Raden Saleh & Warisan Pemberontakan Bustaman

Dengan menyamar sebagai seorang pemotong rumput, ia membawa secarik surat dari “Kanjeng Tuan Besar”, seorang diri nekad melewati bermacam bahaya hingga sampailah di tempat Mangkubumi, pemimpin pemberontakan Yogyakarta terhadap Belanda. Sang pemotong rumput tadi berhasil mengakhiri peperangan antara Belanda dan Mangkubumi pada 1775, dan didirikannya kerajaan Surakarta dan Yogyakarta sebagai bentuk perjanjian damai kedua pihak yang dikenal sebagai Perjanjian Gyanti.

Ini adalah cerita Ki Bustam yang bernama asli Abdullah Muhammad Bustam, anak dari Husein atau Wangsa Naya, sebagaimana ditulis dalam Silsilah Bestaman pada 3 Desember 1840 oleh Adipati Kartadiningrat, Bupati Majalengka yang juga adalah keturunan Ki Bustam.

Ki Bustam memiliki peranan penting dalam pemerintahan Kolonial Belanda di Semarang sebagai sekretaris dan penerjemah bahasa Jawa, juga sebagai jaksa tinggi Semarang merangkap onder-regent Terboyo dengan gelar Kiai Ngabei Kerta Basa.

Berikutnya, keturunan Ki Bustam juga memiliki peranan penting dalam pemerintahan Semarang karena dua putranya dan lima cucunya menjadi bupati Batang, Lasem, Demak, Cirebon, dan Majalengka. Cucu yang kelima tidak disebut dalam Silsilah Bestaman karena sejarah pemberontakannya berusaha dihapuskan oleh Belanda, yaitu Kanjeng Terboyo.

Sosok Kanjeng Terboyo yang berturut turut memegang posisi bupati Kendal, Demak, Jepara ini begitu dibencinya oleh Belanda karena watak kerasnya dan tidak mudah ditarik ke meja perundingan, memperlihatkan jiwanya yang bebas dan berani.

Residen Inggris di Semarang bernama Crawford pernah menulis kepada Gubernur Jendral di Buitenzorg (Bogor) tentang Terboyo sebagai seseorang yang “Berpengetahuan luas, memahami betul sejarah Jawa, seseorang yang kuat lagi pandai dalam kebijaksanaan dan kecerdasan, melebihi semua orang bangsanya.” Namun hal ini dengan sangat berbeda digambarkan oleh Belanda dalam surat mereka, dimana mereka menyebut Terboyo sebagai orang yang loyal pada pemberontakan Diponegoro.

Kanjeng Terboyo memiliki 2 putra bernama Saleh pada 1801 (bukan Raden Saleh pelukis), dan Sukur pada 1803, dimana keduanya disekolahkan di College Fort Williams di Kalkuta, India. Saleh digambarkan sebagai anak yang berjiwa pemberontak, namun juga memiliki kecerdasan, terutama dalam bahasa. Itulah yang kemudian membuat Saleh diangkat menjadi penasehat dan penerjemah untuk Letnan Gubernur Jendral Raffles, menggantikan sang ayah.

Sedang adiknya, Sukur, pada 19 September 1825 diberitakan telah bergabung dalam pemberontakan dan menggunakan nama Panji Adi Negoro. Pemberontakan yang dimaksud adalah perlawanan terhadap Banjaran dengan jumlah pasukan yang besar, dan akan menggerakkan rakyat Terboyo jika mereka menang.

Berita ini dengan cepat mengakibatkan penahanan terhadap Kanjeng Terboyo dan putra pertamanya, Saleh, yang malah dengan lantang mengatakan, “Perlawanan terhadap Eropa harus dilakukan secara gerilya. Bahkan tidak boleh menunggu serangan, tetapi harus selalu mengganggu mereka dengan menyerang datasemen-datasemen kecil mereka.”

Namun sejarah pemberontakan keluarga Bustam ini malah menyulitkan posisi salah satu keturunan Bustam, yakni Raden Adipati Aria Kartadiningrat, bupati Majalengka yang dikenal dekat dan memiliki loyalitas terhadap Belanda. Itulah mengapa ia tidak menulis nama Kanjeng Terboyo dalam tulisannya Silsilah Bestaman, sebagai upayanya menenangkan posisinya terhadap Belanda.

RADEN SALEH, PIONIR LUKISAN MODERN

“Lukisan kalian hanya mampu mengelabuhi kumbang dan kupu-kupu,
tapi lukisanku mampu menipu manusia.”

