Sultan Hamid II: Lambang Garuda Indonesia Hingga Konspirasi Westerling

Syarif Abdul Hamid Alkadrie atau yang lebih dikenal dengan Sultan Hamid II adalah seorang penerus dari Kesultanan Kadriah, Sultan Syarif Muhammad Alkadrie, lahir di Pontianak, Kalimantan Barat, 12 Juli 1913.

Selain menjadi Sultan generasi ke-5 dan memotori berdirinya provinsi Kalimantan Barat, di awal karirnya Sultan Hamid mengenyam pendidikannya di HBS (Hogere Burger School, sekolah lanjutan tingkat menengah untuk orang Belanda, Eropa, atau elite pribumi) dan setahun di THS (Technische Hoogeschool, perguruan tinggi teknik) di Bandung, meski tidak sampai tamat. Kemudian Sultan Hamid II bergabung dengan KNIL (angkatan perang Belanda) hingga mencapai pangkat tertinggi, yakni General Majoor. Beliau bahkan menjadi orang Indonesia pertama yang menjadi ajudan resmi ratu Belanda, Buitenfgewone Dienst bij HN Koninginder Nederlanden. Sultan Hamid II juga sempat menjadi Menteri Negara selama kabinet Mohammad Hatta.

Ketika Republik Indonesia Serikat (RIS) terbentuk, Presiden Soekarno mengangkat Sultan Hamid II sebagai Menteri Negara Zender Porto Folio tahun 1949-1950., dan selama memegang jabatan itu, beliau ditugaskan untuk merumuskan dan merancang lambang negara pertama Indonesia. Pada tanggal 10 Januari 1950, dibentuklah Panitia Lencana Negara yang beranggotakan Muhammad Yamin sebagai ketua, Ki Hajar Dewantoro, M. A. Pellaupessy, Mohammad Natsir, dan RM Ngabehi Poerbatjaraka sebagai anggota. Panitia ini bertugas menyeleksi usulan lambang negara yang kemudian akan diajukan kepada negara.

Pada saat itu terpilihlah dua kandidat lambang negara, yakni milik Sultan Hamid II dan karya M. Yamin, namun pada akhirnya lambang negara rancangan M. Yamin gagal terpilih karena menyertakan gambar pancaran sinar matahari yang erat kaitannya dengan pengaruh Jepang, sedang lambang milik Sultan Hamid II berupa garuda bertubuh manusia yang memegang perisai. Setelah rancangan terpilih, digelarlah pertemuan antara Sultan Hamid II, Presiden Soekarno, dan Perdana Menteri Mohammad Hatta yang memberikan hasil perubahan pita yang awalnya berwarna merah putih, menjadi putih saja dengan tulisan “Bhineka Tunggal Ika”.

Tanggal 8 Februari 1950, lambang tersebut mendapat masukan dari Partai Masyumi untuk dipertimbangkan karena gambar manusia garuda berbau mitologi, hingga dirubah menjadi garuda seutuhnya, dengan perisai di dadanya dan mencengkeram pita, dan hingga kini masih digunakan meski beberapa kali mengalami penyempurnaan.

Dalam buku Sekitar Pancasila oleh AG Pringgodigdo, Pusat Sejarah ABRI mengatakan bahwa lambang negara karya Sultan Hamid II diresmikan dalam Sidang kabinet RIS, dan diperkenalkan secara umum pada 15 Februari 1950 di Hotel Des Indes, Jakarta. Bung Hatta dalam bukunya Bung Hatta Menjawab, juga mensahkan bahwasanya lambang negara Garuda Pancasila memang merupakan kreasi dari Sultan Hamid II.

Sayang, karena kedekatannya dengan pemerintah Belanda pula beliau akhirnya bernasib buruk. Sultan Hamid II Dituduh menjadi dalang dalam tragedi pemberontakan oleh APRA (Angkatan Perang Ratu Adil) di bawah pimpinan Kapten Raymond Westerling di Bandung dan Jakarta pada 23-24 Januari 1950, termasuk upaya pembunuhan terhadap Sultan Hamengkubuwono IX selaku Menteri Pertahanan kala itu. Sultan Hamid II dianggap pengkhianat sehingga jabatannya dalam RIS ditarik dan dihukum 10 tahun penjara meski tuduhan terhadapnya tak pernah terbukti.

Sultan Hamid II meninggal pada 30 Maret 1978 di Jakarta dan dimakamkan di pemakaman keluarga Kesultanan di Batulayang, Pontianak. Beliau menikah dengan seorang wanita Belanda yang memberikan keturunan dua orang anak dan hingga kini berada di Belanda.

Beberapa dekade kemudian, pelbagai upaya kemudian dilakukan untuk membongkar konspirasi sejarah tersebut. Beberapa seminar mengenai hal ini digelar, munculnya para intelektual penguak sejarah yang membentuk Yayasan Sultan Hamid II, hingga diajukannya Sultan Hamid II sebagai pahlawan nasional. Semuanya diharapkan mampu membersihkan dan mengembalikan nama Sultan Hamid II dalam jajaran tokoh dengan kontribusi besar bagi Indonesia.

Adil Albatati

Adil Albatati

A writing and music enthusiast, Adil has deep concern in picturing Arab descent's daily life as Indonesian human beside just their political or religious role in the nation. Adil involved in some projects along with international researchers, artists, and also government.