Nahdah: Lahirnya Hadhramaut Baru

Di atas segala-galanya, kita adalah orang-orang Hadhrami.

Kalimat provokatif di atas adalah sepenggal tulisan dari sebuah artikel majalah pertama kaum Hadharim (Arab asal Yaman Selatan), Al-Bashir, berjudul Nahnu Hadhramiyyun Qabla Kulli Shay (Kita Hadrami Sebelum Segala Sesuatu) yang dirilis pada tahun 1915, fase yang menandai Nahdah, sebuah konsep kebangkitan menuju dunia modern melalui beragam adopsi guna mencapai kesetaraan dengan kelompok masyarakat lain.

Kebangkitan tersebut mengalami peningkatan selama pemerintahan Abdulhamid II, sultan Turki yang kala itu menjadi pusat pemerintahan Islam dunia, terutama kaitannya dalam melawan penjajahan dunia Barat. Sultan Abdulhamid II dengan gerakan pan-Islaminya, mulai membentuk propaganda global berbentuk surat kabar yang dengan cepat membangkitkan pergerakan media di seluruh dunia: Ma’lumat dan Servet di Istanbul, Thainarat al-Funun di Beirut, Al-Muayyad, Misbah al-Sharq, ‘Alam al-Islam, Al-Liwa’, dan Al-Manar di Mesir. Sedang di Nusantara, bisa ditemukan penulis Muhammad bin Aqil Yahya yang memiliki nama pena Sayf ad-Din al-Yamani (Pedang Agama Yaman), dengan beberapa penulis anonim yang mencetak surat kabar Al-Imam.

Revolusi Konfusianisme tanah Tiongkok pada sekitar tahun 1895 juga memberikan pengaruh besar, yang dengan cepat menyebar ke Singapura dan Malaya, dimana sekelompok pemuda Tionghoa terpelajar membentuk Tiong Hoa Hwe Koan (THHK) di Batavia yang bertujuan mengubah tradisi “takhayul” Tionghoa dengan pemikiran modern namun tak melepas budaya asli mereka. Salah satu dari gerakan nyata ini yakni dengan didirikannya sekolah-sekolah berbahasa Mandarin sejak tahun 1900.

Sedang dalam dunia Hadharim, kebangkitan ini ditandai dengan munculnya 3 aspek, yakni asosiasi, sekolah modern, dan surat kabar. Di Nusantara, Nahdah juga menjadi penanda berkembangnya perasaan nasionalis terhadap negara tempat mereka tinggal.

Di negara asal mereka, Yaman, masyarakat Hadharim dibagi dalam strata sosial yang memudar selagi mereka melakukan perjalanan ke berbagai penjuru dunia, termasuk Nusantara. Hal tersebut telah memicu munculnya kelompok elite baru yang lebih mengedepankan posisi mereka dalam masyarakat lokal, terlepas dari latar belakang strata sosial mereka di Yaman.

Terdapat dua nama yang disebutkan menjadi pionir dari kebangkitan ini, yakni Abdullah Al-Attas yang lahir di Batavia pada tahun 1850, dimana di masa mudanya beliau melakukan perjalanan ke Mekkah, Timur Tengah, India, Australia, sebelum akhirnya kembali ke tanah Jawa pada akhir abad ke-19. Beliau kemudian mendirikan berbagai sekolah dan organisasi Hadrami yang menjadi salah satu cikal bakal kebangkitan pendidikan kelompok Hadhrami.

Nama lainnya yakni Syaikh Umar bin Yusuf Mangqus, yang meski tidak lahir dari dari keluarga kaya, namun memiliki tekad besar untuk menjadi pedagang kaya dan pemilik bisnis properti. Beliau dikenal akan gebrakannya dalam menjalin hubungan baik dengan pemerintah kolonial yang dianggap musuh oleh sebagian besar masyarakat Hadharim pada masa itu. Beliau diangkat menjadi Kapten Arab di Batavia pada tahun 1902, dan pada tahun 1921 dianugerahi gelar Knight of The Order of Orange Nassau atas dedikasinya menjaga hubungan baik dengan pemerintah kolonial. Hampir semua bisnisnya memiliki hubungan dengan Eropa, hingga menimbulkan kontroversi ketika mengundang orang-orang Eropa dalam pernikahan putrinya. Gebrakan lain yang dilakukan Mangqus yakni penolakannya mencium tangan golongan Alawiyyin. Beliau dikenal sebagai salah satu penggagas sekolah Al-Irsyad.

Dampak dari renaissance tersebut tidak hanya dirasakan oleh kelompok Hadharim di Nusantara, bahkan lebih jauh merubah wajah Hadhramaut, karena kesuksesan mereka tak serta merta membuat mereka lupa akan watan (tanah air) mereka di Hadhramaut, dimana mereka meninggalkan kenangan dan keluarga. Makin lama, perasaan tersebut kian menguat hingga kelompok pedagang sukses Hadhrami di Nusantara merasa memiliki tanggungjawab lebih untuk membawa reformasi ke tanah Hadhramaut.

