Samosa, Kotak Pandora Kebudayaan Dunia Timur

Samosa telah melampaui bentuknya yang sesederhana segitiga. Samosa adalah wadah meleburnya beragam kebudayaan dunia Timur yang selama ratusan tahun melakukan banyak penjelajahan dan secara cerdas beradaptasi dengan baik secara bentuk serta bahan dasar ketika memasuki negara baru: dari Asia Tengah hingga Semenanjung Arab, Afrika hingga Timur Jauh.

Nama Samosa atau Sambosa diambil dari Samsa, dalam bahasa Asia Tengah berarti bentuk piramid. Di beberapa negara lain, nama Samosa juga dikenal secara berbeda, seperti Sanbosag di Persia dengan bentuk bulan sabitnya. Atau di Timur Tengah dengan bentuk setengah lingkaran dan menggunakan keju dan bayam sebagai tambahan isi.

Makanan ringan berisi ragam rempah dan daging ini diperkirakan berasal dari Asia Tengah sebelum abad ke-10 dan banyak diperkenalkan di seluruh kawasan Asia pada abad ke-13 oleh kalangan pedagang dan pelaut yang kala itu banyak berinteraksi dengan pelabuhan dan kesultanan Delhi (1206 – 1526), sedang teori lain mengatakan sejatinya Samosa berusia lebih tua daripada itu, yakni berasal dari Ghaznavid (977 – 1186), kesultanan Muslim asal Persia.

Nama Samosa banyak muncul dalam beberapa literatur kenegaraan. Seorang penyair dan tokoh cendekiawan Kerajaan Delhi, Amir Khusro (1253-1325), pernah menulis pada tahun 1300an mengenai kaum bangsawan yang sangat menyukai makanan berbentuk segitiga berisi daging, minyak samin, bawang Bombay, dan rempah lainnya. Abolfazl Beyhaqi (995-1077), tokoh sejarawan Iran, dalam bukunya Tarikh-e-Beyhaghi, mengatakan bahwa Samosa dibawa oleh para pedagang India pada abad ke-13 atau 14.

Samosa seller in Indian street. (Catch News)

Penjelajah asal Maroko dari abad ke-14, Ibnu Batutah, dalam tulisannya juga menjelaskan mengenai makanan yang disajikan di istana Muhammad bin Tughluq (Raja Delhi dari tahun 1325 hingga 1351) bernama Samushak atau Sambusak, yakni kue pie berisi daging cincang dan beberapa macam kacang yang disajikan sebagai makanan penutup.

Meski awalnya makanan ini diperuntukkan bagi kaum bangsawan, namun lambat laun Samosa juga menemukan penikmatnya dari kelas-kelas sosial lainnya, sebagaimana sebuah dokumen kerajaan Akbar Mughal dari abad ke-16, Ain-i-Akbar, mencatat mengenai makanan bernama Sanbusah yang dikatakan gemar dimakan oleh orang-orang Hindustan. Para tentara Muslim Hindustan bahkan kerap membawa Sambosa sebagai bekal ketika berada di medan perang karena ukurannya yang membuatnya mudah dibawa. Hari ini, Samosa bahkan telah banyak ditemui di jalan-jalan.

Sedang di Indonesia, sejarah Samosa juga memiliki benang merahnya, yakni para pendatang Arab dan Persia yang sebelumnya memiliki hubungan dagang dan politik dengan pelabuhan India di Gujarat, turut membawanya ketika tiba di Nusantara. Tidak seperti di negara lain dimana Samosa menjadi makanan umum, Samosa di Indonesia hanya banyak ditemui di Kampung Arab di seluruh Indonesia, tentunya dengan penyesuaian bahan sesuai dengan wilayah masing-masing. Bahkan dikenal pula beberapa keluarga secara turun temurun membuat dan menjajakan Samosa dengan rasa yang masih terjaga.

Adil Albatati

Adil Albatati

A writing and music enthusiast, Adil has deep concern in picturing Arab descent's daily life as Indonesian human beside just their political or religious role in the nation. Adil involved in some projects along with international researchers, artists, and also government.