi dari tokoh peperangan Bharata, Semar Bodronoyo.

Dalam perkembangannya, Noyontaan menjadi daerah elit dan sentra berkembangnya bisnis konveksi, batik, dan komoditas berbau Arab dan Islam. Hal tersebut membuat Noyontaan sebagai titik pembauran budaya Arab dan lokal. Itulah mengapa di daerah ini penduduknya menggunakan bahasa campuran Arab dan Jawa, seperti yang dapat ditemui di Kampung Arab Surabaya.

Membaur cukup lama dengan masyarakat Pekalongan juga membuat para pendatang Hadharim ini terlibat dalam roda perdagangan batik, baik sebagai pengrajin, penyedia alat-alat membatik, hingga menjadi penjual di pasar umum. Tak hanya terlibat dalam perdagangan, seringkali mereka juga memberi pengaruh asli mereka terhadap budaya lokal, seperti yang dapat dilihat dari batik Jlamprang, salah satu batik khas kota Pekalongan.

Seperti halnya Batik Encim yang mendapat pengaruh India, batik Jlamprang sendiri mendapat pengaruh kuat motif Patola dari Gujarat dan Chintz dari pantai Coromandel yang dibawa pendatang Hadharim awal abad 19. Batik ini dikenali atas karakter motifnya berbentuk bujur sangkar dan persegi panjang, menghasilkan bentuk yang menyerupai bunga Padma sebagai warisan budaya Hindu dan Buddha.

Uniknya, batik ini kemudian menjadi bagian penting dari tradisi ritual larungan nyadran persembahan kepada Ratu Pantai Utara, Den Anyu Lanjar. Hal tersebut karena motif pada batik ini melambangkan hubungan antara dunia manusia dan dunia Hyang (Gaib).

Dengan menggunakan teknik ikat ganda dalam pembuatannya, para pengrajin batik Jlamprang ini mempertahankan pewarnaan khas daerah pesisir karena pengaruh Lasem dan Cirebon. Motif batik ini juga tidak menggunakan bentuk hewan atau tanaman, sesuai dengan larangan Islam dalam menggambar makhluk hidup. Sedang di Yogyakarta dan Surakarta, batik Jlamprang menggunakan warna yang berbeda karena pengaruh lokal.

Awalnya kedua motif ini sangat digemari kalangan bangsawan dan golongan kaya raya di masa kerajaan Sriwijaya. Merosotnya perdagangan antara India dan Sriwijaya ini yang akhirnya membuat kain bermotif Patola dan Chintz tidak lagi masuk ke Nusantara. Barulah pada abad 18, pedagang Hadharim dan Cina membuat tiruan motif Patola (kemudian dikenal dengan batik Jlamprang) dan Chintz (dikenal dengan batik Sembagi), dan kembali membawanya dalam perdagangan di wilayah Pantai Utara Jawa.

Begitu terkenalnya Pekalongan sebagai sentra batik dan garmen, pada tahun 1950 – 1970an harga kain di Kampung Arab Pekalongan, khususnya di Jalan Surabaya menjadi acuan bagi kota lainnya. Setelah 1970an, kondisi ekonomi di Pekalongan mengalami penurunan namun masih bisa ditemui toko atau galeri batik di sepanjang jalan tersebut.

Selain batik dan garmen, juga dikenal kulinernya, terutama Rumah Makan Puas dengan model bangunan yang dipengaruhi gaya peranakan Arab, begitu pula dengan ragam menu yang disajikan.

Adil Albatati

Adil Albatati

A writing and music enthusiast, Adil has deep concern in picturing Arab descent's daily life as Indonesian human beside just their political or religious role in the nation. Adil involved in some projects along with international researchers, artists, and also government.