Sebuah artikel berjudul Al-Islah wa’l Watan (Reformasi dan Tanah Air) dalam surat kabar Al-Bashir yang ditulis oleh penulis bernama pena “pelayan untuk watan-nya”, memprovokasi kalangan kaya Hadhrami Nusantara untuk kembali ke tanah kelahiran mereka di Hadhramaut dan menggunakan harta mereka untuk perkembangannya. Selama masa berikutnya, banyak bermunculan artikel serupa, hingga melahirkan Federasi Hadhrami, sebuah organisasi yang ditujukan untuk orang-orang Hadhrami dalam membawa perubahan di tanah Hadhramaut, termasuk program pembangunan pusat pendidikan dan sekolah putri, penerbitan surat kabar, dan pengiriman pelajar ke negara-negara berkembang untuk mendapatkan ilmu pengetahuan modern.

Namun sayang, meski mendapat dukungan penuh dari kalangan Hadhrami Nusantara, pertentangan kuat justru muncul dari golongan tua di Hadhramaut yang merasa bahwa reformasi tersebut akan menggeser bahkan merusak budaya asli mereka.

Sebuah peristiwa besar pada tahun 1927 akhirnya membawa perubahan konkret. Dua kesultanan besar yang saling berseteru di Hadhramaut, Al-Katsiri dan Al-Qu’ayti menandatangani persetujuan perdamaian dalam sebuah kongres yang menghasilkan Perjanjian Shihr. Salah satu dari hasil keputusan tersebut yakni kedua pemerintahan akan mengundang orang-orang Hadhrami dimanapun untuk kembali ke Hadhramaut dan melakukan pembangunan di seluruh penjuru wilayah.

Dengan cepat undangan tersebut sampai ke telinga migran Hadhrami Nusantara yang melihatnya sebagai kesempatan langka, dan segera membentuk kongres perwakilan Arab di semenanjung Malaya yang digelar di Singapura. Kongres tersebut menghasilkan dua puluh tiga resolusi yang ditujukan untuk kedua pemerintahan Al-Katiri dan Al-Qu’ayti, berisi desakan perubahan pengaturan adat istiadat dan senjata bagi kedua kubu, dan permintaan untuk dianggarkannya majelis umum pendidikan di Hadhramaut yang diatur oleh orang-orang Migran Hadhrami. Singkatnya, mereka mengharapkan Hadhramaut yang bersatu.

Proposal tersebut awalnya diterima dengan baik oleh pemimpin Al-Qu’ayti, Sultan Salih, meski ditentang oleh pamannya, Sultan Umar yang mengkhawatirkan timbulnya perpecahan besar di Hadhramaut. Namun semangat reformasi yang kian membesar tak terbendung lagi hingga rencana reformasi tersebut terjadi secara diam-diam, dimulai dari wilayah Tharim.

Di Tharim, para pedagang Hadhrami berlomba membangun kerajaan yang modern dan dengan cepat menyebar ke wilayah lainnya, hingga pada 1930an banyak orang Eropa yang berada di Hadhramaut merasa takjub dengan perubahan cepat di depan mata mereka. Mereka juga membangun Masjid-Masjid besar, pusat kesehatan, dan tentunya sektor pendidikan.

Harus diakui, bahwa reformasi ini tak lepas dari tangan orang-orang Inggris yang kala itu menjadi penasihat bagi pemerintahan Al-Katiri – Al-Qu’ayti. Meski ini adalah bagian dari kepentingan politik Inggris di Yaman, namun mereka juga memiliki peranan sebagai negosiator bagi pendatang Hadharim di Nusantara. Persetujuan intervensi ini didasari bahwa Singapura yang kala itu menjadi model negara berkembang juga berada di bawah naungan Inggris.

Itulah mengapa, ketika D. Van der Meulen dan Herman van Wismann melakukan ekspedisi ke Yaman pada tahun 1931, mereka menemukan wilayah tersebut telah berkembang pesat, merubah persepsi mengenai Hadhramaut sebagai wilayah yang terpencil, kumuh, dan miskin.

Hingga akhir 1930an, perkembangan terus terjadi secara pesat, terutama di bidang pendidikan dimana sekolah-sekolah modern bermunculan hampir di setiap wilayah Hadhramaut, dan menurun secara drastis tatkala Jepang menduduki Nusantara pada Perang Dunia II, merampas properti dan kekayaan orang-orang Hadharim.

Adil Albatati

Adil Albatati

A writing and music enthusiast, Adil has deep concern in picturing Arab descent's daily life as Indonesian human beside just their political or religious role in the nation. Adil involved in some projects along with international researchers, artists, and also government.