Mengenal Seni Kaligrafi Khathth

Kalio (Indah), Graphia (Aksara)

Seni tulis indah atau kaligrafi dikenali sebagai salah satu pencapaian tertinggi dalam perkembangan linguistik ditilik dari 2 aspeknya, sebagai bagian dari dinamika bahasa; dan hasil dari proses estetika. Kedua unsur ini mampu menjadi tolok ukur mutakhirnya peradaban, sebagaimana yang ditemukan dalam Hierogliph di Mesir, Devanagari dari India, Kaminomoji di Jepang, Azteka dari Indian, dan Fonogram-nya Syiria. Sedang sejarah mencatat Khathth lahir pada masa Sam, salah seorang putera nabi Nuh as. meski Khathth sebagai karya seni pertamakali ditemukan berbentuk tanda tangan dalam surat Dzu Shafar kepada nabi Yusuf as., membuktikan bahwa munculnya Khathth lebih tua dari digunakannya kalender Masehi.

Aksara ini kemudian dikembangkan oleh bangsa Nabhty yang kerajaannya berada di daratan Syam (Palestina, Damaskus, Aqabah, dan Hirah). Ketika Romawi menyerbu kawasan ini, bangsa Nabhty melarikan diri menuju Jazirah Arab yang ketika itu masih didiami masyarakat nomaden Badui yang belum memiliki tradisi baca tulis. Diaspora ini kemudian membawa pengaruh cukup besar, terutama dalam fase kesustraan Jahiliyah (pra-Islam). Ketika Islam muncul dan dilihat sebagai puncak kesustraan Arab, Khathth mulai dilihat sebagai bentuk keindahan massive, sebagaimana digunakan untuk Al-Mu’alaqot (tempelan) di dinding Ka’bah yang berisi puisi-puisi masterpiece, menjadi titik awal berkembangnya kaligrafi Arab hingga ke seluruh dunia, termasuk Nusantara.

Menurut penellitian arkeologi oleh Prof. Dr. Hasan Muarif Ambary, Khathth gelombang pertama di Nusantara tidak dimaksudkan untuk kesenian, namun hasil dari pembauran budaya dan penanda masuknya Islam di Nusantara. Menariknya, aksara Arab menjadi aksara pertama yang secara umum dipelajari oleh masyarakat Nusantara karena sebelumnya tradisi tulis dan baca aksara Sansekerta hanya menjadi privilage golongan bangsawan. Dengan berkembanganya aksara Arab di Nusantara, Khathth banyak ditemukan dalam buku pelajaran, catatan pribadi, undang-undang, naskah perjanjian resmi, uang logam, stempel resmi, kepala surat, dengan bahasa yang dikenal sebagai Arab Pegon atau Arab Melayu, seperti yang dapat ditemukan pada batu nisan Fatimah binti Maimun di Gresik pada abad ke-11.

Selain seni tulis, dikenal pula kaligrafi lukis yang melepaskan diri dari kaidah-kaidah kaligrafi tulis karena hanya mengambil sebagian unsur dari susunan huruf Hijaiyah. Biasanya para seniman kaligrafi lukis memulai dari bentuk bakunya, lalu dimodifikasi menjadi lebih fleksibel. Aliran ini masih sangat muda berkembang, sehingga masih tidak terlau dikenal sebagaimana kaligrafi tulis.

Ragam Khathth sendiri dapat dikenali dari bentuk dasarnya, dengan penamaan berdasarkan nama kota tempat dikembangkannya: Di Mekkah dan Madinah dikenal Mudawwar (bundar), Mutsallats (segitiga), Ti’im (kembar yang terdiri dari susunan segitiga dan bundar). Dari gaya penulisan, dikenal Muqawwar yang berciri lembut, gaya penulisan Mabsut yang kaku dan tebal. Dari dua gaya ini, lahir beberapa gaya lainnya, antara lain Mail (miring), Masyq (membesar), dan Naskh (inskriptif). Selama masa kekhalifahan Islam, berkembang pula gaya Kufi Murabba’ (lurus), Muwarraq (dekorasi daun), Mudhaffar (anyaman), Mutarabith Mu’aqqad (terlilit berkaitan).

Meski awalnya Khathth banyak menggunakan bentuk geometris, namun kemudian dalam penyebaran dan perkembangannya menjadi sangat beragam dan kaya bentuk karena turut masuk dalam penafsiran lokal dimana kaligrafi tersebut digunakan sebagai medium, seperti aksara Taus yang lahir dari proses transenden Sufi Persia tentang burung Merak. Di Nusantara, proses pembauran yang sama melahirkan salah satunya surat Al-Ikhlas ditafsirkan dalam bentuk wayang semar.

Pembauran tersebut terjadi cukup lama, namun baru pada abad ke-18, Khathth menjadi jalur seni kontemporer dengan menggabungkan antara keindahan bentuk (simbol), seni lukis, serta pesan-pesan Islami, dan diterapkan dalam materi apapun: Logam, ukiran kayu, kaca, dan media lainnya, dimana budaya tersebut awalnya dimulai dari kalangan pesantren oleh ahli-ahli seni Khathth atau disebut Khattat. Meski demikian, buku mengenai Khathth pertama kali dirilis pada tahun 1961 berjudul Tulisan Indah karya Muhammad Abdur Muhili, dan Khat, Seni Kaligrafi: Tuntunan Menulis Halus Huruf Arab karya Drs. Abdul Karim Husein yang dirilis pada tahun 1971.

Dalam lingkup perayaan nasional, Khathth muncul pertamakali pada tahun 1979 dalam pameran Lukisan Kaligrafi Nasional bersamaan dengan digelarnya MTQ Nasional XI di Semarang, menyusul pameran serupa pada tahun 1980 di Balai Sidang Jakarta, tahun 1981 dalam pameran MTQ Nasional XII di Banda Aceh, tahun 1991 dalam MTQ Nasional di Yogyakarta, dan beberapa acara serupa yang masih rutin digelar.

Dikenal pula para pelukis kaligrafi Nasional, yakni Prof. Ahmad Sadali (Garut), Prof. AD Pirous (Aceh), Drs. H. Amri Yahya (Palembang), H. Amang Rahman (Surabaya) yang kemudian dilanjutkan oleh angkatan muda seperti Saiful Adnan, Hatta Hambali, Hendra Buana, dengan perubahan dan kaedah yang telah berkembang dari titik awalnya dan menjadikan Khathth sebagai salah satu seni kontemporer yang kian diminati hingga saat ini.

menara

menara