Gang Banjar & Jejak Kerajaan Banjarmasin di Empang

Sekitar tahun 1885, daerah Bogor menjadi tempat pengasingan sultan dan para bupati yang dianggap berbahaya bagi pemerintah Belanda, dan sekaligus untuk mengurangi secara sistematis pengaruh kaum feodalis atas masyarakatnya.

Para bupati yang diasingkan berasal dari berbagai daerah, di antaranya dari Pekalongan, Bojonegoro, Sukapura (tempat pengasingan Empang), Purukcau dan Bali.

Sedangkan Sultan Banjarmasin yang dibuang ke Bogor adalah Gusti Arsyad. Di Empang, bekas tempat pengasingannya inilah yang kemudian jejaknya dikenal dengan nama Gang Banjar. Di pengasingannya di Empang, Ia bersama para saudagar Arab kemudian ikut mendirikan Syarekat Dagang Islamiyyah yang pendiriannya diprakarsai oleh Raden Mas Tirtosoediro. Kelak SDI inilah yang kemudian berubah menjadi Syarekat Islam yang diketuai oleh Samanhudi di Solo dan dilanjutkan oleh HOS Tjokroaminoto sebagai tokoh sentral SI dan nama yang melekat erat dengan perkembangan SI dikemudian hari dan dikenal sebagai guru bangsa yang terkenal dengan gelar “Raja Jawa Tanpa Mahkota”.

Sultan Banjarmasin tidak sendirian di pengasingannya di Empang, Ia ditemani istrinya Ratu Zaleha dan beberapa orang kerabat dekatnya. Ratu Zaleha adalah satu dari sedikit pejuang wanita di Nusantara yang gagah berani membela tanah airnya dari cengkeraman kuku penjajahan Belanda. Bersama sang suami, Gusti Muhammad Arsyad bin Gusti Muhammad Said, Ratu Zaleha adalah penerus perjuangan Pahlawan Nasional Perang Banjar Pangeran Antasari.

Di masa tuanya sang Ratu kembali ke kampung halamannya pada tahun 1937 setelah sekian tahun berada di pembuangannya di Empang, dan meninggal pada tanggal 23 September 1953 dan kemudian dimakamkan di pemakaman raja-raja pagustian kesultanan Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Nama Ratu Zaleha diabadikan sebagai nama Rumah Sakit Umum Daerah di kota Martapura, Kabupaten Banjar, dan juga nama jalan di jalan-jalan utama di Kalimantan Selatan, demikian juga dengan Gusti Mohammad Arsyad.

Abdullah Batarfie

Abdullah Batarfie

This essential member of Al Irsyad in Jakarta has deep interest in compiling and writing information about the history of Arab in Bogor as one the oldest Hadharim communities in West Java.