Pemberontakan Dalam Kostum Muhammad

Setiap tahunnya, ratusan ribu jamaah haji Nusantara berbondong-bondong melakukan perjalanan suci menuju tanah Mekkah, tempat bersemayamnya Ka’bah sebagai kiblat bagi seluruh umat Muslim di dunia. Di balik ritual tahunan ini, sedikit yang mengetahui adanya goresan hitam dalam sejarah Nusantara ketika kolonial menguasai.

Saat Islam telah cukup kuat menancap di bumi Nusantara, banyak Muslim dari golongan kaya turut menunaikan ibadah Haji, meski mendapat pembatasan ketat dari pemerintah kolonial Belanda yang mengkhawatirkan terjadinya gerakan anti-kolonial, terutama oleh para jamaah haji yang mengenakan pakaian khas Arab, yang disebut kolonial Belanda sebagai “Kostum Muhammad dan Sorban”.

Selama Inggris mengambilalih kekuasaan Belanda, tekanan terhadap haji juga tidak mereda. Letnan Gubernur Jenderal Inggris Sir Thomas Stamford Raffles, dalam surat edaran pada 1811 mengingatkan penduduk agar waspada terhadap para “Sayid” (orang Arab), menyebut mereka sebagai provokator. Kekuasaan Inggris yang hanya bertahan 4 tahun tidak sempat melahirkan kebijakan terkait haji.

Ketika pemberontakan anti-kolonial meledak, terutama dalam gelombang propaganda anti VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) pada tahun 1670an di Banten, banyak warga Nusantara yang meninggalkan pakaian adatnya dan beralih mengenakan pakaian adat Arab, termasuk beberapa nama besar seperti Pangeran Diponegoro dan Imam Bonjol.

Pangeran Diponegoro, pemimpin Perang Jawa (1825-1830), dalam Babad Dipanegara disebutkan terjun dalam medan perang dalam balutan celana, jubah, dan sorban berwarna putih. Di lain kesempatan, Pangeran Diponegoro mengenakan pakaian bergaya Arab berwarna hitam, dengan sorban hitam atau hijau. Banyak dari golongan ulama yang kemudian mengenakan pakaian serupa hingga saat ini. Sedang di Pulau Sumatra, Imam Bonjol yang memimpin Perang Padri, beserta pasukannya juga mengenakan pakaian khas Arab berwarna putih, hingga muncullah istilah “Kaum Putih”.

Masa-masa berikutnya dipenuhi pemberontakan serupa, sehingga pemerintah kolonial Belanda yang kewalahan akhirnya menelurkan sebuah kebijakan mengenai persoalan haji yang diatur dalam Staatsblad (Undang-Undang Perdata yang dapat dibaca oleh umum) pada tahun 1903. Dalam kebijakan tersebut, disebutkan bahwa sejak tahun 1911, para calon jamaah Haji harus dikarantina di Pulau Cipir dan Pulau Onrust, sebelum maupun sesudah menjalankan ibadah haji. Para jamaah Haji tersebut didata dan dicatat nama maupun asal daerahnya, sehingga ketika terjadi pemberontakan di wilayah-wilayah tersebut, pemerintah kolonial Belanda dapat lebih mudah menekan perlawanan.

Tahun 1925, pemerintah kolonial kembali melahirkan Resolusi 1925 berisi pembatasan jumlah jemaat haji. Caranya adalah dengan menaikkan harga paspor sehingga hanya orang-orang kaya saja yang mampu berhaji. Namun para jemaat haji memilih melakukan perjalanan melalui Sumatera, Singapura, menuju Bombay, lalu ke Jeddah.

Dalam sejarah pra-Islam, gelar Haji atau Aji juga merupakan gelar yang disematkan kepada penguasa, dianggap setara dengan Raja, namun di bawah Maharaja. Gelar ini dapat ditemukan dalam beberapa prasasti berbahasa Melayu, Sunda, dan Jawa Kuno. Memasuki era kejayaan Islam dengan Mekkah sebagai pusatnya, banyak raja kerajaan Islam Nusantara berbondong menuju Mekkah dengan tujuan meminta pengakuan dan gelar kesultanan dari Syarif Mekkah, seperti Sultan Abdul Qadir dari Banten, dan Sultan Agung dari Mataram.

