Jatuh Bangun Geliat Pendidikan Hadharim Nusantara

Beberapa dekade setelah kedatangan kelompok Hadharim (Arab asal Hadhramaut, Yaman Selatan) di Nusantara, banyak di antara mereka yang mulai menyadari pentingnya pendidikan formal, terutama karena di saat itu belum ada sekolah dengan standar yang sesuai dengan nilai-nilai budaya Arab dan agama Islam.

Akhir abad ke-19, dua majalah besar berasaskan pan-Islam berbahasa Arab, Al Urwatul Wustqa dan Al Manaar telah merajai dan banyak memberi pengaruh komunitas Muslim Arab di seluruh dunia, termasuk komunitas Hadharim di Nusantara. Kedua majalah tersebut banyak menelurkan ide-ide pembebasan berasaskan Islam, termasuk di bidang pendidikan. Umat Islam didorong untuk memajukan generasi penerus tidak hanya kaitannya dengan agama, namun juga sastra hingga teknologi.

Terinspirasi gagasan-gagasan itu, kelompok Hadharim Nusantara akhirnya membentuk instansi pendidikan yang kala itu didirikan secara diam-diam di Pekojan (Batavia) pada tahun 1901 karena pemerintah Kolonial masih membatasi beridirinya instansi pendidikan swasta. 17 Juni 1905, akhirnya instansi tersebut secara resmi disahkan dengan nama Jamiat Kheir (Kebaikan Umat), namun dengan bendera organisasi sosial.

Setahun setelah diresmikan, para pengurus Jamiat Kheir merubah anggaran dasar dan mengajukan kembali kepada pemerintahan Kolonial. Karena pemerintahan tidak melihat adanya kepentingan politik, maka organisasi Jamiat Kheir secara resmi menjadi instansi pendidikan pertama bagi keturunan Arab di Nusantara pada 24 Oktober 1906.

Bertujuan memajukan strata pendidikan kaum Hadharim, sekolah ini membebaskan biaya bagi seluruh muridnya. Dengan cepat berita menyebar, dan banyak keturunan Arab yang berasal dari Karawang, Bogor, Tangerang, hingga Lampung menjadikan sekolah ini sebagai rujukan pendidikan. Berkembang pesat, Jamiat Kheir membuka cabangnya di Krukut, Bogor, dan Tanah Abang hanya dalam kurun waktu 1911-1912.

Perkembangan sekolah ini diikuti dengan program mendatangkan beberapa guru yang berasal dari Timur Tengah. 28 April 1912, beberapa guru tiba di Nusantara, yakni Muhammad Abdulhamid dari Mekkah yang ditempatkan di Bogor, Muhammad Tayyib Al Maghrabi dari Maroko ditempatkan di Krukut, serta ulama besar Sudan, Ahmad Surkati yang ditempatkan di Pekojan. Beberapa bulan berikutnya, guru-guru lain juga didatangkan. Gaya pengajaran yang banyak ditekankan dalam sekolah ini yakni pemikiran kritis dan pengertian, tidak hanya sebatas hafalan. Sekolah ini juga memajukan muridnya dengan mengajarkan bahasa Melayu, Belanda, dan Inggris. Di bidang teknologi, mereka juga mendapatkan pendidikan matematika.

1913, Jamiat Kheir membuka perpustakaan pertamanya yang terbuka secara umum di Tanah Abang. Uniknya, perpustakaan ini banyak menginspirasi tokoh-tokoh penting organisasi Nusantara, seperti KH Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah. Di sini banyak terdapat koleksi mengenai majalah, surat kabar, hingga buku-buku Timur Tengah yang semuanya menyuarakan pembaharuan pendidikan.

Berkembang secara program pendidikan, Jamiat Kheir kurang memuaskan dilihat sebagai organisasi karena anggotanya yang relatif tidak berkembang. Dengan anggota awalnya 70 orang, pada tahun 1915 anggotanya hanya mencapai kisaran 1000 orang.

Pada dekade berikutnya, mulai banyak tumbuh sekolah bagi keturunan Arab di Nusantara, termasuk organisasi pendidikan Al-Irsyad pada 6 September 1914 yang didirikan oleh Ahmad Surkati setelah lepas dari Jamiat Kheir. Melihat fenomena itu, pemerintah Kolonial yang mulai khawatir akhirnya mendirikan sekolah negeri khusus bagi kaum keturunan Arab. Hal itu banyak dipandang sebagai cara pemerintah untuk menyaring dan mendoktrin keturunan Arab, yang akhirnya membuat para orangtua mereka lebih memilih untuk menyekolahkan anak-anak mereka ke Hadhramaut atau Turki. Salah satu dari sekolah ini yakni Hollandsch Arabische School (HAS) yang didirikan di Solo namun tidak terlalu berhasil karena hanya mengumpulkan kurang dari 300 siswa, karena rata-rata anak Arab lebih memilih sekolah yang didirikan organisasi pendidikan (sukarela) Hadhrami.

Di Surabaya, terdapat sebuah sekolah modern bernama Hadhramaut School yang didirikan oleh Muhammad bin Hasyim, seorang sastrawan sekaligus pemimpin Hadhramaut Courant. Sekolah-sekolah serupa akhirnya menjamur hingga ke luar pulau, termasuk di Palu dimana pesantren Al-Khairaat didirikan seorang asli Tharim, Hadhramaut. Pesantren ini sempat menjadi nama besar di kawasan Indonesia Timur, bahkan mendirikan Universitas Islam di Palu.

Sayangnya, sebagian besar dari organisasi pendidikan ini yang hanya merambah jenjang pendidikan SD hingga SMA. Beberapa cabang bahkan mati suri. Kemungkinan hal ini diakibatkan berkutatnya prinsip organisasi yang tidak mengikuti zaman, berakhir digilas perkembangan instansi pendidikan modern lainnya.

Adil Albatati

Adil Albatati

A writing and music enthusiast, Adil has deep concern in picturing Arab descent's daily life as Indonesian human beside just their political or religious role in the nation. Adil involved in some projects along with international researchers, artists, and also government.