Pernyataan tersebut lantang disampaikan Raden Saleh kepada dua pelukis muda Belanda setelah mereka histeris menemukan mayat Raden Saleh bersimbah darah di lantai rumahnya. Mayat tersebut akhirnya diketahui adalah lukisan buatan Raden Saleh sendiri, setelah beberapa hari sebelumnya lukisan bunga oleh kedua pelukis muda tersebut berhasil menipu beberapa ekor kupu-kupu dan kumbang.

Raden Saleh pantas mendapatkan porsi tersendiri dalam pembahasan sejarah pergerakan keluarga Bustaman, karena sosoknya yang kontroversial, terutama dalam kedekatannya dengan Belanda namun juga ternyata menjadi bumerang bagi Belanda.

Saleh Syarif Bustaman, atau lebih dikenal dengan nama Raden Saleh, seorang pelukis bertaraf internasional yang dikenal sebagai pionir kesenian modern Nusantara. Karya-karyanya banyak dipengaruhi romantisme khas abad ke-19 yang kala itu lazim ditemui di Eropa. Raden Saleh juga dikenal banyak menyisipkan identitas aslinya ke dalam tiap karyanya.

Raden Saleh lahir pada 23 April di Kampung Bustaman, Semarang, merupakan putra dari Husein bin Alwi bin Awal bin Yahya, sedang ibunya seorang ningrat Jawa yang juga masih memiliki darah Arab dari kakeknya, Abdullah Muhammad Bustaman atau yang dikenal dengan Kiai Ngabei Kerta Basa.

Tahun kelahirannya masih simpang siur, karena dalam sebuah lukisan dirinya Raden Saleh menulis Mei 1811, namun dalam sebuah surat lain ia menulis 1814. Werner Kraus, kurator asal Jerman yang mendalami karya-karya Raden Saleh, mengatakan bahwa kerancuan tersebut bisa jadi karena perubahan penggunaan tahun Jawa Islam ke dalam Masehi.

Raden Saleh besar dalam asuhan pamannya, Kanjeng Terboyo, hingga berumur 7 tahun, dimana atas upaya Belanda ia kemudian dididik seorang Belanda bernama G.A.G. Baron van der Capellen di Bogor, sebagai upaya mereka menekan warisan pemberontakan keturunan Bustaman. Alasan yang sama mengapa Raden Saleh kemudian dengan sangat mudah mendapatkan akses ke beberapa negara Eropa.

Di masa mudanya, Raden Saleh berguru kepada seorang pelukis lanskap asal Belgia, A.J. Payen di Bogor hingga tahun 1826. Payen kemudian mendesak pemerintahan Belanda untuk mengirimkan Raden Saleh ke Belanda guna memperdalam ilmu seni, dimana tiga tahun kemudian Raden Saleh tiba di Belanda dan mendapatkan beasiswa dari para inspektur koloni untuk melanjutkan pendidikannya ke Paris pada 1845.

Di Perancis, Raden Saleh mulai belajar di bawah pengawasan pelukis Cornelius Kruseman dan Andries Schelfhout. Schelfhout banyak menginspirasi Raden Saleh dalam mengasah seni lukis lanskap sedang Kruseman melatih kepekaan Raden Saleh dalam melukis potret.

Lion Head.

Selama masa pembelajaran itu Raden Saleh banyak mengunjungi kota-kota Eropa hingga Aljazair. Ketika berada di Den Haag, Belanda, seorang pimpinan sirkus asal Paris bernama Henri Martin memersilakan Raden Saleh mempelajari gerak-gerik singanya, setelah sebelumnya Raden Saleh melukis wajah Martin. Dari sanalah awal ketertarikannya terhadap lukisan bertemakan kehidupan, salah satunya yakni berjudul Lion Head sebagai lukisan pertama Raden Saleh yang menemukan ciri khasnya. Lukisan ini kini menjadi koleksi Museum Seni Rupa Kupferstichkabinnet di Berlin, Jerman.

Tahun 1839 di Paris, Raden Saleh bertemu dengan pelukis Horace Vernet yang banyak mengajarinya tentang pewarnaan, meski secara obyek dia lebih banyak terpengaruh Victor Eugene Delacroix, seperti dalam lukisannya yang berjudul Singa dan Ular, dimana 23 tahun kemudian Delacroix membuat lukisan yang mirip, dengan judul Macan dan Ular. Namun salah satu karya besar awalnya adalah Een Strijd op Leven en Dood (Pertempuran Hidup Mati) yang menggambarkan pertaruhan hidup mati seekor banteng dengan dua ekor singa.

Een Strijd op Leven en Dood.

Setelah berada di Eropa selama sekitar 20 tahun dan menikah dengan seorang Eropa kaya bernama Nona Winkelman dan akhirnya bercerai, Raden Saleh kembali ke Nusantara pada 1851, dimana dia mendapat tugas sebagai konservator untuk kumpulan benda seni, termasuk menjadi pelukis raja dan bangsawan.

