Tentara Nabi di Antara Arus Polemik Kejawen

11 Januari 1918, surat kabar berbasis Sekuler kejawen asal Surakarta, Djawi Hiswara, merilis sebuah artikel berjudul “Gusti Kandjeng Nabi Rasoel Minoem A.V.H. Gin dan Kadang Soeka Mengisap Opioem” berisi percakapan antara tokoh bernama Marto (dharsono) dan Djojo (dikoro), yang diambil dari Suluk Gatoloco, seorang tokoh pewayangan berwajah buruk namun memiliki ilmu agama yang tinggi.

Di akhir percakapan, Djojo mengatakan, “Inggih mangsuli bab badhe angrembag Gusti Allah rehning sampundalu punapa boten prayogi enjing-enjing kemawon, sarta mawi pirantos wilujwngan sekul wuduk, ciu, lan klelet, Gusti Kanjeng Nabi Rasul Sallaluhualihi wassalam, kados sabataning tiyang dipun wejang. (Ya, kembali pada pembicaraan tentang Gusti Allah, karena sudah malam sebaiknya besok pagi saja dengan perlengkapan selametan, nasi uduk, minuman ciu (minuman keras) dan tembakau, Gusti Kanjeng Nabi Rasul SAW, seperti kebanyakan orang dinasehati).

Sebenarnya sang penulis mencoba “melokalkan” Nabi Muhammad yang digambarkan memiliki kedekatan dengan ciu dan candu dalam berdiskusi sebagaimana budaya masyarakat Jawa kala itu, namun artikel tersebut dianggap sebagai hinaan sehingga memantik respon berapi. Beberapa surat tuntutan dilayangkan kepada pemerintahan kolonial agar Djawi Hiswara dibubarkan dan dilakukan penangkapan terhadap tokoh-tokohnya, namun tak mendapatkan respon yang memuaskan.

Menanggapi hal ini, muncul beragam respon dari cabang-cabang Sarekat Islam (SI), termasuk kemudian Central Sarekat Islam (CSI) di bawah pimpinan Haji Omar Said (HOS) Tjokroaminoto bersama dengan Bupati Surabaya, Hasan bin Smit, yang menggelar rapat pada 6 Februari 1918 di Surabaya, dengan hasil dibentuknya komite pembela agama Islam bernama Tentara Kandjeng Nabi Muhammad (TKNM).

Komite ini memiliki formasi kepemimpinan awal yakni Tjoroaminoto sebagai ketua, Sosrokardono sebagai sekretaris, Sech Roebaja bin Ambarak bin Thalib, salah seorang pimpinan Al Irsyad Surabaya sebagai bendahara. Dengan tiga tujuan yang dipengaruhi pan-Islami, yakni memajukan Islam di Hindia, memajukan persatuan sesama Muslim, dan melindungi kehormatan Islam, Nabi Muhammad, dan kaum Muslim, awalnya TKNM dengan cepat menarik keterlibatan kaum Hadharim (pendatang Arab asal Yaman Selatan), baik pemikiran, tenaga, maupun pendanaan.

Dalam pawai pertamanya di Surabaya pada Februari 1918, TKNM berhasil menggerakkan massa sebanyak kurang lebih 35.000 orang dan mengumpulkan sekitar 3.000 gulden. Aksi ini diikuti protes serentak pada 24 Februari 1918 di 42 tempat di seluruh Jawa dan sebagian Sumatera, dengan jumlahnya mencapai 150.000 orang.

Di sisi lain, berkembangnya gerakan ini malah memunculkan kekhawatiran akan lahirnya gelombang penghukuman terhadap bumiputera yang kurang taat Islam, sebagaimana tercermin dalam sebuah tulisan dalam surat kabar asal Surabaya, Neratja pada Februari 1918.

Bisa dibilang, artikel ini menjadi pemicu artikel-artikel serupa berisi hinaan atas Nabi Muhammad lebih jauh, seperti Majalah Bangoen yang merilis artikel terkait istri-istri Nabi. Kelompok kejawen bahkan mendirikan komite tandingan bernama Komite Nasionalisme Jawa, menuding bahwasanya TKNM sebagai gerakan yang ditunggangi kepentingan kelompok Arab.

Bulan Oktober di tahun yang sama, setelah pertentangan makin membesar, TKNM hampir bubar. Kondisi ini diperburuk dengan penolakan Tjokroaminoto untuk mendaftarkan TKNM sebagai badan legal, menunjukkan betapa rendahnya sebenarnya keseriusan terhadap komite ini sehingga berdampak pada penurunan kontribusi masyarakat Hadharim dan berujung keluarnya anggota Hadharim dalam badan SI secara massal sehingga menyebabkan hilangnya pendanaan utama.

Sedang TKNM sendiri mendapat kritikan cukup pedas, terutama dari golongan aktivis SI Surakarta di bawah komando Haji Misbach yang mengatakan bahwa gerakan ini hanya berkutat pada agenda pertemuan tanpa adanya gerakan nyata terhadap kasus penghinaan Nabi tersebut. Dalam surat kabar binaannya, Islam Bergerak, Misbach pada 10 Juni 1918 merilis sebuah artikel oleh Mr. Zahid berisi kritikan keras terhadap kepemimpinan Tjokroaminoto yang menganggapnya hanya menggunakan TKNM untuk mengumpulkan dana bagi CSI:

“..Dan comite sekarang soedah djadi sate jang dimakan oleh sepertjik noda pes dan sekarang tinggal toesoeknya sadja. Ingat pemimpin comite, bangsa soedah siap membangoen kekoeatan loear biasa jang teroes meningkat dari hari ke hari. Dan apa jang telah kamoe lakoekan, pemimpin comite? Bersoeka ria dan berdiam diri.
Djanganlah membisoe, pemimpin comite?!”

Tak lama setelahnya, diam-diam Tjokroaminoto mencoba mengakhiri kampanye tuntutan terhadap Djojo dan Martho, meski mendapat tentangan dari Hasan bin Smit, dan berakhir keluarnya Hasan dari CSI dan TKNM, diikuti pecahnya 2 suara dalam badan SI: Para pendukung Samanhoedi dan anti-Tjokroaminoto, terdiri dari saudagar batik Laweyan, sedang yang kedua adalah pendukung Tjokroaminoto, berisi kelompok ulama dan saudagar Arab.

Celah ini menjadi salah satu penyebab runtuhnya SI di kemudian hari, yang sebenarnya cukup berhasil menyatukan umat Muslim namun juga menyebabkan perpecahan antara golongan bumiputera Islam dan kejawen dalam 2 kubu: Putih yang berhaluan Islam, dan merah yang berhaluan Sosialis. Misbah menganggap perpecahan ini tak ubahnya bentuk lain dari penghinaan terhadap Nabi Muhammad, sehingga ia dan beberapa pemuda membentuk Sidiq Amanat Tableg Vatonah (SATV) pada Mei 1918 untuk menunjukkan gerakan “Islam Sedjati” dengan berusaha mengambilalih SI Surakarta.

Meski demikian, kasus tersebut berada di bawah yuridiksi Sunan Solo yang membuatnya tidak pernah diselesaikan karena dianggap bukanlah penghinaan terhadap agama lain, mengingat kedua pihak berasal dari golongan Muslim.

Adil Albatati

Adil Albatati

A writing and music enthusiast, Adil has deep concern in picturing Arab descent's daily life as Indonesian human beside just their political or religious role in the nation. Adil involved in some projects along with international researchers, artists, and also government.