Mengenal Feng Shui Rumah Peranakan Arab

Jika memang kesialan itu ada, maka ia terdapat pada 3 perkara: Tempat tinggal, wanita, dan kuda (kendaraan).
(HR. Muslim)

Salah satu bukti paling mudah ditemukannya asimilasi budaya yakni arsitektur. Sebagai negara rujukan bagi perdagangan di masa lalu, Indonesia juga memiliki banyak bukti tersebut. Para pedagang Hadharim (pendatang Arab asal Yaman Selatan) menjadi salah satu pembawa pengaruh tersebut, sebagaimana dapat dilihat dari karakteristik rumah peranakan Arab di seluruh Indonesia dengan ciri khasnya.

Meski tidak memberikan pengaruh besar secara ornamental, namun sistem zoning (pengaturan ruang) dapat ditemui dalam arsitektur rumah peranakan Hadharim, yang menariknya diadaptasi dari Al-Quran dan Hadits sebagaimana masyarakat Tionghoa meyakini Feng Shui sebagai penentu sistem arsitektur dan zoning mereka.

Bagi masyarakat Arab, fungsi rumah dan toko telah melebihi peranannya sebagai tempat tinggal dan beraktivitas, juga memiliki nilai reliji di dalamnya. Seperti peletakan kamar mandi yang selalu terlepas dari bangunan utama dikarenakan adanya penerapan berdasarkan pada sebuah Hadits yang menekankan kamar mandi sebagai ruang hunian iblis:

‘‘Ya Allah, Adam dan keturunannya Engkau beri tempat tinggal di bumi, maka berilah pula aku tempat tinggal,’’ kata iblis. Allah berfirman; ‘‘Tempat tinggalmu adalah WC (kamar mandi atau jamban).’’
(HR. Bukhari)

Secara tradisi, pendatang Arab yang telah lebih dahulu tiba dan berhasil di lingkungannya, merasa berkewajiban menampung pendatang Arab yang baru tiba, tanpa memandang latar belakangnya. Itulah mengapa selalu dapat ditemukan ruang khusus bagi para tamu yang hendak menginap, sebagaimana disebutkan dalam buku Dari Nuh AS Sampai Orang Hadramaut di Indonesia oleh DR. H. A. Madjid Hasan Bahafdullah, MM. digambarkan bahwa di sebagian besar rumah orang Hadharim dapat ditemukan ruang tamu yang begitu besar dan dilengkapi dengan kamar mandi khusus untuk para tamu pria di bagian halaman rumah.

Denah rumah besar.

Denah rumah besar.

Terdapat dua tipe dari rumah peranakan Arab pada umumnya, dengan perbedaan paling mencolok dapat dilihat dari ukurannya. Rumah ukuran besar biasanya hanya terdiri dari 1 lantai, dengan 2 pintu utama. Pintu depan berukuran lebih besar dan menuju ruang tamu, diperuntukkan bagi tamu pria. Sedang pintu yang lebih kecil terletak di samping pintu utama dan langsung menuju ke halaman belakang atau ruang tengah, digunakan bagi para tamu perempuan.

Kamar mandi kedua terletak di belakang rumah, biasanya berjumlah 2 bilik atau lebih, diperuntukkan bagi pemilik rumah atau tamu perempuan. Kamar mandi ini berdekatan dengan dapur dan kamar tidur belakang bagi pembantu.

Di depan bangunan utama rumah ini, biasanya terdapat tembok tinggi yang menghalangi pandangan ke dalam rumah. Di balik tembok ini terdapat halaman kecil sebelum menuju pintu utama, dimana dapat ditemui kamar mandi untuk tamu pria. Konon penggunaan tembok tinggi ini muncul dari masyarakat Mesir yang melengkapi rumah mereka dengan tembok tinggi guna menghalangi pandangan petugas hukum ketika berpatroli dengan menggunakan onta.

Tipe kedua adalah rumah berukuran kecil, biasanya terdiri dari 2 lantai. Lantai dasar digunakan sebagai ruang tamu perempuan dan keluarga, sedang lantai 2 digunakan sebagai kamar tamu pria yang menginap. Sama dengan rumah berukuran besar, kamar mandi terletak di halaman belakang beserta dengan dapur. Bilik kamar mandi lainnya juga dapat ditemui di balkon lantai 2, diperuntukkan bagi tamu pria yang menginap.