Menuju Ummul Qura’

Tiap peradaban dan kepercayaan meyakini bahwasanya alam semesta memiliki beberapa titik kosmis tertentu pengait dunia fisik dan spiritual, monumen penting yang melahirkan ritual ziarah, ngelmu, dan bahkan penurunan wahyu. Dalam tulisannya Mencari Ilmu dan Pahala di Tanah Suci: Orang Nusantara Naik Haji, Martin van Bruenessen menyebutkan ketika masyarakat Jawa akhirnya banyak masuk Islam, mereka memindahkan titik kosmis tersebut ke Mekkah, dikenal sebagai Ummul Qura’ (ibu segala tempat di dunia).

Mekkah kemudian menjadi situs penting, baik secara spiritual, ekonomi, bahkan politik, yang dalam sejarahnya banyak diperebutkan dan berpindah tangan karena adanya Ka’bah. Diketahui Ka’bah dibangun oleh nabi Ibrahim dan anaknya, Ismail, yang kemudian dikelola kabilah Jurhum dari Yaman, lalu digantikan kabilah Khuza’a. Penguasa yang tercatat cukup lama atas Ka’bah adalah bani Quraishy, leluhur Nabi Muhammad, sebelum akhirnya jatuh dalam tangan Muhammad bin Saud, pendiri Arab Saudi.

Ketertarikan dan kecurigaan dunia Barat sendiri terhadap Mekkah dan terutama aktivitas haji, sejak lama dapat ditemui dalam catatan-catatan mereka. Adalah Ludovico di Varthema sebagai orang Roma pertama yang menyamar sebagai Muslim dan ikut dalam kafilah Mamluk dari Damaskus, tiba di Mekkah pada 18 Mei 1503. Catatan milik Varthema adalah catatan awal terkait perjalanan haji Muslim Nusantara, yang kemungkinan tidak bertujuan awal untuk berhaji namun untuk berdagang atau utusan kerajaan, karena ketika itu posisi Mekkah sebagai pusat pemerintahan Islam.

Beberapa abad kemudian, tokoh orientalis C. Snouck Hurgronje membuat catatan lebih detail mengenai ibadah haji dalam tesisnya Heet mekkaansche Feest (Festival Mekkah) pada 1880an yang akhirnya dimanfaatkan sebagai model awal strategi kolonial Belanda menekan Islam dan Arab selama penjajahan mereka di Nusantara.

Sedang catatan lokal yang pertama diketahui memaparkan soal perjalanan haji adalah Babad Banten yang ditulis pada paruh kedua abad 17, menyoroti perjalanan Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati bersama sang putra, Hasanuddin, melakukan perjalanan kosmis ke Mekkah, sebagaimana dapat dilihat dalam cuplikan dialog Sunan Gunung Jati kepada putranya:

“Hai anakku ki Mas, marilah kita pergi haji karena sekaranglah waktunya orang berangkat berhaji..

Setelah berkata, ia dan putranya berjalan yang kemudian dibungkus dalam syal, kemudian tiada berapa lama mereka tiba di Mesjid Haram.”

Selain memenuhi panggilan suci, kedatangan Sunan Gunung Jati ke Mekkah juga secara diplomatis meminta bantuan Turki untuk memukul mundur Portugis yang kala itu menguasai Samudra Pasai.

Selain ekonomi dan politik, diketahui gelombang berhaji bertujuan mencari ilmu. Beberapa tokoh utama dunia Islam Nusantara, seperti Hamzah Fansuri, Syekh Yusuf Makassar, dan Abdurrauf Singkel juga diketahui melakukan perjalanan ke Mekkah guna mendalami ilmu. Gelombang ini terus meningkat, hingga merosot ketika perang sipil pecah di Hijaz dan munculnya gerakan pembaharuan Islam di Kairo.

Adil Albatati

Adil Albatati

A writing and music enthusiast, Adil has deep concern in picturing Arab descent's daily life as Indonesian human beside just their political or religious role in the nation. Adil involved in some projects along with international researchers, artists, and also government.