Tak lama setelah itu, pada 1857 Raden Saleh menelurkan sebuah karya besar lainnya berjudul Capture of Prince Diponegoro (Penangkapan Pangeran Diponegoro) yang menggambarkan detik-detik penangkapan Pangeran Diponegoro setelah dikhianati pemerintahan kolonial Belanda di bawah pimpinan Hendrick Merkus de Kock. Setelah de Kock pulang ke Belanda untuk mendapatkan gelar pahlawan, ia meminta Krusemen, guru Raden Saleh, untuk melukis dirinya, dimana Raden Saleh juga berada di sana saat itu.

Saat itulah Raden Saleh melahirkan lukisan besar itu, dimana ia juga memasukkan sosok dirinya ke dalam lukisan, mencoba menggambarkan dirinya sebagai saksi yang melihat langsung peristiwa tersebut. Konon lukisan ini kini berada di Museum Istana Presiden setelah sebelumnya berada di Kerajaan Belanda hingga tahun 1978.

Kendati dibesarkan dalam ruang lingkup Eropa, Raden Saleh masih menyimpan jiwa pemberontakan yang sebegitu besarnya dan keputusan Belanda untuk mengirimkan Raden Saleh ke Eropa rupanya adalah keputusan yang keliru karena di masa itu Revolusi Perancis juga tengah pecah sehingga bibit pemberontakan Raden Saleh kian membesar.

Raden Saleh dan istri keduanya, keluarga kerajaan keraton Yogyakarta memiliki kebiasaan membawa payung adat Yogyakarta ketika berkeliling di Bogor, dan tentu saja mendapat teguran keras dari Residen Bogor. Tanpa menggubris, Raden Saleh dan istrinya tetap membawa payung tersebut. Hal tersebut dilakukan hanya sebagai bentuk perlawanan terhadap aturan yang telah ditancapkan Belanda.

Raden Saleh meninggal pada 23 April 1880 di Bogor, meninggalkan karya-karyanya yang hingga kini masih banyak diperbincangkan oleh dunia Internasional.

Tahun 1883, untuk memperingati tiga tahun wafatnya diadakan pameran-pameran lukisannya di Amsterdam, di antaranya yang berjudul Hutan Terbakar, Berburu Kerbau di Jawa, dan Penangkapan Pangeran Diponegoro. Lukisan-lukisan itu dikirimkan antara lain oleh Raja Willem III dan Ernst dari Sachsen-Coburg-Gotha.

The Arrest of Pangeran Diponegoro. (1857)

Memang banyak orang kaya dan pejabat Belanda, Belgia, serta Jerman yang mengagumi pelukis yang semasa di mancanegara tampil unik dengan berpakaian adat ningrat Jawa lengkap dengan blangkon. Di antara mereka adalah bangsawan Sachsen Coburg-Gotha, keluarga Ratu Victoria, dan sejumlah gubernur jenderal seperti Johannes van den Bosch, Jean Chrétien Baud, dan Herman Willem Daendels.

Tak sedikit pula yang menganugerahinya tanda penghargaan. Di antaranya, bintang Ridder der Orde van de Eikenkoon (R.E.K.), Commandeur met de ster der Frans Joseph Orde (C.F.J.), Ksatria Orde Mahkota Prusia (R.K.P.), Ridder van de Witte Valk (R.W.V.), dll. Namun sekali lagi, “pemberian” itu juga dicurigai sebagai upaya untuk menenangkan pemberontakan yang mungkin terjadi.

Sedangkan penghargaan dari pemerintah Indonesia diberikan tahun 1969 lewat Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, secara anumerta berupa Piagam Anugerah Seni sebagai Perintis Seni Lukis di Indonesia. Wujud perhatian lain adalah, pembangunan ulang makamnya di Bogor yang dilakukan oleh Ir. Silaban atas perintah Presiden Soekarno, sejumlah lukisannya dipakai untuk ilustrasi benda berharga negara, misalnya akhir tahun 1967, PTT mengeluarkan perangko seri Raden Saleh dengan reproduksi dua lukisannya.

Berkat Raden Saleh, Indonesia boleh berbangga melihat karya anak bangsa menerobos museum akbar seperti Rijkmuseum, Amsterdam, Belanda, dan dipamerkan di museum Louvre, Paris, Perancis.

Pada tahun 2008, sebuah kawah di planet Merkurius dinamai darinya.

Adil Albatati

Adil Albatati

A writing and music enthusiast, Adil has deep concern in picturing Arab descent's daily life as Indonesian human beside just their political or religious role in the nation. Adil involved in some projects along with international researchers, artists, and also government.