Dari tampilan depan, rumah jenis ini tidak ditutupi tembok besar dan tidak memiliki halaman depan, namun hanya pagar setinggi dada (sekitar 1 meter) dan teras yang tidak terlalu besar. Uniknya, di teras ini terdapat tangga yang langsung menuju ke lantai 2, sehingga para tamu bisa langsung menuju ruangan mereka tanpa mengganggu pemilik rumah. Kamar tidur tamu ini tidak memiliki sekat, membentuk satu ruangan besar yang mampu menampung banyak orang.

Denah rumah kecil

Denah rumah kecil

Sebagai pengganti tembok tinggi, rumah tipe ini menggunakan kerai (tirai bambu) yang berfungsi menjadi “jendela 1 arah” dimana para penghuni rumah dapat melihat ke luar, namun pejalan kaki di depan rumah tak dapat melihat ke dalam.

Hal ini pun sesuai dengan Hadits yang menekankan pentingnya menjaga rahasia dalam rumah sebagai salah satu hal yang dapat menyulut fitnah. Tradisi ini dibawa langsung dari Yaman, yang juga menggunakan tirai berbahan pelepah kurma sebagai pengganti pintu atau penutup jendela. Meski dalam beberapa tradisi lain juga dapat ditemukan penggunaan kerai, namun dengan fungsi yang berbeda.

Di masa lalu, rumah-rumah orang Hadharim sangat terbuka bagi para tamu. Mereka yang datang tidak hanya sekedar berkunjung dan lalu, tetapi para tamu tersebut akan menginap selama beberapa hari. Dan hal tersebut merupakan sebuah penghargaan besar bagi sang tuan rumah sebagai hasil dari kentalnya persaudaraan di antara pendatang Hadharim.

Kembali ke tanah Yaman, penduduk Hadhramaut bersosialisasi dengan jiwa kekerabatan dan kesukuan yang teramat besar hingga mereka biasanya membentuk koloni dan pemukiman berdasarkan keluarga besar. Hal tersebut bertujuan untuk memperkuat diri jika terjadi perang dengan keluarga besar dari klan lainnya.

Ketika gelombang besar migrasi Hadharim menyapu Nusantara, budaya “pertahanan diri” semacam itu tidak seketika luntur, seperti yang dapat ditemui di kampung Arab di Surabaya, dimana beberapa kampung diberi nama sesuai dengan klan yang banyak mendiami wilayah tersebut, seperti Gang Baagil (kini Jl. Kalimas Udik IV) yang awalnya mayoritas dihuni keluarga Baagil.

Lambat laun kebiasaan menginap tersebut berubah karena para pendatang akhirnya banyak yang memilih membaur dengan warga pribumi dikarenakan faktor pernikahan dan perdagangan. Namun adab yang terus dipegang teguh yakni mengenai pemuliaan terhadap tetangga karena mereka adalah selayaknya saudara, sebuah adab turun temurun dari nenek moyang mereka di Hadhramaut.

Adab tersebut melekat begitu kuat, hingga tak jarang ditemui keluarga Hadharim yang lebih dekat dengan tetangganya ketimbang dengan keluarga dari klan yang sama. Uniknya, Van den Berg dalam bukunya, Orang Arab di Nusantara, mengungkapkan bahwa perseteruan antar klan yang terjadi di Yaman dapat mereda ketika mereka tiba di Nusantara, dan bahkan menjadi tetangga dekat. Namun sebaliknya, ketidakcocokan antar klan Hadharim di Nusantara dapat membawa bentrokan antar klan di Hadhramaut.

Sebenarnya hal tersebut dapat dimengerti karena ketika orang-orang Hadharim meninggalkan negaranya, mau tidak mau mereka harus membantu satu sama lain, dimana hal tersebut menjadi faktor penyatu perseteruan klan, hingga mereka tiba di tanah tujuan. Tidak sedikit dari para pendatang yang lebih dahulu tiba, menyiapkan rumahnya sebagai tempat bernaung bagi migran yang baru tiba.

Namun dengan semakin berkembangnya zaman dan padatnya penduduk, kebiasaan semacam itu kian hilang. Tak hanya hilangnya kamar mandi tamu, tapi juga budaya menerima tamu selama beberapa hari.

Adil Albatati

Adil Albatati

A writing and music enthusiast, Adil has deep concern in picturing Arab descent's daily life as Indonesian human beside just their political or religious role in the nation. Adil involved in some projects along with international researchers, artists, and also government.