Marga & Warisan Strata Sosial

Salah satu ciri yang tidak bisa lepas dari kelompok masyarakat Hadharim yakni nama marga (fam) yang selalu disertakan di tiap nama. Tak hanya sebagai tanda pengenal, fam juga menjadi kebanggaan bagi siapa saja yang membawanya.

Nama-nama fam sendiri terbentuk berdasarkan kelas sosial, tempat asal, sejarah, kebiasaan, sifat nenek moyang, atau hal-hal lain yang menjadi ciri fam tersebut.

Ditelusuri dari silsilahnya, marga Hadharim dibagi menjadi dua golongan besar, yakni yang berasal dari Yaman asli, merupakan keturunan Amr bin Qathan yang berasal dari Nabi Nuh AS, dan golongan kedua yang berasal dari Persia dan mengaku sebagai keturunan Rasulullah SAW yang berhijrah ke Yaman pada tahun 319 H.

Dalam sebuah buku yang dikutip Clarance Smith, dikatakan bahwa orang Hadharim yang menyebut diri mereka lahir di daerah pedalaman Hadhramaut (Wadi Hadhramaut, Wadi Du’an, Wadi Al-‘Ain, Wadi Al-Amud, dan sebagainya) disebut sebagai Wilayati, namun mendapat perubahan pengucapan di Indonesia menjadi Walayti. Sementara yang dilahirkan di daerah pantai disebut As-Sahel.

Dalam lingkungan yang lebih luas, orang-orang Yaman Selatan menyebut diri mereka Yamani, sedang yang berasal dari utara disebut Syimal yang berarti “orang dari utara”.

Selain silsilah dan tempat kelahiran, profesi yang digeluti secara turun temurun juga bisa menjadi fam, yang akhirnya juga menentukan kelas sosial dalam masyarakat:

  • Baalwi adalah golongan ulama, yang mengerti mengenai agama Islam sehingga banyak yang menjadi guru, mubaligh, da’i.
  • Masyayikh atau Syekh, golongan cerdik pandai yang menekuni berbagai bidang ilmu. Menurut Van den Berg, ada dua suku yang berhak menyandang gelar ini secara turun temurun, yakni keturunan Ahmad bin Isa yang bergelar Amud Ad-Din. Nasab lainnya yang berhak menyandang gelar ini antara lain, Bafadhal, Bahomaid, Baraja, Baharmi (Baharmus), Bawazir, Basyu’aib, Bamozaham, Ba’abad, bin Khotib, bin Zabdah.

Dalam kitab Ad-Duwar at-Tarikh fi Al Hadhramiyyah, dikatakan bahwa selama era perang antara Al Quayti dengan Al Katsiri, terdapat beberapa nama Masyayikh yang berperan, yakni Ba’ubaid, Basu’aib, Al Amudi, Al Baraik, Ar Robi’, Al Barosh, Al Bawazir, Al Ishaq, dan AlBama’abad.

  • Ghabili atau Qabili adalah golongan pemerintahan dan kelompok penegak hukum, memiliki derajat yang setara dengan Masyayikh. Golongan ini pada umumnya memiliki tanah yang luas dan subur, bebas membawa senjata yang akhirnya menjadi adat orang Yaman hingga kini.
  • Dhu’afa wa Masakin, yakni golongan bawah yang biasanya berasal dari suku-suku yang kalah perang. Mereka biasanya menjadi Qarwi (pedagang, pengrajin, atau tukang bangunan), Ja’il (pelayan, penggembala), Abid (budak belian yang biasanya melakukan pekerjaan berat dan kotor), dan Sabi’ (penghibur seperti penyanyi, penari, pelawak).
  • Selain beberapa kelas di atas, di Yaman Utara juga terdapat golongan yang disebut Bani Khurmus, dianggap tidak memiliki asal usul yang kemungkinan merupakan blasteran dengan bekas penjajah Axum (Ethiopia) atau Persia. Golongan ini tidak diperbolehkan memiliki tanah dan membawa senjata, sehingga selalu berada di bawah naungan golongan Ghabili.
  • Sedang di strata sosial terbawah ada kelompok Akhdam yang biasanya bekerja sebagai penggali kuburan, tukang memandikan jenazah. Kebanyakan golongan ini merupakan bekas budak yang berasal dari Afrika.

Menurut penulis, tradisi tersebut akhirnya juga berpengaruh bagaimana hari ini pemberian julukan terhadap kelompok keturunan Arab masih terjadi dan juga menjadi tradisi. Itulah mengapa hari ini dapat ditemui orang-orang dengan nama Ahmad Kucing, Usman Gembok, Dola Atos (keras), dll.

Adil Albatati

Adil Albatati

A writing and music enthusiast, Adil has deep concern in picturing Arab descent's daily life as Indonesian human beside just their political or religious role in the nation. Adil involved in some projects along with international researchers, artists, and also government.