Dalam Teater: Alhambra Hingga Fatimah

Terlihat orang-orang berpakaian adat Betawi & Jawa berdesakan di depan gedung itu. Sebagian nampak memasang mata pada poster yang menempel di tembok, sedang yang lain mengeluarkan uang recehan untuk membeli tiket. Terpampang nama di atas gedung itu: ALHAMBRA, bioskop yang cukup dikenal pada tahun 1930an di Batavia.

Bioskop Alhambra, Jakarta.

Adalah bin Shahab bersaudara, Idrus, Syehan, dan Abubakar yang awalnya tiba dari Padang dan mendirikan teater keliling atau yang juga dikenal dengan Komedi Bangsawan karena kegiatan seni semacam ini awalnya hanya disajikan di kerajaan Deli di Medan dan Istana Siak di Riau.

Berkembang pesat, mereka pun membuka gedung pertunjukan permanen di Sawah Besar, sebuah teater modern pertama yang mampu menyaingi gedung pertunjukan bentukan Belanda di Pasar Baru. Tak lama kemudian mereka merubah gedung tersebut menjadi bioskop dengan nama Alhambra. Bioskop ini banyak menyajikan film-film Mesir, sebuah gebrakan bagi pesaing yang umumnya memutar film Tiongkok atau Eropa.

Film-film Mesir yang diimpor oleh Mohammad Redho Shahab, putra Abubakar, menjadi favorit masyarakat Betawi karena banyak menyajikan lagu. Masyarakat Betawi dari berbagai daerah seperti Mampang dan Pasar Minggu biasanya patungan untuk menyewa oplet ke Alhambra. Uniknya, banyak dari lagu tersebut kemudian dipelajari dan dijadikan lagu qasidah.

Ketika terjadi revolusi Mesir tahun 1952, akses untuk mendapatkan film-film Mesir mengalami kesulitan sehingga Alhambra pun harus gulung tikar pada 1965 dan dijual kepada salah satu bank. Namun pengaruh Alhambra cukup besar dalam menyebarkan musik Melayu Dili, hingga lahirlah beberapa nama penyanyi pop melayu seperti Said Effendi dengan kelompok musiknya OM Irama Agung; Husein Bawafie pemimpin OM Chandralela; dan Muhammad Mashabi dengan karya besarnya Ratapan Anak Tiri yang juga dijadikan judul film.

Bioskop Grand, Malang.

Sebenarnya, pada tahun 1928 di Malang juga pernah muncul bioskop bernama sama, Alhambra, oleh Ali Surati. Bioskop ini tidak bertahan lama, kemudian diambil alih dan berubah menjadi bioskop Grand. Bioskop inipun juga tidak bertahan lama, hingga dirobohkan dan dibangun pusat perbelanjaan Mitra Pasaraya yang masih bisa ditemui sampai sekarang.

Pada tahun-tahun itu, dunia sandiwara seakan berubah menjadi jalur baru invasi kesenian kelompok masyarakat Hadharim (keturunan Arab asal Yaman Selatan) selain umumnya diketahui bermusik dan berpuisi. Tak hanya menjadi bentuk ekspresi, seni pertunjukan juga digunakan sebagai media untuk mengkritisi dan propaganda politik-sosial, seperti beberapa judul terkenal dalam pementasan oleh PAI (Persatuan Arab Indonesia), Korban Adat dan Tonil Fatimah yang menjadi swa-kritik sehingga banyak menghadirkan reaksi, utamanya dari kelompok Hadharim sendiri.

Dalam era berikutnya, beberapa nama Arab juga muncul dalam film-film nasional, seperti Abu Bakar Bafagih yang berasal dari keluarga pengelola batik asal Pekalongan, namun menolak mengikuti jejak keluarganya dan lebih memilih bersandiwara, mengikuti beberapa kelompok sebelum akhirnya membentuk kelompoknya sendiri dengan nama Opera Valencia. Setelah menikahi salah seorang anggotanya yang bernama Nyi Tjitjih, seorang Sunda, kelompok tersebut berubah nama menjadi Tonil Miss Tjitjih. Kelompok ini masih bertahan hingga kini.

Lewat Djam Malam (1954).

Dalam sejarah pasca kemerdekaan, masyarakat Arab Nusantara masih rajin menelurkan bintang dunia perfilman, seperti Achmad Nungcik Alcaff yang berasal dari kelompok teater Tjendrawasih. Namanya menjadi dikenal di industri perfilman Nasional setelah memenangkan penghargaan FFI pertama sebagai Pemeran Utama Pria Terbaik pada tahun 1955 dalam film legendaris berjudul Lewat Djam Malam besutan Usmar Ismail. Akting Achmad dalam film ini mendapat pujian dari seorang kritikus Jepang, mengatakan bahwa film ini merupakan salah satu film terbaik dunia yang pernah ditontonnya.

Ketika PKI merajalela, perfilman nasional sempat dipenuhi film-film propaganda sehingga melesukan dunia perfilman nasional, begitu pula dengan aktor keturunan Arab yang akhirnya banyak memilih banting setir.

Memasuki tahun 1980-90an, perfilman Indonesia kembali bergairah terutama genre komedi yang mencapai puncak kejayaannya, dengan banyak aktornya berasal dari keturunan Arab. Salah satu yang cukup dikenal di kelas ini adalah Fuad Alkhar atau yang lebih dikenal dengan nama Wan Abud, cukup dikenali dengan gaya bicaranya yang banyak menyisipkan istilah Arab.

Selain tokoh-tokoh depan layar, dunia balik panggung pun terjamah nama-nama Arab. Sebut saja Ishaq Iskandar yang memulai debutnya pada tahun 1970an sebagai aktor dalam film Operasi X, Hostes Anita, dan Sunan Kalijaga sebelum beralih menjadi sutradara beberapa film besar seperti Ali Topan Anak Jalanan (1977). Nama lainnya yang juga cukup terkenal yakni Ali Shahab dengan film-film garapannya seperti Beranak Dalam Kubur, Manusia Enam Juta Dolar, dan Rumah Masa Depan yang terkenal pada era 1980an.

Hingga kini, masih terus bermunculan nama-nama besar yang mengharumkan nama perfilman nasional, seperti Fachri Albar, putra penyanyi kondang Achmad Albar, atau keluarga Sungkar yang juga banyak menghasilkan seniman layar dan tarik suara.

Adil Albatati

Adil Albatati

A writing and music enthusiast, Adil has deep concern in picturing Arab descent's daily life as Indonesian human beside just their political or religious role in the nation. Adil involved in some projects along with international researchers, artists, and also government.