Ibrahim Madiokusumo: Nama Di Balik Diponegoro

Dalam catatan sebelumnya, telah dijelaskan bahwa Hasan al Munadi dan Samparwadi memiliki empat keturunan: dua putra dan dua putri. Putra pertama, Ibrahim (1790 – 1850), mendapatkan nama dari kakeknya, Alwi Ba’abud, sedang kakek dari pihak ibu memberinya gelar RMH (Raden Mas Haryo) Madiokusumo. Sang kakek juga menghadiahinya sebidang tanah di Kota Purworejo yang diberi nama Madiokusuman.

Anak kedua bernama Raden Ayu Reksodiwiryo (menggunakan nama suami). Anak ketiga bernama Raden Mas Puspodipuro. Sedang anak terakhir bernama Raden Ayu Kertopati (juga menggunakan nama suami) yang dinikahi Bupati Purworejo. Tidak banyak catatan mengenai anak kedua hingga anak terakhir ini.

Yang menarik mengenai RMH Ibrahim Madiokusumo adalah, ketika kecil beliau diasuh oleh Gusti Kanjeng Ayu Ageng, permaisuri Sultan Hamengku Buwono I di Tegalrejo. Selama itu pula beliau tumbuh dewasa bersama cucu Gusti Kanjeng Ayu Ageng yang lain bernama Gusti Raden Mas Mustahar, yang dalam Perang Dipanegara oleh ayahnya diberi gelar Sultan Ngabdulkamid Herucukro Kabirul Mukminin Sayidina Panatagama Jawa, atau yang berarti Raja yang adil, yang pertama dari orang-orang yang yakin, pemuka agama dan pengatur agama di Jawa. Sultan Ngabdulkamid ini, kemudian dikenal dengan Pangeran Dipanegara, banyak didampingi dan bertukar pikiran dengan RMH Ibrahim Madiokusumo yang kemudian mendapat gelar Pekih (Penghulu Kiai Haji) Ibrahim (Carrey 1985:174–178; Aswi 2004). Ibrahim kemudian menikahi Pertiwi Suropranoto, putri Raden Ronggo Suropranoto, guru agamanya di Tegalrejo.

Dalam Perang Dipanegara sendiri, Pekih Ibrahim memiliki peranan penting. Banyak dari  strategi jitu yang digunakan dalam perang tersebut merupakan buah pikiran Ibrahim. Selain itu beliau juga dikenal sebagai juru runding dengan Kolonel Cleerens sebelum pertemuan dengan pihak Belanda di Magelang pada 28 Maret 1830. Dalam pertemuan tersebut, Belanda telah menyepakati bahwa pihaknya mengundang Pangeran Dipanegara sebagai tamu dalam rangka memeringati Hari Raya Idul Fitri, namun melanggarnya. Peristiwa ini dengan apik digambarkan oleh Raden Saleh dalam sebuah karya lukisnya berjudul Penangkapan Pangeran Diponegoro. Dipanegara akhirnya diasingkan ke Manado, sebelum dipindahkan ke Makasar hingga akhir hayatnya.

Sedang Pekih Ibrahim, sebagaimana dijelaskan oleh Syamsu As. dalam bukunya, Ulama Pembawa Islam di Indonesia dan Sekitarnya, dalam bab mengenai Perang Dipanegara, mengatakan bahwa beliau akhirnya ditangkap Belanda kemudian diasingkan ke Penang, lalu dipindahkan ke Ambon, meninggal di Benteng Victoria dan dimakamkan di Batu Gajah, Ambon.

Perang Dipanegara dikatakan telah berdampak kerugian yang besar dari pihak Belanda, sehingga membuat perubahan dalam melakukan pendekatan terhadap kerajaan-kerajaan Nusantara, termasuk strategi dalam memperlakukan keturunan Arab di Nusantara.

Babad Dipa Negara

Memang sejauh ini tidak ada sumber lain yang memaparkan mengenai sosok Diponegoro seperti halnya Babad Diponegoro yang konon ditulisnya sendiri selama berada dalam pengasingan di Manado. Kitab ini juga diterjemahkan ke dalam Bahasa Belanda oleh P.J.F. Louw berjudul De Java Oorlog (1894-1909) dan juga dalam Bahasa Inggris oleh Ann Kumar, Diponegoro (1787 – 1855).

Dalam versi Ann Kumar, Diponegoro digambarkan sejak muda telah mengabdi kepada agama seperti halnya nenek moyangnya yang berasal dari Tegalrejo, tempat yang sama Diponegoro tinggal. Hal ini membuat hubungannya dengan keluarganya di Kerajaan Yogyakarta kurang dekat kecuali jika menjelang hari-hari besar keagamaan, seperti Grebeg dan Maulid Nabi. Menurut Diponegoro, perayaan-perayaan semacam itu kuranglah memenuhi kaedah keagamaan, meski di Tegalrejo sendiri masih sering ditemui adat yang sama.

Ketika berusia 20 tahun, Diponegoro yang bernama asli Abdurrachim merubah namanya menjadi Ngabdulkamit (Abdul Hamid) setelah bertemu dengan Sunan Kalijaga.

Dalam kitab yang sama, Diponegoro juga bercerita mengenai pertemuannya dengan Ratu Adil dalam sosok seseorang yang berpakaian Haji. Sang Ratu meminta Diponegoro untuk menemuinya di puncak Gunung Rasamani seorang diri. Di sana Diponegoro menyaksikan Ratu Adil mengenakan surban berwarna hijau dan jubah panjang serta celana berbahan sutra. Sang Ratu memerintahkan Diponegoro untuk menaklukkan Pulau Jawa atas nama Al-Quran.

Diponegoro juga bercerita, bagaimana suatu hari ketika duduk di bawah pohon beringin, dia mendengarkan suara yang mengatakan bahwa dia akan diangkat menjadi Sultan Erucakra. Gelar yang sama juga muncul dalam mimpinya, dimana Diponegoro didatangi oleh 8 pria dengan mengenakan surban yang ujungnya tergantung. Salah satu dari mereka membawa surat yang dibawa dengan kedua tangan. Sang pembawa surat ini memerkenalkan diri sebagai Ngabdulkamid Erucakra, Sayidin Panatagama, khalifah Rasulullah, yang kemudian disambut dengan takbir oleh tujuh orang lainnya.

Dalam insiden pengepungan Diponegoro, Belanda mengatakan bahwa sebetulnya Diponegoro melawan karena tanahnya akan diambilalih Belanda, digambarkan seolah sang Pangeran berperang untuk urusan pribadi. Sebagian bahkan mengatakan bahwasanya perang yang dilakukannya tidak lain hanyalah untuk memenangkan kursi kesultanan Yogyakarta.

Terhadap hal ini, Ann Kumar mengatakan, “Yang membedakan pemberontakan Diponegoro dengan pemberontakan lainnya adalah, perlawanan ini sama sekali bukan mengenai penerusan tahta kerajaan, karena tanpa menjadi Sultan pun, dia memiliki kekuasaan yang sama besarnya.”

Adil Albatati

Adil Albatati

A writing and music enthusiast, Adil has deep concern in picturing Arab descent's daily life as Indonesian human beside just their political or religious role in the nation. Adil involved in some projects along with international researchers, artists, and also government.