Wawancara Eksklusif: Nasionalisme Peranakan Arab Dalam Pandangan Anies Baswedan

Anies Baswedan (AB) adalah mantan Menteri Pendidikan yang juga merupakan cucu dari pahlawan nasional Abdurrachman Baswedan, dalam sebuah wawancara dengan Zulfickar Bana’mah (ZB) pada Selasa 6 Desember 2016 di kediamannya.

ZB: Berbicara soal Nasionalisme, apakah peranakan Arab memiliki kepentingan tersendiri dalam memperjuangakan Indonesia pada zaman itu, sebagaimana halnya kelompok peranakan lainnya?

AB: Ketika pemuda peranakan Arab memutuskan untuk menyatakan Sumpah Pemuda, itu adalah sebuah keputusan yang extraordinary, karena mereka membuktikan bahwa mengambil keputusan untuk menjadi Indonesia dan tidak ada peluang untuk putar balik. Sama seperti kita berangkat, tapi tidak akan pulang.

Dalam Sumpah Pemuda pada tahun 1928, jika Indonesia tidak tercapai, yang Jawa akan tetap Jawa, yang Sunda tetap Sunda, yang Bugis tetap Bugis. Sedang Sumpah Pemuda (keturunan Arab) yang diputuskan tahun 1934, dimana Indonesia masih angan-angan, kalau Indonesia tercapai ya bersyukur, tapi kalau tidak tercapai dan tidak ada Indonesia, lalu mereka mengaku sebagai siapa? Jawa bukan, Sunda bukan, Bugis bukan, Minang bukan, Banjar bukan. Sedang peranakan Arab ini, meski kembali ke Arab pun mereka sudah mengaku Indonesia. Mereka mengaku sebagai bagian dari sesuatu yang belum ada, dan mereka tidak ada pegangan lain sebagai cadangan.

Ini adalah bukti paling otentik bahwa peranakan Arab memiliki kecintaan kepada Indonesia tanpa syarat, dan itu harus tercatat dalam sejarah.

ZB: Apakah Peranakan Arab ikut berperan penting dalam melawan ketidakadilan pada zaman dahulu melawan penjajah?

AB: Salah satu bukti yang paling nyata adalah tidak ada taman makam pahlawan tanpa ada keturunan Arab-nya, karena mereka ikut hibahkan nyawa untuk Republik ini. Jadi perlawanan-perlawanan terhadap pelaku ketidakadilan yang bernama kolonial Belanda, tapi intinya adalah perlawanan terhadap ketidakadilan, yang bersumber kuat pada Islam karena Islam mengajarkan untuk menegakkan keadilan. Itulah kenapa sebabnya, hari ini semangat itu harus tetap diteruskan sebagai bagian dari Indonesia.

Kita (keturunan Arab) ikut bikin dan menegakkan Republik ini, dan tidak ada dari tujuan tersebut yang bertujuan mencari keuntungan karena mereka tidak pernah bilang “Nanti anak cucu saya pasti dapet tanah dan rumah”. Sekarang kita harus ikut, dan caranya adalah dengan punya kompetensi, leadership dan interpreneurship yang baik.

ZB: Menurut Anda, bagaimana dengan kondisi beberapa waktu terakhir dengan adanya pernyataan etnis-etnis yang mengaku memberikan kontribusi yang besar terhadap Indonesia, sedang peranakan Arab sendiri enggan untuk membuka sejarah kontribusi mereka?

AB: Dalam catatan sejarah, terlihat jelas bahwa perjuangan orang-orang Islam dan peranakan Arab di Indonesia untuk melawan kolonial itu konkrit, bahkan berkembang menjadi Sumpah Pemuda Keturunan Arab.

Opini bisa dibentuk, tapi fakta tidak bisa dirubah. Bisa dilihat dalam kasus PAI (Partai Arab Indonesia), dimana partai tersebut membubarkan diri ketika tujuan mereka tercapai yaitu Indonesia mencapai kemerdekaan. Jadi tujuannya memang bukan kekuasaan, karena begitu sudah merdeka, Partai ini memberikan kebebasan atas anggotanya agar bergabung dengan Masyumi, PNI, NU. Menyebar semua.

