Ki Hajar Dewantara Sambut Hari Kesadaran Arab Indonesia

Ki Hajar Dewantara, salah satu penggerak kemerdekaan Indonesia terutama di bidang pendidikan dan jurnalistik. Pendiri Perguruan Taman Siswa, dan bersama dengan Tjipto Mangunkusumo dan Ernest Douwes Dekker mendirikan Indische Partij pada 25 Desember 1912 sebagai partai politik pertama di Indonesia. Pidato ini disampaikan Ki Hajar Dewantara pada 4 Oktober 1954 di Surakarta, yang kelak dikenal sebagai Hari Kesadaran Bangsa Indonesia Arab.

Kesadaran bangsa Indonesia keturunan Arab, pada hari 4 Oktober 1954 yang kini diperingati ulang tahunnya yang ke-20 menurut paham kami memang merupakan sesuatu peristiwa yang sangat penting dan yang sudah sepatutnya dapat perhatian secukupnya. Peristiwa tersebut tidak saja penting bagi saudara-saudara bangsa kita yang berketurunan Arab, namun amat penting pula untuk kita semua yang bercita-cita kesatuan bangsa dan negara Indonesia, yang merdeka dan berdaulat, serta makmur dan sejahtera, dengan dasar-dasar Pancasila.

Kalau kami menjunjung tinggi peristiwa 4 Oktober yang kini dapat julukan “Hari kesadaran” bagi saudara-saudara sebangsa yang keturunan Arab itu janganlah dikira bahwa pendapat kami itu hanya suatu spontaniteit belaka atau suatu pendapat yang melulu dipengaruhi pernyataan-pernyataan dari pihak-pihak lain diwaktu-waktu belakangan ini, yakni di zaman kemerdekaan Indonesia sejak 17 Agustus 1945.

Ketahuilah, bahwa semenjak berdirinya partai kami, yaitu Indische Partij yang kini sudah 41 tahun yang lalu. Golongan kami Indische Partij tersebut selalu mempropagandakan cita-cita yang kemudian pada tahun 1934, dibenarkan dan dikonsolidasikan oleh saudara-saudara kita sebangsa yang berketurunan Arab golongan yang mana dikemudian oleh seorang kawan perjuangan kami sendiri yakni saudara Abdul Rachman Baswedan, hingga saat ini. Jadi pada tahun berdirinya P.A.I (Persatuan Arab Indonesia) yakni pada tahun 1934, waktu mana partai kami Indische Partij, sudah mati (atau lebih tepatnya dimatikan Gubernur Jendral Ledenburg di tahun 1921) P.A.I-lah yang dalam segala sepak terjangnya selalu sangat berdekatan dengan cita-cita kebangsaan dan kenegaraan seperti yang senantiasa kami dukung hingga saat ini.

Dalam hubungan ini baiklah dikemukakan bahwa menurut paham kami, rakyat Indonesia memang harus terdiri atas semua orang yang menjadikan Indonesia yang merdeka, sebagai tanah airnya sebagai negaranya, sebagai kebangsaannya. Laku perkembangannya semua mereka yang tadinya tergolong dalam berjenis-jenis golongan (baik golongan kedaerahan, keagamaan ke-minoriteitan, maupun golongan keturunan asing) harus ditujukan ke arah asimilasi, yakni menjadi menjadi bersatu-padu baik dalam hidupnya batin atau kebudayaan.

Dengan begitu maka akan hilang lenyaplah adanya golongan-golongan yang disebut minoriteiten. Perbedaan-perbedaan yang masih akan terus nampak untuk waktu yang agak lama tak bukan dan tak lain adalah hanya perbedaan-perbedaan individueel atau raciaal bukan perbedaan kebangsaan atau kenegaraan. Demikianlah seharusnya perkembangan rakyat Indonesia kearah satuan, yang kokoh kuat untuk dapat mewujudkan Indonesia yang benar-benar merdeka dan berdaulat makmur dan sentosa.

Bukanlah idam-idaman yang tergambar itu selalu dijunjung tinggi oleh saudara-saudara kita sebangsa yang berketurunan Arab? Bukti yang nyata dan positif akan kebenaran gambar tadi yaitu keikhlasan saudara-saudara tersebut untuk tidak mengasingkan diri dari pergaulan kebangsaan kepada umumnya; tidak suka mendirikan partai sendiri, melainkan menganjurkan sekalian orang dari golongan turunan Arab untuk memasuki partai-partai yang ada di kalangan rakyat: partai-partai yang ada di kalangan rakyat partai-partai yang berideologi aliran-aliran kepolitikan semata-mata: bukan aliran-aliran raciaal atau keturunan bangsa. Dengan begitu maka salahlah sama sekali apabila mereka itu digerombolkan pada golongan yang kini disebut golongan Minoriteit. Mereka tidak mengasingkan diri dari golongan kebangsaan umum; mereka sudah ajur-ajer (melebur). yakni zich oplossen dalam masyarakat kebangsaan kita.

Ada satu hal lagi yang patut diperhatikan karena dapat memberi keinsyafan sama keadaanya dengan golongan-golongan lain yang juga disebut golongan-golongan minoriteit. Saudara-saudara kita yang berketurunan Arab tidak merasa mempunyai dan tidak mengakui adanya bangsa atau negara di luar Indonesia yang mengikat mereka baik lahir maupun batin.

Mereka tidak memusingkan soal kewarganegaraan. Sejak Indonesia menjadi negara yang merdeka, mereka menginsyafi serta menyadari bahwa hanya Indonesia-lah yang menjadi negara dan kebangsaannya. Tidak satu orang dari mereka yang menolak kewarganegaraan Indonesia. Dengan begitu maka mereka seharusnyalah sudah diakui sebagai warga negara sepenuhnya, bukan warga negara baru.

Kami ulangi sekali lagi, keikhlasaan saudara-saudara kita keturunan Arab tadi tidak saja menguntungkan diri mereka sendiri namun menguntungkan negara kita pula sebagai negara yang modern dan berdasarkan Pancasila. Lebih dari itu cita-cita dan sikap mereka mereka tadi sebenarnya adalah cita-cita yang tepat termasuk dalam cita-cita kenegaraan, seperti jang dikehendaki oleh Revolusi kita 17 Agustus 1945.

Karena itu kami doakan, semoga idam-idaman saudara-saudara sebangsa yang berketurunan Arab tadi menjadi contohlah agaknya bagi golongan-golongan lain yang berketurunan asing namun dalam sepak terjangnya kadang-kadang masih nampak keragu-raguan adanya.

Sekianlah Amin!

Abdullah Elly

Abdullah Elly

Born in Jakarta, Abdullah Elly was an active member of Asy-Syabab Muslimin around 2008, before he established Pemuda Islam Sosial (PIS) in 2013. Now he is serving as deputy secretary-general at Al-Irsyad.