Shisha, Tren Kontroversial Bapak Kedokteran

Tersebutlah Hakim Abul-Fath Gilani sang bapak kedokteran berdarah Persia yang bermigrasi ke pemerintahan Mughal (Kerajaan Islam India, 1526 – 1757), yang menemukan instrumen merokok berbentuk botol kaca dan pipa dengan menggunakan tembakau hitam atau Tombeik sebagai bahan utama dan air sebagai penyaringnya atau yang awalnya dikenal dengan nama Huqqa (Hookah), diambil dari bahasa India berarti gelembung. Gilani akhirnya menjadi salah satu tokoh yang paling menentang Hookah dengan alasan kesehatan ketika alat tersebut akhirnya terkenal.

Dikatakan bahwa awalnya Shisha bernama Ghelune yang berbentuk tungku dan pipa dan biasa digunakan oleh kaum wanita yang mencari hiburan di dalam rumah dikarenakan tidak diperbolehkan keluar rumah. Setelah Ghelune berubah bentuk lebih kecil dan bisa dibawa-bawa, barulah alat ini mulai disukai kalangan intelektual dan masyarakat kelas atas. Di bawah Sultan Murat V dari kerajaan Ottoman (1623 – 1640), Shisha mulai menyebar dan bahkan menjadi simbol kekuasaan kesultanannya.

Di negara-negara lain, Hookah disebut dengan beragam nama: Nargileh (atau Argileh) biasa digunakan di Suriah, Turki, Italia, Yunani, Siprus, Azerbaijan, Irak, Yordania, Libanon, dan Israel. Narghile yang berarti kelapa, diambil dari bahasa Persia karena awalnya menggunakan batok kelapa sebagai badan instrumen ini; Sedang di Albania alat ini dikenal sebagai Lula, atau Lulava di Romawi, berarti pipa. Di Uzbekistan dan Afghanistan, disebut Chillim yang digunakan untuk menghisap opium dan ganja. Di Asia Tenggara, nama Shisha lebih umum digunakan terutama di kalangan komunitas Arab dan India.

Sedang kata Shisha yang bermakna kaca dari bahasa Persia, umum digunakan di Mesir, Sudan, beberapa negara Arab, Aljeria, Tunisia, Somalia, Yemen. Di Iran sendiri, Shisha lebih dikenal dengan nama Qalyan. Menurut Johan Neander dalam bukunya Tobacolgia yang diterbitkan pada 1622 di Belanda, dikatakan bahwa Shisha pernah menjadi tren fashion pada abad ke-18 dan disebut sebagai Karim Khan, diambil dari nama tokoh yang membuat peraturan mengenai alat tersebut. Nama ini pada akhirnya digunakan di Ukraina, Rusia, dan Belarusia.

Sedang penyebaran Shisha ke Eropa dimulai ketika India jatuh ke tangan Inggris (1858-1947), tepatnya ketika banyak ekspatriat Inggris yang pulang ke negaranya dan membawa Shisha akhirnya menyebar. Pada tahun 1960-1970an, Shisha bahkan sempat menjadi tren di kalangan pemuda Eropa hingga sempat menemui larangan di beberapa negara. Ketika pemerintahan Shah Safi di Persia (1629 – 1642) menjatuhkan pencekalan terhadap Shisha, alat ini telah mendarahdaging dalam budaya masyarakat. Bahkan di kalangan pelajar, tak jarang ditemukan Shisha di tengah aktivitas belajar mengajar. Penduduk Persia pada akhirnya beralih menggunakan jenis rokok khusus bernama Khansar yang menghasilkan lebih sedikit asap dibanding Shisha.

Saat ini Shisha kembali menjadi tren dan membudaya di seluruh dunia, sebagaimana didapati café-café menjajakan Shisha atau Shisha bar, meski saat ini lebih umum menggunakan gel buah dengan campuran nikotin sebagai pengganti tembakau, dikenal dengan nama Mu’assel yang diambil dari bahasa Arab. Dikenal pula 3 tipe Shisha yang biasa dijajakan dengan takarannya perbandingan antara jumlah tar, karbon monoksida, dan nikotin: Shisha dengan karbon ringan berjumlah sedikit. Tipe ke-2, Shisha berkarbon ringan namun dengan jumlah yang banyak. Yang terakhir, Shisa dengan karbon alami berjumlah sedikit.

Shisha dinikmati secara bersama-sama dengan posisi lesehan, dan diletakkan di tengah kelompok. Secara bergantian, mereka menikmati Shisha sambil membicarakan beragam persoalan, dari urusan keluarga hingga politik dunia. Shisa biasanya dinikmati bersama dengan teh pekat atau kopi pahit.

“Rokok adalah bagi mereka yang gelisah, kompetitif, dan tergesa-gesa. Tapi ketika Anda menghisap Narghile (Shisha), Anda punya waktu untuk berpikir, mengajarkan untuk menjadi lebih sabar, toleran, dan menghormati orang-orang yang baik. Penikmat Narghile memiliki pemaknaan hidup yang lebih baik ketimbang perokok biasa.”
– Ismet Ertep.

Adil Albatati

Adil Albatati

A writing and music enthusiast, Adil has deep concern in picturing Arab descent's daily life as Indonesian human beside just their political or religious role in the nation. Adil involved in some projects along with international researchers, artists, and also government.