Affair! Saleh Sungkar Tanpa Kepala

Mungkin banyak yang tidak mengetahui atau sekarang sudah mulai lupa mengenai sosok Saleh Sungkar, seorang tokoh Nasionalis Muda, seorang syahid di dalam memperjuangan kebenaran dan melawan korupsi jauh sebelum ada KPK, seorang Pejuang Islam serta mungkin generasi bangsa keturunan Arab pertama yang turun dalam pergerakan politik aktif modern lokal di Indonesia.

Tetapi sebenarnya siapakah Saleh Sungkar ini? Dan apakah kiprahnya selama ini? Saleh Sungkar atau tepatnya Saleh bin Ahmad Abdullah Sungkar, merupakan putra pertama dari Kaptein Arab di wilayah Ampenan / Mataram Lombok Barat, Syeikh Ahmad bin Abdullah Sungkar. Ia dilahirkan pada tahun 1920 di Ampenan, kemudian menyelesaikan sekolah HIS di Mataram Lombok, kemudian melanjutkan di Sekolah MULO Solo dan juga di Taman Madya di Yogyakarta. Saleh semasa muda dan sekolah tergolong sebagai pemuda yang sangat aktif dalam kegiatan pergerakan kemerdekaan nasional selama masa pendudukan Jepang (1942-1945).

Hingga akhirnya setelah bangsa Indonesia mencapai kemerdekaannya pada tahun 1945, Saleh memutuskan untuk kembali ke daerah asalnya, Lombok, untuk ikut membangun daerah dan meneruskan perjuangannya dalam mempertahankan kemerdekaan dan memberikan semangat pro-republiknya di daerah Lombok. Konon ia pun sempat ditahan oleh pemerintah Jepang / Belanda pada waktu itu untuk sementara waktu sebelumnya akhirnya ia di bebaskan kembali.

Penahanan tersebut tidak menyurutkan semangat dan menciutkan tekadnya dalam mempetahankan kemerdekaan RI. Hingga ketika waktu itu, ada pergerakan dari kelompok elit bangsawan Sasak di tanah Lombok yang ingin lepas dari bagian Republik Indonesia dan menghendaki pendirian Negara Indonesia Timur (NIT), Saleh merupakan salah satu penentang aktif dan utama melawan gerakan NIT ini. Dibutuhan keberanian yang luar biasa dan keyakinan yang kuat dalam melakukan penentangan atas keinginan dari kelompok bangsawan Sasak pada waktu itu.

Hingga akhirnya Saleh pun bersama Tokoh Ulama Islam Lombok, Tuan Guru Haji Zainuddin dari Pancor, Lombok Timur, mendirikan organisasi Persatuan Ulama Islam Lombok (PUIL), hingga akhirnya Saleh pun menjadi Ketua DPRD Lombok dengan suara mayoritas, mewakili golongan Masyumi.

Saleh menjadi seorang politikus Islam yang populis dan sangat disegani oleh semua lapisan masyarakat dan ia aktif dalam beberapa organisasi politik dan masyarakat, dan sempat menjadi Ketua Partai Arab Indonesia (PAI) untuk wilayah Lombok. Karirnya semakin cemerlang karena ia berhasil mengambil hati dan memberikan kesempatan kepada masyarakat pribumi untuk bisa aktif dalam politik sebagai wakil pemerintah. Sesuatu yang masih tabu mengingat besarnya peran dan pengaruh bangsawan Sasak pada waktu itu, sehingga ia mendapat perlawanan keras dari golongan bangsawan Lombok dan juga dari kelompok sekuler. Tetapi tekanan dan perlawanan tersebut bukanlah malah menciutkan semangat dan mengecilkan nama Saleh Sungkar, sebaliknya malah membesarkan popularitas dan namanya hingga akhirnya namanya diusulkan oleh masyarakat sebagai calon Kepala Daerah Lombok, 1952.

Di dalam perjalanan karirnya Saleh Sungkar berusaha memberantas korupsi dan juga penyakit masyarakat lainnya seperti perjudian di tanah Lombok. Hingga ia difitnah sebagai aktifis DI-TII, dan akhirnya pada tanggal pada 11 Maret 1952, Saleh Sungkar diculik selepas menonton bioskop di Mataram, dan setelah itu dia sempat hilang beberapa saat. Hingga akhirnya potongan tubuhnya diketemukan tetapi kepalanya sampai saat ini belum pernah ditemukan. Peristiwa keji ini kemudian dikenal sebagai Saleh Sungkar Affair.

Hingga saat ini kita masih bisa melihat saksi dari kiprah Saleh Sungkar dalam perjuangan Islam dan kemerdekaan Nasional, namanya diabadikan menjadi sebuah Jalan di daerah Mataram Lombok, Jalan Saleh Sungkar. Bahkan sampai sekarang makam Saleh Sungkar yang terletak di daerah Bintaro Ampenan masih dijadikan makam keramat dan diziarahi untuk mendapatkan berkah.

Nabiel A. Karim Hayaze'

Nabiel A. Karim Hayaze'

Nabiel has a big passion and interest in writing about history of Arab descents in Indonesia, he wrote : Revolusi Batin Sang Perintis AR Baswedan, and Al Khowatirul Hisan Kumpulan Syair karya Syaikh Ahmad Surkati (Poems Collection) . He is currently doing research on Hadrami Arabs Language and completing his third book on : Hikayat of Kapitein Arab in Indonesia.