Di Balik Layar Pernikahan

Usman adalah seorang pria dengan nama baik di kalangan masyarakat keturunan Arab karena ringan tangan terhadap orang-orang yang membutuhkan. Apa yang terlontar dari mulutnya bisa dipastikan adalah kejujuran. Belum lagi ditambah dia adalah seorang aktifis dalam organisasi keagamaan dan sosial. Intinya, Usman memiliki reputasi bagus di masyarakat sekitarnya.

Demikian pula dengan Barkah. Perempuan berusia 57 tahun ini dikenal luas sebagai ibu dan istri yang baik dalam keluarganya. Sifatnya begitu ramah dan bersahaja membuatnya mendapat tempat di di lingkungannya. Dalam acara pengajian di kalangan perempuan, dia selalu ditunjuk sebagai pembaca doa.

Sosok seperti Usman dan Barkah memainkan peran penting dalam konteks perjodohan di kalangan masyarakat Arab, baik pendatang asli ataupun peranakan. Orang yang memiliki reputasi bagus secara sosial mendapatkan kepercayaan menjadi perantara ketika seorang pria hendak melamar gadis melalui keluarganya meski keduanya belum pernah bertemu, dan reputasi sang perantara menjadi taruhannya.

Sang perantara biasanya mendatangi ayah sang gadis, lalu menyampaikan maksud kedatangan serta mempromosikan sang pria dan sejarah keluarganya disertai dengan cerita-cerita yang baik, dan tak lupa dilengkapi hadiah. Tak jarang keluarga gadis juga kemudian meminta sang perantara memantau sang calon menantu dan keluarganya sebelum mengambil keputusan.

Perjodohan lainnya yang lebih “aman” terjadi yakni pernikahan di kalangan keluarga sendiri, sebagaimana dengan satir disampaikan dalam maqolah (pepatah) orang Arab:

Tadawur albur walbur fil baitak
(mencari gandum kemana-mana, sedang banyak terdapat di rumahmu sendiri)

Hal ini biasanya memang diinisiasikan dari orangtua sang calon mempelai karena memang lebih mudah untuk mengetahui bibit bebet bobot keluarga sendiri, juga untuk mengurangi kerepotan dalam mencari pasangan.

Seiring berkembangnya zaman, anak-anak lelaki seringkali mencari pasangan di luar lingkungan mereka, bahkan bila itu berarti bukan dari sesama keturunan Arab, namun hal yang lebih sulit jika terjadi sebaliknya, yakni jika seorang gadis mencari pasangan bukan dari golongan Arab. Perihal tersebut sebenarnya cukup lumrah mengingat budaya Arab membawa nama keluarga (fam) dari pihak ayah untuk anak-anaknya (patrilinear) sehingga perempuan keturunan Arab yang menikahi di luar kelompoknya, kelak anaknya akan terputus secara fam hingga lebih sulit untuk melacak silsilah keluarganya di kemudian hari.

Perkembangan teknologi juga turut memengaruhi metode pencarian jodoh bagi pemuda pemudi keturunan Arab. Tidak sedikit pernikahan yang akhirnya dilangsungkan, dimulai dari pertemuan virtual melalui media sosial hingga teknologi lainnya.

Dulunya terdapat semacam pemikiran bahwa golongan perempuan tidaklah terlalu membutuhkan pendidikan tinggi dalam dunia pernikahan, karenanya banyak ditemui gadis yang menikah muda seusai lulus SMP atau SMA. Namun saat ini golongan keturunan Arab sudah lebih terbuka dan peka akan pentingnya pendidikan, terutama berkaitan dengan jalannya pernikahan dan pola membesarkan anak.

Gandaran & Malam Pacar

Sedang ketika pernikahan dilangsungkan, terdapat budaya khusus masyarakat Arab yang diterapkan baik kepada pihak laki maupun perempuan, sebagaimana ritual pernikahan dalam budaya lain meski dalam masyarakat ini ritual-ritual tersebut tidaklah wajib, atau sebagai hiburan saja.

Adalah Gandaran, sebuah tradisi bagi mempelai laki-laki dimana ia diarak oleh keluarga dan teman-teman dekat menuju rumah sang mempelai perempuan sebelum dimulainya ijab qabul. Selama arak-arakan tersebut, orang-orang terdekat mempelai pria menggoda dan tak jarang memaksa sang mempelai pria melakukan hal-hal aneh, sehingga tak jarang prosesi ini – meskipun sangat menyenangkan – namun menjadi musuh bagi wali nikah dan penghulu karena mereka harus menanti.

Bagi mempelai perempuan dikenal istilah Malam Pacar, yakni tradisi menggambar pacar (henna) di tangan dan kaki sang mempelai perempuan di malam sebelum pernikahannya. Tradisi ini diyakini dibawa dari India, meski juga dapat ditemukan di beberapa daerah Arab dan Afrika. Pengaruh India tersebut dapat dilihat dari pola gambarnya, yakni berbentuk ornamen tipis dan akar-akaran.

Di masa lalu mempelai pria mengenakan jas dan peci, dan mempelai perempuan mengenakan pakaian pernikahan adat Jawa atau daerah dimana pernikahan dilangsungkan. Namun hari ini, pakaian pernikahan sudah lebih beragam, dari yang kembali mengenakan surban Yaman atau Saudi bagi mempelai pria, hingga pakaian internasional dengan segala kemewahannya.

Sedang sehari setelah pernikahan dilaksanakan, biasanya digelar acara samar (Samroh) yang dalam bahasa Arab berarti hiburan malam. Acara ini dikhususkan bagi golongan pria, yaitu sebuah ritual tarian yang diiringi musik Gambus dan Marawis. Dilaksanakan hingga dini hari, tarian ini digelar di rumah mempelai perempuan, dimana para tamu dan mempelai perempuan diperbolehkan untuk menyaksikan dari balik jendela rumah.

Adil Albatati

Adil Albatati

A writing and music enthusiast, Adil has deep concern in picturing Arab descent's daily life as Indonesian human beside just their political or religious role in the nation. Adil involved in some projects along with international researchers, artists, and also government.