Kemadjoean Untuk Kemajuan Hadharim

Mengikuti fenomena kebangkitan masyarakat Hadharim (Arab asal Yaman Selatan) yang kemudian dikenal dengan istilah Nahdah, kian menjamurlah sekolah-sekolah modern bentukan tokoh-tokoh saudagar dan terpelajar, seperti yang dipelopori Jamiat Kheir di Batavia pada awal 1900an. Sedang di Surabaya, muncul pula sekolah modern yang tak kalah pentingnya, yakni sekolah Al-Irsyad oleh Syech Ahmad Surkati pada 1911.

Cukup menuai kesuksesan di kota ini, Al Irsyad tak hanya merubah strata pendidikan namun juga gaya hidup golongan Muwallad (peranakan Arab) yang membuat sekolah ini akhirnya harus memikirkan pengembangan sekolah di masa-masa berikutnya. Namun dikarenakan terbatasnya pendanaan yang hanya ditanggung oleh 8 nama saja, yakni Rubaya bin Mubarak bin Thalib, Usman bin Muhammad Al Amoudi, Salim bin Saad Nabhan, Salim bin Ahmad Basyarahil, dan Abubakar bin Ahmad Basyarahil, maka mereka bersepakat untuk mendirikan bisnis lain sebagai pemenuhan operasional Al Irsyad, salah satunya yakni hotel yang kala itu memang menjadi surganya para pedagang dan pendatang di Surabaya sebagai gerbang timur Jawa.

Maka didirikanlah Hotel Kemadjoean pada 15 Januari 1924 di Kampementstraat (sekarang jl. KH Mansyur) yang sebagaimana namanya, memang diharapkan hotel ini dapat menopang kemajuan tak hanya bagi sekolah Al Irsyad, namun juga masyarakat Hadharim di Surabaya secara merata. Seluruh pemasukan dari hotel ini digunakan untuk jalannya sekolah Al Irsyad dan kegiatan lainnya yang terkait dengan sekolah tersebut.

Seiring perkembangan zaman, hotel ini masih kokoh ditemui berdiri dengan fungsi yang masih sama, yakni menyediakan kamar-kamar bagi pedagang dan pendatang, dengan bentuk arsitektural yang tak jauh berubah, yakni banyak mengadaptasi ciri bangunan Eropa dan Turki atau Spanyol yang di masa itu juga banyak terlihat di rumah tinggal atau bangunan lainnya. Hal ini bisa dilihat dari penggunaan pintu besar, baik bagi pintu masuk ataupun pintu kamar.

Hotel Kemadjuan hari ini.

Di atas pintu masuk, terlihat marmer besar bertuliskan “Kemadjoean Hotel 1928” yang menandakan tahun diresmikannya hotel ini, dengan font yang mengingatkan akan saloon di film-film koboi. Memasuki pintu hotel, kita akan disambut dua tangga berlantai kayu melingkar di kedua sisi lobi utama bangunan yang membentuk goa kecil dengan dinding keramik bernuansa Turki. Di lobi ini tersedia ruang kecil sebagai penerima tamu. Di seberang ruang resepsionis ini, terpampang plat logam bertuliskan 8 nama pendiri hotel ini.

Memasuki lorong, terlihat halaman tanpa atap yang dilingkari beberapa kamar dengan bermacam ukuran, 3×4 meter hingga 4×5 meter. Sedang jika kita menaiki tangga melingkar ke lantai dua, kita akan disambut balkon berlantai kayu dengan bangku-bangku panjang yang ditata sedemikian rupa untuk para tamu yang hendak bersantai, menikmati suasana riuh jalanan KH Mas Mansyur atau sekedar menonton televisi.

Di sekitar balkon, kamar-kamar berjejer di sepanjang koridor di sisi kanan dan dalam. Dalam kamar berukuran 4×5 ini, disediakan pembaringan kuno berbingkai besi yang mampu menampung 2 orang tamu. Meski ruangan ini terasa kuno, namun juga tersedia pendingin ruangan bagi kamar dengan harga sewa agak mahal. Total tersedia 29 kamar di hotel ini, dengan harga yang relatif terjangkau, dari 75 ribu hingga 190 ribu jika menggunakan pendingin ruangan dan kamar mandi dalam.

Saat inipun, dapat ditemui mayoritas pengunjung yang berasal dari luar kota atau bahkan luar pulau Jawa, utamanya pedagang atau peziarah asal Indonesia Timur yang mencari barang dagangan atau sekedar mengunjungi Masjid Ampel.

Keunikan lainnya, di bagian depan hotel ini terpampang sebuah papan yang berisi daftar nama orang Hadharim yang meninggal hari itu, tidak hanya di Surabaya namun hingga skala nasional bahkan internasional, selama ia masih memiliki ikatan keluarga dengan kluarga Hadharim di Kampung Arab Surabaya.

Tak hanya menjadi tempat melepas letih, bermalam di Hotel Kemadjoean akan membawa kita melewati perjalanan sejarah di salah satu sudut tertua kota Surabaya.

Adil Albatati

Adil Albatati

A writing and music enthusiast, Adil has deep concern in picturing Arab descent's daily life as Indonesian human beside just their political or religious role in the nation. Adil involved in some projects along with international researchers, artists, and also government.