Mengungkap Dua Wajah Abdul Ghafar di Indonesia

Mengenai sejarah Islam dan khususnya orang-orang Arab di Indonesia, rasanya tak bisa dilepaskan dari nama Abdul Ghafar, tokoh kontroversial dari kalangan peneliti atau politikus yang beraliran orientalis, dikenal sangat dekat dengan pemerintahan kolonial Belanda namun juga bersahabat bahkan teman bertukar pikiran dengan kalangan Muslim dan Arab hingga ke ranah Internasional. Maka ada baiknya kita merunut sepak terjangnya, dimulai dari seorang peneliti Belanda bernama Christiaan Snouck Hurgronje.

Christiaan Snouck Hurgronje lahir di Ossterhout, Belanda pada 8 Februari 1857 dari keluarga berdarah Yahudi namun telah beralih ke Protestan di Belanda. Anak ke empat dari pasangan pendeta Gereja Hervmond di Tholen bernama Christian de Visser, sedang ibunya bernama Anna Catherina Scharp, putri dari DS. J. Scharp, seorang penginjil di Rotterdam yang juga penulis buku Korte schets over Mohammed en de Mohammadanen Handleiding voor de kwekelingen van het Nederlanche Zendelinggenootscap (Sketsa Ringkas Tentang Muhammad dan Pengikut Muhammad, Pegangan Bagi Pengabar Injil Belanda) pada tahun 1824.

Karena besar dari keluarga pendeta Protestan, Snouck muda mulai mendalami kependetaan, hingga terpilih sebagai salah satu kandidat pendeta di Kerkelijk Album Universitas Leiden, dimana ia menyelesaikan studinya di Jurusan Bahasa Semit pada 1880, dengan tesisnya berjudul Het Mekkaansche Feest (Festival Mekkah), merujuk pada ibadah Haji.

Dari situlah kedekatannya dengan dunia Arab dan Islam dimulai.

Snouck awalnya mengajar di Leiden & Delf Akademie, dimana semua pejabat mendapatkan pelatihan sebelum ditempatkan di daerah jajahan, termasuk Indonesia. Banyak berinteraksi dan bertukar pikiran dengan kalangan pejabat membuat konsul Belanda di Jeddah bernama J.A. Kruyt berupaya menarik Snouck untuk memelajari Islam dari dekat, terutama memahami ibadah Haji sebagai salah satu pergerakan anti-kolonial.

Maka Snouck muda melakukan perjalanan laut ke Jeddah pada tahun 1884, dimana ia berkenalan dengan dua orang Indonesia bernama Raden Aboe Bakar Djajadiningrat dari Pandeglang dan Haji Hasan Moestapha dari Garut. Dari keduanya Snouck belajar bahasa Melayu. Dalam catatan Snouck, disebutkan pada 14 September 1884 ia juga berkenalan dengan Abdullah Zawawi, seorang ulama asal Maroko yang mengajar di Mekkah. Zawawi kemudian menjadi pintu masuk Snouck menuju Mekkah.

Sebelum menuju Mekkah, pada 16 Januari 1885 Snouck bersyahadat (berikrar sebagai Muslim) dengan disaksikan Qadi asal Jeddah bernama Ismail Agha dengan 2 orang saksi lainnya, sesuai penunjukan oleh Gubernur Hijaz (Arab Saudi) kala itu. Snouck kemudian merubah namanya menjadi Abdul Ghafar. Di saat yang sama, ia menulis surat kepada teman dekatnya, seorang teolog asal Hongaria bernama Ignaz Goldziher, memberitahukan ia akan memasuki kota Mekkah:

Kepada Tuan saya tidak menyembunyikan (namun saya mohon secara hati-hati tidak membuka mengenai hal ini) bahwa saya mungkin atau bahkan boleh jadi tidak lama lagi akan pindah ke Mekkah untuk mengikuti kuliah-kuliah di sana selama beberapa waktu. Dan dalam pergaulan dengan banyak orang Mekkah kenalan saya, saya berusaha mencari pengajaran. Saya telah menemukan pintu gerbang Kota Suci itu. Tanpa sikap izharul Islam (menampakkan lahiriyah sebagai orang Islam) sudah tentu saya tidak mungkin berangkat.”

Di Mekkah, Snouck juga mendalami mengenai Aceh dari seorang Arab bernama Abdurrahman Al-Zahir. Kepada Al-Zahir, Snouck mengaku berusaha membantu Aceh dalam melawan Belanda. Di kota ini, pemahamannya mengenai Islam berkembang pesat, bahkan beberapa kali mengikuti diskusi bersama tokoh-tokoh ulama lainnya, hingga ia memberi gelar dirinya Al-Syaikh Al-Allama Maulana Abdoel Ghaffar Moefti Adh-Dhiyar Al-Djawiya.

Setelah setahun berada di Arab Saudi, Snouck kembali ke Belanda. Pada 1887, ia meminta pendanaan kepada pemerintah Belanda untuk studinya lebih lanjut mengenai Islam di negara jajahan Hindia Belanda. Permintaan ini didukung oleh Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (lembaga Batavia untuk Seni dan Ilmu Pengetahuan), namun tidak mendapatkan tanggapan yang diharapkan. Setahun kemudian, Snouck mengirimkan surat kepada Gubernur Hindia Belanda dan Menteri Urusan Penjajahan, mengenai pentingnya studi ini.