Jadi saya ingin Anda jangan terjebak, karena peran-peran ini tidak perlu didiskusikan, karena sebagaimana peran Jawa atau Sunda dalam kemerdekaan juga tidak pernah dan tidak perlu didiskusikan. Itu semua telah menjadi kesatuan, yang itu menjadi terpecahbelah ketika kita mulai memetakan peran-peran tadi. Dengan tidak membahas mengenai peranan-peranan peranakan Arab, secara tidak langsung kita mengakui bahwa peranakan Arab sebagai bagian dari Indonesia, bukan sebagai pihak luar yang memberikan kontribusi terhadap Indonesia.

Saya pernah suatu ketika diundang sebuah seminar dengan subyek peran keturunan Arab, lalu saya tanya kenapa ditulis peran keturunan Jawa dalam kemerdekaan, mereka kaget. Diskusi semacam ini yang akan menjebak kita dalam stigma bahwa keturunan Arab sebagai bagian dari luar Indonesia, sebagaimana kita tidak pernah membahas peran tangan kanan saya dalam mengangkat kacamata.

ZB: Apakah memungkinkan bagi Partai Arab ini untuk dibangkitkan kembali di zaman ini?

AB: Yang penting sekarang adalah apa yang dibutuhkan negeri ini. Seperti jika kita memilih sebuah kendaraan, maka harus ditentukan tujuannya terlebih dahulu. Kebanyakan dari kita lebih suka untuk menentukan kendaraan terlebih dulu, baru tujuan, kemudian muatan.

Jadi kita harus melihat hari ini, apa tujuan kita. Karena tanpa tujuan maka akan meleset. Kalau kita tidak bisa menentukan titik mana yang mau kita tuju, maka rutenya bisa salah.

“Keadilan Sosial Bagi Rakyat Indonesia”.

Gimana bisa adil sosial? Semua punya pekerjaan. Semua terdidik. Ada jaminan sosial. Ada perasaan bahagia. Ada perasaan adil. Ada aturan hukum. Dan kesemuanya itu merupakan bagian dari keadilan sosial.

Jadi anak muda hari ini, kerja keras dalam meraih itu semua.

ZB: Di Indonesia hari ini, kira kira dalam prosentase berapa besar keadilan sosial tersebut?

AB: Seperti halnya usia, membuat batasan antara tua dan muda. Jangan coba untuk mengkuantifikasi. Yang bisa kita katakan adalah saya lebih tua dari Anda, atau saya lebih muda dari Anda. Di sinilah kita memerlukan kebijaksanaan dan pemahaman supaya tidak terjebak dalam semata-mata mengukur.

Jadi pertanyaan yang lebih tepat adalah, sudahkah kita merasakan keadilan? Belum. Masih banyak kemiskinan. Yang tidak sekolah masih banyak. Yang tidak bekerja masih banyak. Apakah sebagian sudah mendapat keadilan? Sudah. Dan merasakan manfaat merdeka? Sudah. Sudah terlindungi, tersejahterahkan, tercerdaskan.

Banyak dari warga kita juga sudah menjadi warga mandiri. Sudah tidak lagi membutuhkan negara kecuali untuk urusan KTP, paspor. Untuk kehidupan sehari hari sudah tidak lagi membutuhkan negara. Nggak perlu dapat subsidi atau bantuan lainnya. Itulah kehidupan yang mandiri, dan bebas. Bayangkan jika semua rakyat indonesia sudah bisa seperti itu. Itulah keadilan sosial.

Ketika kita berbicara soal keadilan, kita tidak lagi berbicara soal identitas. Itulah mengapa saya tidak setuju jika ada yang mengatakan bahwa Pancasila akan menjadi lengkap jika minoritas bisa menjadi presiden. Menurut saya, Pancasila akan menjadi lengkap jika keadilan sosial dapat tercapai. Itu bukan soal siapa.

ZB: Menurut Anda, bagaimana sosok pemimpin yang ideal itu?

AB: Pemimpin itu kalau bicara harus yang dipikirkan, harus mempersatukan, mampu memberikan arah, dalam bicara mampu memberikan kenyamanan, mencerahkan. Itulah tugas pemimpin.

ZB: Ada pesan terakhir untuk Menara dari Pak Anies?

AB: Mempelajari dan menguasai sejarah itu penting. Dan untuk generasi muda, jangan hanya belajar sejarah namun juga merupakan tanggungjawab kalian untuk membuat sejarah. Karena di situlah kalian nanti akan tercatat. Besok anak cucu kalian yang akan melihat apa yang kalian lakukan hari ini.