Aksara Arab Dalam Pasang Surut Uang Nusantara

Demi kebertahanan hidup peradaban dimanapun, saling mempengaruhi dalam budaya dan ornamennya adalah hal yang biasa terjadi. Begitu pula ketika menyinggung sejarah muncul dan berkembangnya penggunaan mata uang di Nusantara yang tidak bisa dilepaskan dari pengaruh budaya lain.

Uang, terutama berbentuk koin, dapat dengan baik dilihat sebagai penanda sejarah Nusantara, dimana kerajaan-kerajaan di masa itu saling berlomba menjadi yang paling besar, salah satunya dalam menyebarkan mata uang sebagai ikon identitas. Demikian pula terlihat pada fase masuknya Islam dalam kerajaan-kerajaan Hindu yang juga berpengaruh terhadap penggunaan huruf-huruf Arab (Hijaiyah) dan penerapannya dalam mata uang.

Penggunaan mata uang di Nusantara pertamakali terjadi pada tahun 850, tepatnya dikenalkan selama masa Kerajaan Mataram Sailendra, dimana perdagangan dengan dunia luar telah menggunakan mata uang sebagai kunci penting perdagangan, yang pada akhirnya juga diadaptasi kerajaan lainnya. Mata uang koin ini dikenal dengan keping tahil Jawa, berbentuk kotak dan berbahan emas.

Foto: Wakala Induk Nusantara.

Namun penggunaan huruf Arab dalam mata uang koin dikenalkan oleh Kerajaan Samudra Pasai yang dicetak oleh pemerintahan Sultan Muhammad sejak tahun 1297 hingga 1326, dikenal sebagai Dirham. Mata uang ini beredar luas di Pasai, Malaka, Banten, Cirebon, Demak, Tuban, Gresik, Gowa, dan kepulauan Maluku.

Kalimat pertama dicetak pada koin ini bertuliskan Malik az-Zahir atau Malik at-Tahir, merujuk pada gelar kesultanan kerajaan tersebut. Penyematan nama pemimpin kerajaan dan tahun Hijriyah pada mata uang juga menjadi ciri dari mata uang Kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara.

Hal ini tercatat dalam kitab perjalanan berjudul Ying Yai Sheng Lan oleh juru tulis Laksamana Cheng Ho bernama Ma Huan, dimana dalam perjalanannya ke Sumatera Utara, menemukan bahwa kerajaan Samudera Pasai telah menggunakan mata uang Dinar berkadar 70 persen emas.

Demikian pula pada masa kejayaan Kerajaan Majapahit pada abad ke-14, dikenal beredarnya uang gobog terutama di Tuban dan Gresik. Berbahan tembaga, berbentuk bulat dengan lubang di tengahnya. Di sekitarnya, tertulis kalimat syahadat. Hal ini membuktikan bahwa pada masa itu, Islam telah diterima Kerajaan Hindu Majapahit.

Contoh perpaduan budaya lainnya dapat ditemui pada mata uang Banten, dimana kerajaan tersebut mengadaptasi mata uang Cina yang berbentuk segi enam dengan tulisan Pangeran Ratu ing Banten dalam bahasa Arab di satu sisi dan bahasa Jawa di sisi lainnya.

Tahun 1521, ketika Portugis berhasil menaklukkan Samudra Pasai, uang kerajaan dirubah menjadi ringgit yang

Foto: Wakala Induk Nusantara.

lebih dikenal sebagai ringgit meriam karena uang ini bergambar dua buah meriam. Selain mengedarkan uang ringgit, kolonial Portugis juga mengedarkan uang berbahan tembaga yang dikenal sebagai duet (duit). Mata uang ini tetap menggunakan aksara Arab karena bahasa Arab kala itu adalah bahasa resmi pemerintahan.

Uang lain yang juga beredar berukuran lebih kecil dari duet, berbunyi satu kepeng (keping). Mata uang ini turut hilang bersama dengan diusirnya Portugis dari Aceh. Setelah Samudra Pasai menjadi Aceh Darussalam, Kerajaan ini mengedarkan uang berbahan timah bernama Kasha.

Kesultanan Sumenep pada tahun 1730 juga pernah menerbitkan mata uang koin bercap huruf Arab bertuliskan SUMANAP sebagai pengesahan. Mata uang ini dikenal dengan nama real batu karena bentuknya yang tidak beraturan. Real batu ini berasal dari peredaran mata uang milik Spanyol yang dilelehkan dan dicetak ulang. Dulunya uang ini banyak beredar di Meksiko hingga Filipina.

Yang tidak kalah unik yakni kerajaan-kerajaan Islam di Kalimantan memanfaatkan mata uang VOC yang salah cetak, terlihat dari tulisan VOC dan angka tahun terbalik. Pada sisi lain uang ini bisa ditemukan gambar perisai bertuliskan Banjarmasin dalam bahasa Arab.

Akhir peredaran mata uang berbahasa Arab di Nusantara ditemukan di Jawa pada masa pemerintahan

Foto: Wakala Induk Nusantara.

kolonial Inggris pada awal 1800an, yakni rupee Jawa yang pada salah satu sisinya terdapat tulisan Arab, dan huruf Jawa di sisi baliknya. Ketika Belanda akhirnya masuk dan menguasai perdagangan, pengaruh Arab digeser dengan cara merilis uang kertas menggantikan uang koin.

Namun pada tahun 1952, dalam koin 25 sen yang berbentuk mirip dengan koin berlambangkan garuda Pancasila tahun 2003 kembali ditemui aksara Arab, sebagaimana dalam koin 1 sen (1952), 5 sen (1954), 10 sen (1954). Setelah masa itu, huruf Arab digantikan huruf Latin hingga saat ini.

Selain digunakan dalam mata uang, aksara Arab di masa itu juga umum digunakan dalam stempel kerajaan, dan bahkan berkembang dalam kesustraan Melayu, seperti hikayat Hang Tuah dan sebuah karya syair terkenal tahun 1830 milik Abdul Kadir Munsyi berjudul “Singapura Terbakar”.

Adil Albatati

Adil Albatati

A writing and music enthusiast, Adil has deep concern in picturing Arab descent's daily life as Indonesian human beside just their political or religious role in the nation. Adil involved in some projects along with international researchers, artists, and also government.