Akhirnya baru pada 1889 ia menuju Singapura dengan kapal uap bernama Japara, kemudian menuju Batavia. Selama perjalanan ini, Snocuk menulis surat kepada Jenderal Van deer Marteen:

Karena pemerintah berminat pada politik Islam, maka Aceh merupakan tempat utama yang menjadi sasaran penelitian saya. Akan saya tunjukkan bahwa saya di Mekkah telah belajar mengenal orang Aceh dari dekat, sementara tidak ada satu orang Eropa pun yang bisa melakukan hal itu. Saya bermaksud dengan cara saya sendiri menyamar pergi ke Penang untuk berjumpa dengan para pelarian Aceh di sana. Barangkali dari situ saya dapat menyusup ke istana Sultan Aceh di Keumala. Saya yakin dengan cara ini saya akan dapat berbuat banyak untuk menjernihkan keadaan.

Setelah tiba di Batavia, Snouck memulai kedekatannya dengan Habib Utsman bin Yahya bin Agil Al-Alawi Al-Hadrami, tokoh penasihat Islam untuk Belanda di Batavia yang ditunjuk langsung oleh Jenderal C. Pijnacker Hordijk, Gubernur Hindia Belanda saat itu.

Tugas pertama yang diterima Snouck adalah mengenai penaklukan Aceh, maka pada 20 Juni 1889 ia mengirimkan surat berjudul Bedevaart en Pelgrims kepada konsul Belanda di Jeddah, berisi strategi untuk menghentikan perjalanan haji dari Mekkah ke Nusantara, dan juga sebaliknya.

Snouck kemudian kembali menghubungi Haji Hasan Moestapha dari Garut yang dikenalnya di Jeddah, guna menemaninya ketika berkeliling ke pondok pesantren di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Pada 16 Juli 1889 mereka ke Sukabumi, kemudian ke Cilincing, dilanjutkan perjalanan ke Cirebon pada 8 Agustus 1889 dan Mangunrejo dua hari kemudian. Pada 15 Agustus 1889, dalam kunjungannya ke Ciamis, Snouck mencatat mengenai tradisi pernikahan Sunda di luar Masjid Ciamis.

Perjalanannya terus berlanjut, sebagaimana dalam buku hariannya tercatat Snouck kembali ke Cirebon, dan berkeliling dari Tegal, Pekalongan, Purbalingga, hingga Purworejo pada 17 Oktober 1889. Lalu catatannya terputus.

Sebuah berita menggemparkan kemudian dirilis surat kabar Soerabaja Courant pada 2 Januari 1890, berisi berita pernikahan Snouck dengan Sangkana, putri penghulu besar Ciamis bernama Raden Haji Muhammad Ta’ib yang juga masih kerabat Bupati Ciamis, dimana Snouck menginap selama berada di Ciamis. Dari pernikahan ini, Snouck mendapatkan 4 orang anak: Salmah Emah, Aminah, Umar, dan Ibrahim. Tahun 1896, Sangkana meninggal ketika melahirkan anaknya yang kelima.

Berita ini tak hanya menggemparkan bagi kalangan pribumi, namun juga pemerintahan Belanda karena peraturan menyebutkan bahwa pria Belanda yang menikahi wanita pribumi, maka bagi sang pria akan diberlakukan hukum pribumi.

Dalam kunjungannya ke Bandung, Snouck menikah dengan istri keduanya yang bernama Siti Sajidah, putri dari Raden Kalipah Apo, ulama terkemuka Bandung. Tidak seperti pernikahan sebelumnya, berita pernikahan dengan Siti Sajidah ditolak oleh Snouck, meski dari sini lahir seorang putra bernama Raden Yoesoef, yang pernah tinggal di Jakarta dan menjadi polisi di Surabaya.

Tahun-tahun berikutnya, Snouck lebih banyak melakukan perjalanan ke Aceh. Pada 1891, Snouck melakukan pengamatan awal mengenai Aceh dan melakukan pendekatan dengan beberapa tokoh Aceh. Tahun 1893, Snouck kembali ke Aceh dan disambut sebagai seorang ulama karena pemahamannya mengenai fiqih dan Bahasa Arab. Selama di Aceh itulah, Snouck belajar Bahasa Aceh dari penduduk Oleueh-leueh. Di sana, Snouck dibimbing oleh Teuku Nurdin, kakak dari penghulu besar Oleueh-leueh. Snouck berhasil menyusun laporan berjudul Atjeh Verslag yang menjadi dasar strategi Belanda dalam perang Aceh.

Dalam kunjungannya ke Gayo pada 1898, dimana Snouck dikenal dengan nama Habib Putih, Snouck didampingi Nyak Puteh dari Oleueh-leueh membuat pemetaan pegunungan Gayo. Peta ini yang akhirnya menjadi senjata rahasia Jenderal van Heutz dalam menghabisi pejuang Aceh di Beuronoen pada 5 September 1898.

Setelah peperangan Aceh, Snouck lebih banyak menghabiskan waktu di Jawa, dan memimpin kantor Adviseur voor Islamitiche-en Arabische Zaken di Batavia, hingga tahun 1908 Snouck akhirnya memutuskan pensiun dan kembali ke Belanda, dimana Snouck menikahi Maria Otter pada 1910 dan memiliki seorang putri bernama Christien dua tahun kemudian.

Prof. Snouck Hurgronje atau Abdul Ghafar meninggal pada 16 Juni 1936 dan dimakamkan di Leiden secara Katolik.

Adil Albatati

Adil Albatati

A writing and music enthusiast, Adil has deep concern in picturing Arab descent's daily life as Indonesian human beside just their political or religious role in the nation. Adil involved in some projects along with international researchers, artists, and also government.