Kampung Arab di Permata Raja Bukit

Tomé Pires, seorang penulis Portugis dalam buku besarnya Soma Oriental, tidak berlebihan menyebut Gresik sebagai “permata pulau Jawa di antara pelabuhan dagang”.

Sejak berdirinya di abad 11, Gresik di utara Jawa Timur ini telah dijadikan contoh oleh Kerajaan Majapahit sebagai kota pelabuhan dan kota dagang ideal. Lokasinya yang terlindungi Pulau Madura dan kondisi pantai berbatu membuatnya aman dari amukan badai dan ombak besar, menjadikan pesisir Gresik sangat cocok sebagai pelabuhan, sehingga di masanya sebagai salah satu kota pelabuhan pertama telah menjadi rujukan bagi pendatang Jazirah Arab, Tiongkok, dan Gujarat (India).

Terdapat beberapa teori mengenai asal nama Gresik ini. Sebagian meyakini berasal dari pendatang Arab yang meneriakkan Qarr-Syaik (lemparkan sesuatu, merujuk pada jangkar) ketika tiba di pelabuhan. Sedang Belanda menyebutnya Girische atau berarti orang-orang bukit. Namun versi paling umum adalah penemuan dalam serat Chentini pada abad ke 19, yakni nama Giri-Gisik yang berarti Raja Bukit. Dalam prasasti Karang Bogem bertahun 1309 Saka, tercantum pula nama Gresik dalam sebuah barisnya “…hanata kawulaningang saking grasik warigaluh ahutang saketi rong laksa.”

Versi lain dikutip dalam Encyclopaedie van Nederlandcsh Indie, nama Gresik diserap dari bahasa Tiongkok, nama T’se-T’sun atau Kersi dapat ditemukan dalam catatan perjalanan Dinasti Yuan dan Ming pada abad XIII, dimana disebutkan tentang golongan saudagar Arab yang singgah dari Selat Malaka menuju timur dengan membawa komoditas perdagangan berupa hasil alam dan rempah, maupun tekstil.

Sedang dalam Historisch Onderzoek naar Gestelijke en wereldlijke Suprematie van Grissee op Midden Oost Java Gedurende oleh J.A.B Wisselius, kota Gresik sebelumnya dikenal sebagai Gerawasi, yang namanya dipakai hingga tahun 1720. Pedagang Portugis sempat datang kemari, menyebutnya Agazi.

Seperti halnya di wilayah lainya, kemungkinan besar masuknya pendatang Arab pertamakali di Gresik bertepatan dengan perdagangan dan penyebaran Islam. Uniknya, salah satu tokoh utama penyebar Islam di Gresik adalah seorang perempuan bernama Fatimah binti Maimun bin Hibatallah atau Putri Retno Suwari, putri dari Sultan Mahmud Syah Alam asal Kamboja yang pada nisan makamnya bisa dilihat bertanggal 25 November 1082 atau abad XI.

Meski sebelumnya telah banyak pedagang Arab yang mendiami wilayah ini, namun sejarah terbentuknya pemukiman Arab di Gresik dimulai dari kedatangan Sunan Giri pada tahun 1487. Sunan Giri bernama asli Maulana Malik Ibrahim, atau yang juga dikenal dengan Syekh Maghribi. Dalam Babad Jawa versi JJ Meinsma, Sunan Gresik disebut sebagai Makhdum Ibrahim as-Samarqandy karena diyakini berasal dari Samarkand, namun mengalami perubahan penyebutan oleh warga sekitar menjadi Syekh Ibrahim Asmarakandi. Sunan Giri juga dikenal sebagai ayah dari Sunan Ampel yang membentuk pemukiman kampung Arab di wilayah Ampel, Surabaya.

Sir Thomas Stamford Raffles Raffles dalam bukunya The History of Java, mengutip seorang penulis lokal:

Mulana Ibrahim, seorang Pandita terkenal berasal dari Arabia, keturunan dari Jenal Abidin, dan sepupu raja Chermen (sebuah negara Sabrang), telah menetap bersama para Mahomedans (penganut Islam) lainnya di Desa Leran di Jang’gala“.

Terdapat dua fase besar dalam sejarah modern masyarakat Arab di Gresik, yakni periode 1830 hingga 1890 yang disebut sebagai masa kejayaan karena di masa ini kolonial Belanda memberlakukan kebijakan yang menahan para pendatang Arab ini keluar dari Gresik, sehingga mereka bertahan hidup, menetap, dan akhirnya membaur dengan kelompok masyarakat lain. Pada tahun 1832 ditunjuklah nama-nama sebagai pemimpin kelompok, termasuk Abdullah bin Muhammad Ghanehem (1894) dan Hussein bin Umar Syahab (1913). Selain perdagangan, kelompok masyarakat Arab juga dikenal sebagai pemilik perusahaan pelayaran yang mencapai puncaknya pada 1845.

Di Gresik juga terkenal dengan Kampung Kemasan, sebuah pemukiman lama di sungai kecil Desa Telogo Dendo yang dibangun sekitar tahun 1895 dan dalam sejarahnya banyak dikembangkan oleh pendatang asing, termasuk Bak Liong sang pengusaha emas yang keturunan Tionghoa, hingga Umar bin Ahmad, seorang pengusaha kulit keturunan Arab yang menguasai pasar kulit di 26 kota di Jawa Timur. Umar juga memiliki penangkaran burung Walet yang berkembang pesat, hingga puncaknya pada tahun 1861.

Sedang periode kedua yakni tahun 1890 – 1930 yang disebut sebagai masa kemunduran diakibatkan merosotnya aktivitas perdagangan di pelabuhan Gresik karena dicabutnya segala kebijakan kolonial tersebut dan berkembangnya pelabuhan Surabaya secara infrastruktur, termasuk dibukanya Tanjung Perak sebagai gerbang masuk menuju Surabaya sehingga perdagangan beralih ke sana. Setelahnya, kekuatan ekonomi terus merosot diakibatkan tandasnya tabungan mereka karena tidak diinvestasikan ke bidang lainnya. Hal tersebut membuat keturunan selanjutnya dari keturunan Arab di Gresik mengalami penurunan ekonomi.

Namun salah satu hal yang masih tersisa dari budaya bawaan pedagang Arab ini adalah sarung sebagai komoditas lokal. Hingga hari ini, Gresik masih dinilai sebagai salah satu sentra perkembangan sarung di pulau Jawa, dan bahkan telah membaur dalam sejarah dan budaya lokal. Dalam kunjungan Sultan Surakarta, Pakubuwono X ke Gresik pada 1927, beliau disambut para pembesar kota dengan mengenakan sarung.

Saat ini, pemukiman Arab di Gresik merupakan salah satu komunitas Arab terbesar selain Surabaya, dengan beragam bangunan yang kental oleh pengaruh arsitek Melayu, Cina, dan Belanda. Meski demikian, gedung-gedung kuno tersebut kurang mendapatkan perhatian pemerintah setempat, dan saat ini diperkirakan tinggal berjumlah sekitar 150 bangunan saja.

Adil Albatati

Adil Albatati

A writing and music enthusiast, Adil has deep concern in picturing Arab descent's daily life as Indonesian human beside just their political or religious role in the nation. Adil involved in some projects along with international researchers, artists, and also government.